Breaking News

KOLOM Kandang Betlehem dalam Imajinasi Novelis Anne Rice 24 Dec 2018 21:32

Article image
Lokasi yang diyakini menjadi tempat kelahiran Yesus. (Foto: visitpalestine.ps)
Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud.

 

Oleh Simon Leya

 

KISAH kelahiran Yesus yang dirayakan pada malam Natal telah menjadi moment paling spektakuler dalam ritus Kristiani. Yang agak mengherankan, hanya dua penginjil yang memberikan perhatian pada peristiwa kelahiran Yesus, yakni Matius (1:18-25) dan Lukas (2:1-20).

Injil tidak banyak berkisah tentang kehidupan Yesus pada masa kecil dan remajanya, terutama periode antara pelarian Keluarga Nazareth ke Mesir hingga penampilan Yesus di muka umum. Hal inilah yang menginspirasi Anne Rice menulis sebuah novel berjudul CHRIST THE LORD – OUT OF EGYPT (2005) yang edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Penerbit Gramedia dengan judul: KRISTUS TUHAN: MENINGGALKAN MESIR (2006).

Setelah menyelesaikan dua siklus legenda yang menjadi fokus karirnya selama ini, Anne Rice mempersembahkan bukunya yang paling ambisius dan berani, novel tentang tahun-tahun awal kehidupan KRISTUS TUHAN, berdasarkan pada Injil dan Perjanjian Baru. Kekuatan buku ini bersumber dari semangat yang dibawa sang pengarang dalam penulisannya dan bagaimana ia memunculkan suara, keberadaan, dan kata-kata Yesus yang menceritakan kisahnya.

Dalam komentarnya, Kirkus Reviews menulis, “Imajinasi yang memukau dan takzim tentang tahun-tahun tersembunyi Yesus semasa kecil… Gaya bercerita yang memikat—prosanya ringkas dan hidup, juga dalam penokohannya… Kristus Tuhan adalah gabungan antara novel sejarah dan gaya baru Gospels in Brief karya Tolstoy; novel ini memunculkan Yesus sebagai seorang mistis, penyembuh, utusan, dan kanak-kanak… Kisah tentang anak yang berusaha memahami karunia dan mukjizat yang dimilikinya dan kelahirannya yang ilahiah…

Dengan novel ini, Anne Rice telah menemukan versi Yesus yang sangat meyakinkan; buku ini adalah fiksi yang tidak sekadar kisah, tapi lebih merupakan manifestasi keimanan.”

Injil hanya menyebut Yusuf dan Maria beserta bayi Yesus dalam kisah di kandang Betlehem. Namun sesungguhnya, Yusuf datang ke Betlehem bersama keluarga besarnya, di antaranya Kleofas yang adalah saudara laki-laki dari Bunda Maria dan Salome istrinya. Sebagaimana banyak orang lain yang tidak kebagian tempat di rumah-rumah, keluarga besar Yusuf  pun terpaksa menginap di kandang binatang, tempat yang tidak layak namun memberikan kehangatan di musim dingin.

Dalam novel ini, Yusuf dikisahkan pernah memiliki istri dan memiliki anak bernama Yakobus sebelum bertunangan dengan Perawan Maria. Dari Yakobus, Yesus mengetahui banyak tentang kisah masa kecilnya, termasuk peristiwa kelahiran di Kandang Betlehem yang tidak pernah diceritakan ibunya, Maria. Maria lebih memilih menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Berikut ini adalah salah satu cuplikan novel Anne Rice yang berkisah tentang percakapan antara Yesus dan Yakobus saudara tirinya.

------

“Para malaikat datang pada malam saat kau lahir," kata Yakobus kepada Yesus. "Kau sudah tahu ceritanya, mereka sudah mengatakannya padamu. Kami berada di sebuah penginapan di Betlehem, di kandang, dengan keledai dan binatang lain beralaskan jerami, kami semua, dan itu satu-satunya tempat yang tersedia malam itu, karena penginapan di seluruh kota penuh malam itu. Ibumu melahirkan di bagian belakang kandang. Dia tidak menangis ataupun menjerit sama sekali. Bibi Salome berada di sana membantunya, dan mereka mengangakatmu agar bisa dilihat ayahku, dan aku melihatmu.  Kau menangis, tapi seperti tangisan bayi baru lahir lainnya karena mereka belum bisa bicara. Mereka kemudian membungkusmu seperti mereka biasa membungkus bayi dengan kain agar tidak banyak bergerak dan melukai diri sendiri dan kau kemudian diletakkan di palungan, di atas jerami lembut sebagai alasnya. Ibumu berbaring di pangkuan Bibi Salome. Dan dia menangis untuk pertama kalinya. Sangat menyedihkan mendengar ibumu menangis.

