Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

HUKUM Kasus Dugaan Penghinaan di Medsos Mulai Disidangkan, Korban Harapkan Keadilan 19 Jun 2018 13:13

Article image
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (Foto: Ilustrasi)
“Saya mengharapkan keadilan hukum ditegakan di Ngada tanpa memandang latar belakang apa pun. Hukum harus ditegakan, tidak boleh diintervensi oleh kepentingan apa pun, dan tidak boleh diskriminatif terutama terhadap martabat dan hak hukum korban," harap I

NGADA, IndonesiaSatu.co-- Kasus dugaaan penghinaan melalui media sosial (medsos), Facebook, yang dilaporkan oleh korban Theresia Maya terhadap admin group publik Facebook, Ngada bangkit dengan nama akun Lothar Immateus Geu (Pius Matheus Geu), sejak 23 Agustus 2017 lalu mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Bajawa, kabupaten Ngada, Rabu (6/6/18).

Kepolisian Resor Ngada melalui Kanit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polres Ngada, Jack Sanam membenarkan bahwa kasus penghinaan dan atau pencemaran nama baik melalui media sosial Facebook yang dilaporkan oleh korban Theresia Maya dengan nomor laporan LP/123/VIII/2017/NTT/Res Ngada pada 23 agustus 2017 telah memasuki agenda sidang di Pengadilan Negeri dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli.

Sebagaimana diberitakan media cetak Flores Pos, Senin (4/6/18), Jack menuturkan bahwa dalam kasus tersebut, terlapor Pius Matheus Geu selaku Admin group publik Facebook Ngada Bangkit (akun Lothar Immateus Geu), pada pada Agustus 2017 lalu meng-upload sebuah status ke dalam group Ngada Bangkit dengan kata-kata yang mengandung penghinaan dan provokatif.

Beberapa hari kemudian, korban membaca status tersebut dan memperhatikan pelbagai komentar di group tersebut. Korban merasa terhina lalu melaporkan kasus tersebut kepada polres Ngada pada 23 Agustus lalu.

Wakapolres Ngada, I Nyoman Surya Wirawan pada kesempatan itu mengatakan bahwa kasus tersebut ditangani oleh penyidik pembantu saat itu yakni Tipidter, Yuliardi bersama anggota dan selanjutnya ditangani oleh Kanit Jack Sanam hingga saat ini.

Diterangkan Wirawan bahwa Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dikirim pada 26 Januari 2018 dan selanjutnya mengirim berkas perkara pada 28 Februari 2018. Berkas perkara kemudian dikembalikan oleh pihak kejaksaan pada 3 Maret. Selanjutnya, pada 27 April 2018, berkas perkara kembali diserahkan kepada pihak kejaksaan. Pada 17 Mei 2018, berkas perkara dinyatakan lengkap (P21) sehingga pada 21 Mei penyidik melakukan penyidikan tahap II.

Harapkan Keadilan

Dalam keterangan kepada media ini, Senin (18/6/18), korban Theresia Maya menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya tidak mengetahui jika komentarnya terhadap postingan Rajawali Ngada di-screenshoot oleh admin group Ngada Bangkit lalu tanpa seizinnya, komentarnya di-upload ke group Facebook Ngada Bangkit dengan nada penghinaan dan provokatif sehingga mengundang reaksi dan komentar berbagai anggota group tersebut yang memojokkan dirinya.

“Ini soal etika di media sosial yang tetap menghargai martabat dan hak orang lain. Saya pada dasarnya memiliki niat baik untuk diselesaikan secara kekeluargaan, namun yang bersangkutan tidak merespon baik sehingga saya menempuh jalur hukum. Ini soal nama baik dan harga diri saya,” ujarnya.

Ibu beranak tiga yang sudah puluhan tahun bekerja di kabupaten Ngada ini mengaku, melalui proses hukum dirinya mengharapkan pemulihan nama baik serta keadilan sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) melalui media sosial.

“Saya mengharapkan keadilan hukum ditegakan di Ngada tanpa memandang latar belakang apa pun. Hukum harus ditegakan, tidak boleh diintervensi oleh kepentingan apa pun, dan tidak boleh diskriminatif terutama terhadap martabat dan hak hukum korban. Hukum harus memberi efek jera supaya menjadi pelajaran publik terutama etika dalam menggunakan media sosial,” harapnya.

Ia mengatakan bahwa sidang perdana pada di Pengadilan Negeri Bajawa yang digelar pada Rabu (6/6) dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli akhirnya ditunda hingga 27 Juni mendatang. Menurutnya, jadwal sidang pada tanggal tersebut tentu ditunda karena bertepatan dengan momen penyelenggaraan Pilkada serentak.

“Saya mengharapkan transaparansi dan kepastian hukum. Ini menyangkut suara kaum kecil yang merasa dipelakukan secara diskriminatif dan membutuhkan perlindungan hukum,” harapnya.

Sementara Direktur Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, Gabriel Sola, kepada media ini mengatakan, mendukung langkap Kapolres Ngada melalui Kanit Tipidter dan Pengadilan Negeri Bajawa guna memastikan upaya penegakan hukum yang ditempuh oleh korban Theresia Maya.

“Hukum harus ditegakan tanpa diintervensi oleh kepentingan apa pun. Semua memiliki hak yang sama di mata hukum. Langkah penegak hukum harus didukung untuk mengembalikan martabat dan citra hukum di kabupaten Ngada. Kasus ini menjadi pintu masuk penegakan hukum di Ngada dengan tidak mengabaikan hak-hak hukum korban,” tandas Gabriel.

--- Guche Montero

Komentar