Breaking News
  • Kemkominfo tunggu Telegram sampai bulan depan
  • KPK ajukan banding terhadap vonis Irman & Sugiharto
  • KPK pantau penanganan kasus korupsi di Malut
  • PKB dan NU siap ke Palestina
  • Presiden akan hadiri Pekan Nasional Perubahan Iklim

SASTRA Keluarga Pemungut Batu (Cerpen) 25 Dec 2016 10:58

Article image
"Sembari berharap mereka benar-benar bukan keturunan batu dan tidak kembali menjadi batu." (Foto: Ist)
Batu-batu kerikil yang biasa mereka kumpulkan selama ini, yang kemudian dijual ke para sopir truk, tak lagi tersedia. Lahan tempat batu-batu itu berada telah disulap menjadi parade bangunan mewah nan hiruk-pikuk.

Oleh Elvan De Porres

 

SEMENJAK gedung-gedung berdiri di kampung, keluarga itu kewalahan menghidupi nasibnya sendiri. Batu-batu kerikil yang biasa mereka kumpulkan selama ini, yang kemudian dijual ke para sopir truk, tak lagi tersedia. Lahan tempat batu-batu itu berada telah disulap menjadi parade bangunan mewah nan hiruk-pikuk. Penghasilan keluarga itu sebagai penjual batu kerikil jadinya merosot. Lantas batu-batu kerikil itu sendiri telah melebur bersama tanah. Entah jadi artefak atau liat atau istilah keren apa saja biar bisa dikenang.

Batu kerikil adalah sumber nyawa bagi keluarga tersebut. Setiap hari, mereka satu keluarga bergumul bersamaterik dan hujan dan tak jemu-jemunya mengumpulkan kerikil-kerikil itu. Dua sampai tiga trukakan datang mengangkut bila batu-batu telah digerombol dalam jumlah banyak. Biasanya seminggu sekali. Dan kerikil di kampung itu tak pernah habis jumlahnya. Nama kampung itu saja Kampung Kerikil. Di mana-mana, kerikil-kerikil berseliweran, berserakan, bahkan berserobok satu sama lain.

Keluarga itu memang terkenal dengan profesi juga keuletannya sebagai pemungut batu. Mereka bekerja keras dan penuh semangat. Batu-batu di pinggir jalan dari ujung pukul ujung kampung diangkut ke karung-karung mereka. Juga yang bertebaran di lahan-lahan kosong milik warga. Bahkan, batu-batu besar yang juga tak kalah jumlahnya berusaha dipecahkan biar jadi kerikil.

Dan para warga bergembira. Semakin banyak batu-batu itu diangkut, lahan mereka akanlebih elok kelihatannya. Tentu saja, mereka pun berpikir untuk menggarapnya kelak. Suatu saat nanti. Sebab, selama ini, lahan-lahan itu hanya dibiarkan berdiri kosong. Sebenarnya bukan karena adanya batu-batu itu, melainkan mereka adalah orang-orang sibuk. Juga karena rasa malas.

Keluarga itu tak punya tanah dan hanya bisa mengais dari lahan para orang kampung itu. Barangkali benar bahwa bertahan hidup memang butuh jiwa spartan yang tak kenal gengsi juga cibiran lintang pukang yang hanya bikin pening kepala. Orang-orang yang sempat melintas di kampung itu pasti keheranan atau takjub atau bingung atau menggelengkan kepala atau mengernyitkan dahi atau membuang ludah seperti kelakuan pejabat kota, tiap kali melihat keluarga itu berduyun-duyun membetoti kumpulan batu kerikil. Keluarga itu sudah terbiasa dengan reaksi-reaksi begitu. Bagi mereka, itu adalah hal wajar bagi orang-orang yang tak pernah mengerti bahwa hidup ini keras dan mesti diperjuangkan. Sama seperti bagaimana memecah-belah bebatuan besar dengan hamar. Sama seperti bagaimana mengangkut kerikil-kerikil itu, lalu dipajang di depan rumah mereka. Sama seperti menebarkan senyum penuh pesona kepada para sopir truk setiap kali negosiasi pun transaksi jual beli terjadi.

