Breaking News

HUKUM Kasus Korupsi Pembangunan NTT Fair, Jaksa Tetapkan Enam Tersangka 16 Jun 2019 10:07

Article image
Kejati NTT menetapkan enam tersangka kasus korupsi pembangunan gedung NTT Fair. (Foto: VN)
Kerugian negara akibat korupsi dalam kasus itu mencapai miliaran rupiah.

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Tim penyidik khusus Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) menetapkan enam orang tersangka dalam kasus korupsi pembangunan gedung NTT Fair di Bimoku, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Aspidsus Kejati NTT, Sugiyanta, Kamis (13/6/19) petang di kantor Kejati NTT usai penetapan tersangka mengatakan bahwa enam orang yang ditetapkan sebagai tersangka yakni HP selaku pemilik PT. Cipta Eka Puri, LL sebagai kuasa direktur PT. Cipta Eka Puri (kontraktor pelaksana), BY sebagai Direktur Konsultan Pengawas, FB selaku Konsultan pengawas, YA selaku kuasa pengguna anggaran, dan DT sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

“Kita sudah tetapkan enam orang sebagai tersangka. Selama ini lima orang selalu kooperatif sehingga hari ini baru ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan LL (yang ditangkap di Jakarta) sudah kita tetapkan tersangka sejak hari Senin (10/6/2019) lalu,” jelasnya.

Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT, Wijaya mengatakan, tersangka LL ditangkap karena tidak kooperatif dengan jaksa. Selain itu, LL juga diketahui memiliki 10 nomor telepon genggam untuk melakukan komunikasi.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Febrie Ardiansyah mengatakan, pihaknya terus menyelidiki dugaan kasus korupsi pembangunan Gedung NTT Fair di NTT.

Sebanyak 25 orang saksi telah diperiksa, termasuk mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Seperti diketahui, Gedung NTT Fair dibangun sejak Mei 2018 dengan anggaran senilai Rp 31 miliar. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan yakni Desember 2018, proyek belum rampung.

Kemudian, proyek diperpanjang selama 50 hari  dan ditambah lagi 40 hari. Namun, kontraktor tidak mampu merampungkan pekerjaan.

Progress pembangunan gedung per 31 Maret 2019 hanya mencapai 54,8 persen. Sementara itu, anggaran pembangunan gedung ternyata sudah cair 100 persen.

Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Wijaya mengatakan, kerugian negara akibat korupsi dalam kasus itu mencapai miliaran rupiah.

"Berdasarkan hitungan ahli, negara mengalami kerugian sebanyak Rp 6 miliar," ungkap Wijaya seperti dilansir Kompas.com.

Wijaya menjelaskan, Kejati NTT masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus itu, dengan meminta masukan dari tim ahli dan juga saksi.

Salah satunya dengan memeriksa dan meminta keterangan dari mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Sekretaris Daerah NTT Benediktus Polo Maing.

 

 

 

--- Guche Montero

Komentar