Breaking News

TAJUK Kejahatan Dilakukan Orang Baik 21 Dec 2018 12:16

Article image
Menurut Arendt, kejahatan bisa datang dari orang-orang baik. (Foto: Ist)
Masyarakat harus tetap berada dalam kewarasan, agar dapat memilih pemimpin berintegritas dan berkompeten demi kemajuan bangsa.

PERTANYAAN ini terkesan mengherankan sekaligus kontradiktif. Bukankah kebaikan berlawanan dengan kejahatan? Bukankah orang baik selalu mengusahakan kebaikan bagi sesamanya? Mengatakan orang baik mendatangkan kejahatan tampak tidak masuk akal!

Tetapi di mata filsuf perempuan Hannah Arendt (1906-1975), pernyataan ini dapat dibenarkan. Arendt membuktikannya dalam bukunya yang tersohor, Eichmann in Jerusalem (1962). Menurut Arendt, kejahatan dapat muncul dari orang baik. 

Pandangan Arendt ini tidak datang secara kebetulan. Bukunya ini ditulis ketika ia menjadi jurnalis yang meliput pengadilan bersejarah terhadap Adolf Eichmann (1961-1963). Eichmann adalah salah satu loyalis pemimpin Nazi terbesar Adolf Hitler. Mereka bertanggung jawab atas genosida terbesar sepanjang sejarah manusia, di mana enam juta orang Yahudi dimusnahkan di kamp konsentrasi. 

Setelah Hitler kalah perang dari gabungan sekutu USA dan Uni Soviet, Eichmann melarikan diri ke Argentina dan Serbia. Di sana ia memalsukan identitas dirinya. Dalam investigasinya, Arendt menemukan keterkejutan dari para tetangga ketika mengetahui sosok Eichmann sebagai salah satu penjagal manusia terkejam sepanjang sejarah. Karena karakter Eichmann ketika hidup bersama mereka sangat santun dan religius. 

Eichmann ditangkap intelijen Israel dan diadili di Israel. Ia dituntut mempertanggungjawabkan kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya. Di pengadilan Israel, Eichmann kukuh menolak bahwa perbuatannya tersebut salah. "Saya tidak bersalah membunuh orang Yahudi, karena saya mengikuti aturan/perintah."

Dari pengalaman inilah Arendt menyebut satu istilahnya yang terkenal: Banalitas kejahatan (banality of evil). Term ini dipakai Arendt kepada sosok Eichmann yang tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Arendt menyimpulkan: kondisi ini terjadi ketika manusia menganggap kejahatan/kekerasan yang dilakukan, sebesar apapun tetap bukan kejahatan. Kejahatan itu sesuatu yang lumrah, normal, biasa saja. 

Mengapa terjadi? Arendt punya pendapat tersendiri. Banalitas kejahatan ada karena adanya ideologi yang totaliter-monologal. Ideologi totaliter artinya paham atau aliran yang menuntut kesamaan pemahaman dan karena itu menuntut kepatuhan. Ideologi ini bersifat tertutup karena mengandaikan para anggotanya setia dan taat. 

Karena itu para anggota dituntut menyerahkan dirinya kepada kelompok tempat ideologi tersebut bernaung. Karena taat dan patuh, ia merindukan sosok pemimpin totaliter yang menjadi rujukan satu-satunya. Anggota tunduk patuh pada pemimpin.

Misalnya: anggota melakukan demonstrasi bukan karena kesadaran politik, tetapi karena perintah pemimpin. Orang menghina agama lain, bukan karena kebencian atau dendam, tetapi karena pemimpin (ideologi) mengharuskan demikian. Pada tataran ini, orang baik pun bisa menghasilkan kejahatan. 

Maka situasi banalitas kejahatan menyasar pada upaya sistematis menghilangkan kemampuan manusia yang paling khas, yakni kemampuan berpikir. Kondisi ketidakberpikiran melemahkan kapasitas manusia untuk berpikir. Tujuannya adalah manusia tidak dapat berpikir atau menilai tindakannya sendiri. 

Hanya dalam posisi ini, seorang teroris yang dikenal baik di lingkungannya bisa berubah fantastis menjadi pembunuh. Atau seorang agamawan yang saleh tiba-tiba menjadi intoleran. Ia membunuh bukan atas benci, tidak suka, tapi karena ideologinya menutup aksesnya untuk berpikir dan mengevaluasi diri. Orang-orang baik dapat berubah kejam atau jahat jika kemampuan berpikir dirampok secara sengaja. 

Apakah situasi ini dapat diselesaikan? Bagi Arendt, satu-satunya cara menghadapi banalitas kejahatan, adalah melalui tindakan komunikatif. Komunikasi publik membuka akses bagi manusia untuk bertemu yang lain, menemukan persepsi baru, dan diajak untuk berpikir.

Arendt yakin bahwa kondisi berpikir dapat dicapai apabila terjadi komunikasi di antara manusia. Kondisi berpikir mendatangkan sikap kritis-reflektif terhadap ideologi tertutup. Kecenderungan tunduk buta dijauhkan dari masyarakat.

Dalam konteks Pilpres dan Pileg 2019, bahaya banalitas kejahatan dalam politik semakin mengintai. Maka kanal-kanal komunikasi antarwarga harus dibuka, agar kewarasan masyarakat tetap terjaga.

Masyarakat yang berpikir rasional-kritis sangat diperlukan untuk memilih pemimpin berintegritas dan berkompeten demi kemajuan bangsa. 

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar