Breaking News

POLITIK Kampanye di GBK: SBY Sebut Tidak Inklusif, Gerindra Berdalih Tak Pro Khilafah 08 Apr 2019 17:09

Article image
Ketua DPP Partai Gerindra Fary Djemi Francis. (Foto: kompas.com)
Fary mengklaim kampanye kemarin adalah rekor kampanye politik terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Kampanye itu, lanjutnya juga merepresentasikan Pancasila dengan keragamannya.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coHanya karena dihadiri pendukung dari umat non-Muslim, Ketua DPP Partai Gerindra Fary Djemi Francis berdalih acara kampanye akbar, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4/2019) menjadi bukti bahwa capres-cawapresnya yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno tidak pro terhadap khilafah.

"Ada ribuan umat Kristiani yang hadir di sana. Ada doa lintas agama di sana. Mulai dari Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Mereka sama-sama memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Indonesia dijadikan negara damai, adil dan makmur di bawah kepemimpinan Prabowo-Sandi," kata Fary dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/4/2019).

"Pemandangan tersebut sekaligus membantah tudingan tentang isu khilafah yang sering difitnahkan kepada Prabowo-Sandi," sambungnya seperti dilansir merdeka.com.

Fary mengklaim kampanye kemarin adalah rekor kampanye politik terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Kampanye itu, lanjutnya juga merepresentasikan Pancasila dengan keragamannya.

"Selama ini berita yang muncul hanya tentang Salat Subuh berjemaah dan ceramah dari para ulama. Seolah kampanye Prabowo-Sandi menggunakan politik identitas dan hanya terbuka untuk keyakinan tertentu saja," ungkapnya.

 

Tidak lazim dan inklusif

Sementara itu Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono dalam surat yang ditujukan ke Ketua Wanhor PD Amir Syamsuddin, Waketum PD Syarief Hasan dan Sekjen PD Hinca Panjaitan mengatakan bahwa kampanye yang dilakukan Prabowo di GBK tidak lazim dan inklusif.

SBY menulis surat tersebut jelang kampanye akbar Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno untuk merespon susunan acara yang hanya menonjolkan satu agama saja.  

“Menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif,” kata SBY.

SBY meminta kepada Amir Syamsuddin, Syarief Hasan dan Hinca Panjaitan agar dapat memberikan saran kepada Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan beberapa hal. Di antaranya adalah memastikan penyelenggaraan kampanye nasional senantiasa mencerminkan "inclusiveness", dengan sasanti "Indonesia Untuk Semua", juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan, mencerminkan persatuan. "Unity in diversity". Serta mencegah adanya show of force identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim.

--- Simon Leya

Komentar