Sudah sepuluh tahun lebih, mereka menggeluti pekerjaan itu. Itu terjadi semenjak sang ayah di-PHK dari pabrik tahu tempatnya bekerja. Dan sekali lagi, kerikil-kerikil itu tak pernah habis jumlahnya. Itulah yang menjadikan nama Kampung Kerikil santer di mana-mana. Barangkali itu anugerah. Barangkali itu hadiah. Barangkali itu juga jadi ihwal misterius yang memang tak bisa diperkarakan dengan dalil ilmiah dan pikiran rasional. Selain itu, kisah tentang keluarga pemungut batu pun turut menjadi perbincangan di mana-mana. Seiring dengan ketenaran Kampung Kerikil yang katanya punya rahim untuk lahirkan batu-batu baru. Tentu, narasi mistis semacam itu akan laku di mana-mana. Sontak diperdebatkan, digosipkan, dibuat analisis macam-macam.

Cerita-cerita dari zaman baheula pun dibentang. Bahwa dulu kampung itu sebenarnya sebuah bukit batu yang besar yang runtuh akibat hentakan gempa bumi dahsyat. Atau, orang-orang kampung dulu adalah para pekerja jalan saat masa kolonialisme. Mereka memecahkan batu-batu dan menyusunnya membentuk jalan raya. Tapi, mereka semua terbunuh dan darah-darah mereka disebarkan sepanjang jalan.

Ada pula yang menyatakan Kampung Kerikil muncul dengan sendirinya dan ditemukan oleh seorang ahli kitab dari Timur Tengah. Gunjang-gunjing lain tentang keluarga itu pun tak kalah sengitnya. Katanya, sang keluarga punya jimat yang bisa menggandakan batu-batu kerikil. Ada juga desas-desus bahwa nenek moyang mereka berasal dari batu. Perkara kedua itulah yang lebih banyak berterima dalam obrolan-obrolan masyarakat. Orang-orang kampung yakin dan percaya bahwa keluarga itu memang keturunan batu. Lalu, mengumpulkan batu adalah semacam kutukan dari nenek moyang mereka.

Pokoknya, beragam tilikan kisah menjadi warna yang mengiringi pembicaraan orang-orang tentang Kampung Kerikil dan keluarga pemungut batu tersebut. Namun, seperti biasa, tak ada respon dari keluarga itu. Yang mereka lakukan hanyalah fokus pada kerja keras dan penuh semangat.

Musababnya, keluarga itu menaruh harapan tinggi terhadap kerikil-kerikil itu.

“Nanti, kami makan dari mana? Bagaimana cara kami bertahan hidup kelak?”

“Gosip-gosip yang beredar tentang Kampung Kerikil tidak benar semuanya”, begitulah kata-kata sang kepala keluarga ketika saya wawancarai lima bulan lalu.

Sebagai seorang jurnalis lepas yang tertarik akan hal-hal mistis juga kisah-kisah misterius, saya memang merasa perlu menemui keluarga itu. Bertemu langsung dan menanyakan banyak hal demi memperoleh informasi dan konfirmasi yang tepat. Tak lupa, saya juga bertemu beberapa tokoh kampung. Dan mereka turut mengatakan hal yang sama bahwa cerita-cerita yang berseliweran itu tak benar adanya.

“Sebenarnya, orang-orang yang suka membicarakan itu merasa sinis sekaligus iri terhadap nasib keluarga pemungut batu. Sebab, mereka itu keluarga miskin tapi mau bekerja keras”, demikian kata salah seorang tokoh masyarakat di situ.

Percakapan pun berlanjut tentang nama dan sejarah Kampung Kerikil. Tapi, itu memang tak penting diperkarakan di sini. Lantaran, pemberian nama itu karena memang di kampung itu terdapat banyak kerikil. Itu saja. Tak ada gerundelan-gerundelan lain lagi seputar itu. Saya pun paham. Setidaknya, beberapa potongan informasi bisa saya dapatkan untuk kepentingan penulisan seputar tetek-bengek mistisisme perkampungan. Saya kemudian balik ke kota untuk merencanakan kunjungan ke kampung-kampung lainnya.

