Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

POLITIK Kampanye di Kupang, “Mama Emi” Bicara Kekerasan Perempuan dan Anak 03 Apr 2018 10:25

Article image
Mama Emi ketika mengikuti ibadat Semana Santa di Larantuka. (Foto: Ist)
Walau dalam dua tahun terakhir kasus tersebut mengalami penurunan, yaitu dari 327 kasus (2016) ke 320 kasus (2017), angka tersebut masih terhitung tinggi.

KUPANG, IndonesiaSatu.coCawagub NTT nomor urut 2 Emelia Julia Nomleni mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak bisa dianggap remeh.

Imbauan ini disampaikan mantan anggota DPRD yang sering disebut “Mama Emi” tersebut dalam kampanye di Kupang, Sabtu (31/2/2018).

Menurut Emi, dari 2002 sampai dengan 2017, berdasarkan data yang dikeluarkan Rumah Perempuan Kupang, sudah terjadi 3.621 kasus kekerasan.Walau dalam dua tahun terakhir kasus tersebut mengalami penurunan, yaitu dari 327 kasus (2016) ke 320 kasus (2017), angka tersebut masih terhitung tinggi.

Menanggapi persoalan itu, cawagub NTT nomor urut 2 mengatakan peningkatan spiritualitas adalah solusi untuk mengurangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Untuk menghilangkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini, minimal mengurangi, bisa kita lakukan dengan belajar pada kebiasaan gereja maupun agama lain. Dalam gereja maupun agama lain, selalu diajarkan cinta kasih dan pembentukan spiritualitas," kata Mama Emi.

Menurut Mama Emi, persoalan psikologi dan spritualitas pelaku kekerasan menjadi penting untuk diteliti.

"Kita selama ini selalu berpikir, 'Oh, dia lakukan kekerasan, jadi harus dihukum seberat-beratnya.' Kita tidak pernah berpikir kehidupan spiritualitas pelaku kekerasan. Bagi saya ini sangat penting, karena kita langsung bersentuhan dengan inti permasalahan, yaitu pelaku kekerasan," jelasnya.

Sebagai seseorang yang mendalami betul ajaran agamanya, Mama Emi percaya apa yang dilakukan pihak gereja maupun institusi agama lain yang mengajarkan kasih sayang, merupakan sebuah solusi dari kasus kekerasan perempuan dan anak ini.

Menurut Mama Emi, yang membuat penting peran institusi agama dalam kasus kekerasan perempuan dan anak adalah, kecenderungan pelaku merupakan orang terdekat.

"Kasus kekerasan itu biasanya terjadi pada orang-orang terdekat. Pemerintah bisa saja mengintervensi dengan berbagai program, namun gereja maupun agama lainnya telah menunjukkan jalan yang baik. Mungkin karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menjalani ajaran cinta kasih," katanya.

"Pembinaan dari gereja, baik Katolik dan Protestan maupun Islam dan agama lain, mengajarkan kasih sayang. Bagaimana keluarga itu dibentuk, relasi, dan lain-lain. Di rumah itu ada didikan yang mengarah pada cinta kasih. Kalau gereja sudah memulai dengan spiritual yang kuat, maka bisa mendorong semua orang menciptakan kepedulian terhadap perempuan dan anak," imbuhnya.

Menurutnya, pendekatan melalui sejumlah stakeholder di luar pemerintah, seperti gereja, LSM, organsiasi komunal, baik di tingkat desa dan kecamatan, sangat diperlukan.

"Terus terang saja, tidak semua hal jadi tanggungan pemerintah semata. Yang saya pastikan itu, gereja sudah memulai cukup lama. Pemerintah itu biasanya lebih pendekatan formal. Dan bisa dilakukan dengan model pencegahan dan penanganan," katanya.

Ke depan, akan dibentuk kelompok-kelompok yang membicarakan khusus kasus kekerasan ini.

"Ini menjadi agenda besar dari kita. Kita akan membuat kelompok-kelompok yang terdiri dari banyak stakeholder, baik pemerintah, gereja, LSM, untuk mendorong dan menjaga perempuan dan anak dari kekerasan," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar