Breaking News

INTERNASIONAL Kardinal George Pell Bebas dari Penjara 07 Apr 2020 12:29

Article image
Kardinal George Pell. (Foto: ABC.net.au)
Kardinal Pell adalah figur yang sangat ditakuti banyak pemimpin di Australia, dia tidak segan-segan bicara dan kritik secara pedas kebijakan pemerintah.

MELBOURNE, IndonesiaSatu.co -- Kardinal George Pell akhirnya dibebaskan dari penjara setelah Pengadilan Tinggi Australia, dalam amar putusan yang dibacakan pada hari Selasa (7/4/2020) pagi menyatakan Pell tidak bersalah.

Sementara Kardinal Pell dalam keterangan singkatnya, mengatakan "ketidakadilan serius" telah diatasi saat ia dibebaskan dari penjara setelah pengadilan tertinggi negara itu membatalkan hukuman pelecehan seksual terhadapnya.

Seorang anggota Gereja Katedral Saint Patrick Melbourne yang dimintai komentarnya sehubungan proses hukum terhadap Kardinal Pell, kepada IndonesiaSatu.co mengatakan, secara pribadi dia terganggu dengan kasus ini.

“Saya kenal beliau, sangat disiplin. Semua tuduhan tidak masuk akal, baik berdasarkan bukti, protokol di katedral, dan rutinitas Kardinal Pell selama jadi Uskup Agung Melbourne.”

“Kardinal Pell adalah figur yang sangat ditakuti banyak pemimpin di Australia. Dia tidak segan-segan bicara dan kritik secara pedas kebijakan pemerintah. Banyak pemimpin dia ‘semprot’ tanpa ampun. Karena itu, dia banyak dibenci oleh tokoh-tokoh tertentu.”

Keputusan bulat telah dijatuhkan kurang dari sebulan setelah Pengadilan Tinggi Australia mendengar dua hari argumen hukum yang kuat dari pengacara dan jaksa penuntut Victoria.

Sebagaimana dilaporkan ABC.net.au (7/4/2020), saat sebelum jam 12:30 malam, Kardinal Pell dibebaskan dari Penjara Barwon, pergi dengan konvoi mobil yang dipimpin oleh Mercedes putih.

Tidak diketahui ke mana ia akan dibawa atau ke mana ia akan tinggal.

Sidang putusan yang tidak dihadiri pengunjung dijatuhkan oleh Ketua Hakim Susan Kiefel karena kebijakan jaga jarak fisik sebagai tanggapan terhadap pandemi virus corona.

Ruang sidang yang biasanya dapat menampung hingga 16 orang, hanya berisi tiga jurnalis untuk mendengar Ketua Hakim Kiefel menyampaikan putusan pada pukul 10:00 pagi.

Kardinal Pell (78), yang secara konsisten mempertahankan posisi tidak bersalah, menjalani hukuman penjara enam tahun setelah ia dihukum pada tahun 2018 karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap dua anggota paduan suara di sakristi gereja tahun 1990-an, ketika ia menjabat Uskup Agung Melbourne.

Juri memvonisnya pada 2018 - keputusan yang dijatuhkan Pengadilan Tinggi Victoria dalam keputusan dua banding satu.

Tetapi pengacaranya melakukan upaya hukum ke Pengadilan Tinggi, dengan alasan pengadilan banding gagal untuk mengambil bukti yang tepat dari bukti yang meragukan kesalahannya.

Hari ini Pengadilan Tinggi menjatuhkan putusannya, mengabulkan permohonan Kardinal Pell dengan suara bulat membebaskannya.

Kardinal Pell mengatakan 'satu-satunya dasar untuk keadilan adalah kebenaran'.

 

Pernyataan Kardinal Pell

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis tak lama setelah keputusan itu disampaikan, Kardinal Pell mengatakan dia memegang "tidak ada niat jahat" terhadap penuduhnya. Berikut ini pernyataan Kardinal Pell:

Saya secara konsisten mempertahankan ketidaksalahan saya sementara menderita ketidakadilan yang serius.

Ini telah diperbaiki hari ini dengan keputusan bulat Pengadilan Tinggi.

Saya menantikan untuk membaca penilaian dan alasan keputusan secara rinci.

Saya tidak memiliki niat buruk terhadap penuduh saya, saya tidak ingin pembebasan saya menambah rasa sakit dan kepahitan yang dirasakan banyak orang; pasti ada yang terluka dan cukup pahit.

Namun persidangan saya bukan referendum tentang Gereja Katolik; juga tidak ada referendum tentang bagaimana otoritas Gereja di Australia menangani kejahatan pedofilia di Gereja.

Intinya adalah apakah saya telah melakukan kejahatan yang mengerikan ini, dan saya tidak melakukannya.

Satu-satunya dasar untuk penyembuhan jangka panjang adalah kebenaran dan satu-satunya dasar untuk keadilan adalah kebenaran, karena keadilan berarti kebenaran untuk semua.

Terima kasih khusus untuk semua doa dan ribuan surat dukungan.

Saya ingin berterima kasih terutama keluarga saya atas cinta dan dukungan mereka dan apa yang harus mereka lalui; tim penasihat saya yang kecil; mereka yang berbicara untuk saya dan menderita sebagai akibatnya; dan semua teman dan pendukung saya di sini dan di luar negeri.

Juga terima kasih dan terima kasih saya yang terdalam kepada seluruh tim hukum saya atas tekad mereka yang tak tergoyahkan untuk melihat keadilan berlaku, untuk menyoroti ketidakjelasan yang dibuat dan untuk mengungkapkan kebenaran.

Akhirnya, saya menyadari krisis kesehatan saat ini. Saya berdoa untuk semua yang terkena dampak dan personel garis depan medis kami.

Kardinal George Pell

Dalam ringkasannya, Pengadilan Tinggi menyatakan hakim Pengadilan Banding Victoria "gagal untuk terlibat dengan pertanyaan apakah masih ada kemungkinan yang masuk akal bahwa pelanggaran tidak terjadi".

Pengadilan menemukan bahwa bukti saksi lain "tidak konsisten dengan laporan pengadu" dan menggambarkan bagaimana George Pell, yang saat itu adalah uskup agung Melbourne, akan menyapa umat paroki di tangga katedral, selama 15 menit setelah misa.

Tiga argumen pengacara  yang meyakinkan Pengadilan Tinggi Australia membebaskan Kardinal Pell sebagaimana tertera dalam amar putusan, yakni, pertama, Kardinal Pell punya kebiaaan menyapa umat di tangga gereja katedral selama 15 menit usai misa hari minggu.

Kedua, menurut kebiasaan yang sudah tetap dan historis dalam Gereja Katolik, adalah bahwa seorang Uskup Agung selalu ditemani ketika masih berpakaian misa di katedral.

Ketiga, lalu-lintas dan keluar-masuk orang yang terus-menerus dalam ruang sakristi selama 15 menit usai misa.

Karena itu, mustahil terjadi kasus sodomi di ruang sakristi seperti yang dituduhkan kepada Yang Mulia Kardinal Pell.

Mantan Perdana Menteri Tony Abbott, yang mendukung Kardinal Pell selama proses hukum termasuk mengunjunginya di penjara, berbicara singkat kepada wartawan di rumahnya di Sydney setelah putusan itu.

"Begitulah yang terjadi dan akan terjadi, tetapi hari ini hanya satu hari untuk membiarkan putusan Pengadilan Tinggi berbicara sendiri," kata Abbott.

--- Simon Leya

Komentar