Namun, seminggu kemudian, saya mendengar kabar bahwa tanah-tanah di Kampung Kerikil telah digusur. Pabrik-pabrik mulai didirikan. Wilayah kosong dipadatkan. Orang-orang kampung telah menjual tanahnya kepada para pengusaha. Pembangunan berjalan begitu cepat. Mereka bahagia sebab bisa mendapatkan banyak uang dalam momen sekejap. Sebuah negosiasi singkat dan transaksi sepakat. Semuanya terjadi begitu saja.

Kampung Kerikil telah berubah total. Beragam jenis pabrik juga perumahan-perumahan elite tersedia di sana. Setiap hari, wajah-wajah baru lalu-lalang. Mereka adalah para pekerja yang datang dari mana saja. Pagi, siang, dan malam hari, suasana di Kampung Kerikil tak pernah sepi. Apalagi kehadiran tempat-tempat hiburan juga menghiasi kampung itu. Orang-orang kampung riang bukan kepalang. Mulai dari kesenangan kecil berupa pasar malam hingga bilik-bilik penyaluran naluri syahwat.

Narasi mengenai keluarga pemungut batu sepertinya lenyap seketika. Tak ada lagi yang membicarakan. Tak ada pula yang memperhatikan. Hingar-bingar dan euforia berdirinya gedung-gedung lebih menarik perhatian orang-orang kampung. Orang-orang itu telah menjadi semacam bunglon perkotaan.

Saya akhirnya datang lagi untuk memastikan desas-desus itu. Memang beberapa tahun belakangan ini, agenda pembangunan dan industrialisasi telah jadi magnet menarik untuk mengukur maju tidaknya sebuah daerah. Semua kepala daerah berlomba-lomba untuk membangun wilayahnya tanpa henti. Demi tunjukkan bukti bahwa daerahnya bisa bersaing dalam pentas apa saja.

Saya berjalan-jalan di tengah kampung dan mencoba mengobrol dengan beberapa warga yang saya temui. Dan mereka merasa bangga akan pembangunan di daerahnya. Mereka bisa menjadi kaya raya secepat kilat berkat hasil penjualan tanah dan menikmati semaraknya gedung-gedung besar seperti wilayah perkotaan. Sungguh luar biasa, perubahan telah terjadi dalam pusaran waktu yang cepat. Beberapa bulan saja.

Tak lupa, saya juga mencoba mencari tahu keberadaan keluarga pemungut batu yang pernah diwawancari dulu. Tapi, tak satupun orang-orang kampungitu yang tahu akan keberadaan mereka. Kesannya tak peduli. Acuh tak acuh.

Rumah keluarga itu juga tak ada lagi. Telah berubah menjadi tempat orang-orang main biliar. Saya menghubungi para tokoh kampung, tapi mendapatkan jawaban yang sama. “Keluarga itu hilang semenjak gedung-gedung pembangunan beroperasi di sini. Mereka tak punya penghasilan yang tetap. Mereka menjadi sangat miskin. Ke mana mereka pergi, kami tak tahu.”

Saya pulang hari itu juga. Malam itu, beberapa botol bir saya habiskan seorang diri di ruang kerja saya. Dengan pikiran yang pening dan berantakan. Berkas-berkas tentang Kampung Kerikil bertebaran di atas meja. Saya bingung hendak menulis apa dan mulai dari mana. Saya berpikir, barangkali kisah Kampung Kerikil dan keluarga pemungut batu itu memang bukan tentang tetek-bengek perkara mistis. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk pergi lagi ke Kampung Kerikil. Semoga bisa menemukan keluarga pemungut batu itu. Sembari berharap mereka benar-benar bukan keturunan batu dan tidak kembali menjadi batu.

Sonia Cafe, 2016

*Elvan de Porres adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Flores, NTT dan bergiat pada Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere.

 

 

Komentar