“Ayahku mendekatinya. Ibumu sudah terbungkus kain, jubah dan kain yang digunakan untuk melahirkan  sudah disingkirkan. Ayahku memeluknya. ‘Mengapa harus di tempat ini?’ tangisnya. ‘Apakah kita melakukan kesalahan? Apakah kita dihukum karenanya? Mengapa di sini? Bagaimana ini bisa dibenarkan?’ Itulah yang ditanyakan ibumu  pada ayahku. Dan ayahku tak bisa menjawab.

“Sangat menyedihkan mendengar tangisannya,” lanjut Yakobus, “dan ayahku tak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya. Tapi tiba-tiba pintu terbuka, dan udara dingin menyerbu masuk, semua orang langsung meringkuk dan meminta pintu segera ditutup. Tapi di depan pintu berdiri beberapa orang, dengan seorang anak laki-laki yang membawa lentera. Orang-orang itu mamakai baju  dari bulu domba, dengan kaki terbungkus kulit domba untuk menjaga dari musim dingin, dan mereka membawa tongkat, semua orang bisa melihat mereka adalah para gembala.

“Kau tahu sendiri gembala tak pernah meninggalkan gembalaan mereka, apalagi di tengah malam musim dingin,  penuh salju. Tapi mereka berdiri  di sana, dan ekspresi wajah mereka membuat semua orang yang ada di kandang bangkit dari alas tidur mereka dan memandang terpana. Semua orang terpana, aku juga.

“Seakan-akan api lentera bersinar di wajah mereka!

“Mereka langsung menuju palungan tempat kau dibaringkan, dan mereka memandangmu; kemudian mereka berlutut, dan bersujud ke tanah dengan mengangkat kedua tangan.

“Mereka berseru, ‘Terpujilah Tuhan yang Maha Kuasa; dan damai di bumi, damai dan keselamatan untuk semua!’

“Semua orang memandang mereka.

“Ibumu dan ayahku tidak mengatakan apa pun kecuali memandang mereka; para pria itu kemudian berdiri dan menoleh ke kanan-kiri, mengatakan pada semua orang bahwa malaikat telah datang pada mereka  di ladang gembalaan, di tengah salju saat mereka mengawasi domba gembalaan mereka. Tak seorang pun bisa menghentikan cerita mereka, dan semua orang yang menginap di kandang berkumpul di sekitar mereka.

“Salah satu pria itu berseru bahwa malaikat itu mengatakan, ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud’”

“Para pria itu diliputi kegembiraan. Sangat bahagia. Penuh keyakinan. Tak seorang pun meragukan mereka. Dan memang tak seorang pun mempertanyakan cerita mereka.”

“Para gembala, mereka mengatakan Langit dipenuhi malaikat. Ada begitu banyak malaikat. Mereka mengembangkan tangan saat menceritakan itu, seakan-akan mereka melihat para malaikat itu lagi. Para malaikat itu bernyanyi: “Terpujilah Tuhan Yang Maha Tinggi! Dan damai di Bumi serta keselamatan untuk semua!”

“Bayangkan,” katanya dalam bahasa Yunani. “Seluruh Langit. Dan mereka melihatnya, dan datang ke Betlehem mencari bayi di palungan, seperti dikatakan malaikat.”

“Ke mana orang-orang itu pergi, para gembala yang menceritakan semua itu?” tanyaku. “Di mana mereka sekaranag? Siapa mereka?”

“Aku tidak tahu,” jawab Yakobus. “Mereka keluar menembus salju. Mereka menceritakan kisah itu pada semua orang. Aku tidak tahu mereka pergi ke mana. Aku tak pernah melihat mereka lagi. Mereka kembali ke domba-domba mereka. Mereka harus kembali.”

Dan Yusuf seperti biasanya, mendengarkan, dan tidak mengatakan apa pun. Saat semua orang di kandang bertanya padanya, dia tak menjawab. Orang-orang datang satu demi satu, berlutut untuk melihatmu, dan mereka berdoa, kemudian mereka kembali ke pojok dan bergelung dalam selimut mereka. Keesokan harinya kami menemukan tempat penginapan baru. Semua orang di kota sudah tahu tentang ini.  Orang-orang terus berdatangan, ingin melihatmu. Orang-orang tua datang, terhuyung-huyung dengan tongkat mereka. Anak-anak lain di kota juga tahu. Tapi kata Yusuf, kami tak akan lama tinggal di sana. Hanya sampai kau bisa disunat dan kami bisa mempesembahkan kurban di Bait Allah. Dan para majus dari Timur, mereka datang ke rumah tempat kami menginap. Kalau saja para majus itu tidak pergi ke Herodes…

 

Penulis adalah Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar