Breaking News

PARIWISATA Kemenpar dan KLH Dukung Upgrade TN Komodo Jadi Destinasi Premium 24 Nov 2019 13:32

Article image
Seminar Garda NTT dan Kemenpar mengangkat tema kesiapan SDM NTT untuk mendukung pariwisata premium. (Foto: sandy)
Kunjungan wisatawan ke TN Komodo akan dibatasi, eksklusif dengan sistem booking online. Namun rate akan dinaikan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Peningkatan status kawasan wisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo sebagai destinasi Pariwisata Premium membutuhkan SDM asli NTT yang handal dan mampu berdaya saing, terlatih dan memilki attitude yang baik dalam rangka merealisasikan pelayanan jasa bagi tamu domestik maupun mancanegara.

Demikian intisari diskusi yang digelar oleh Gerakan Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (GARDA NTT) bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam seminar sehari dengan tema “Menyiapkan Sumber Daya Manusia NTT Untuk Memenuhi Standar Pariwisata Super Premium” di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, Sabtu, (23/11/2019).

Tampil sebagai pembicara utama dalam seminar ini, antara lain Frans Teguh, Staf Ahli Bidang Kemaritiman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Julianti Siregar selaku Kasubdit Pemanfaatan Wisata Alam, Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Frans Teguh dalam paparannya menjabarkan mengenai tantangan pariwisata di kawasan Labuan Bajo dan TN Komodo, salah satunya adalah komitmen untuk tetap menjaga kekhasan daerah wisata yang tidak dapat ditemui di tempat lain.

"Dengan demikian, para wisatawan terpanggil untuk melakukan spending dan ingin kembali lagi berlibur ke Labuan Bajo," kata Frans.

Dia mengungkapkan, Pariwisata masih menjadi penghasil devisa terbesar. Proyeksi untuk tahun 2019, devisa yang dihasilkan bisa mencapai 20 miliar dolar AS.  Saingan berat Indonesia adalah Thailand yang sudah menghasilkan 40 miliar dolar AS.

"Wisata NTT seperti TN Komodo juga bisa memberikan kontribusi jika dikelola dengan baik,”ujar Frans.

Menurutnya, 5 tahun ke depan pariwisata TN Komodo dapat menarik turis berkualitas dengan angka spending yang besar sehingga bisa menyumbang devisa bagi Indonesia dan tentu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

“Karena itu kita juga perlu berikan service terbaik dan kita kaitkan dengan hospitality. Beri layanan hingga detail. Tentunya dilengkapi dengan skill sehingga sumber daya manusia juga berkualitas,” pungkasnya.

Ekowisata Premium

Sementara Julianti mengatakan, KLHK saat ini terus melakukan pengelolaan terhadap Taman Nasional Komodo untuk menjadi ekowisata kelas dunia dan kelas premium seperti yang sudah digaungkan oleh Gubernur NTT.

Menurutnya, tugas KLHK saat ini berpedoman pada visi KLHK yakni menjadi ekowisata kelas dunia kebanggaan nasional yang terdepan dalam tata kelola kawasan konservasi serta menjalankan misi antar lain melindungi sumber daya alam.

“Dalam menjalankan visi misi ini kami juga berppegang pada lima prinsip yang disingkat KOOPER yakni Konservasi, Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas berbasis pariwisata, Ekonomi yang menggerakkan pariwisata, Edukasi dan Rekreasi,” urai Julianti.

Hingga saat ini KLHK telah mengkaji daya dukung pada 23 titik dari 42 titik diving dan snorkeling, serta 9 dari 15 jalur trekking yang terdapat di kawasan wisata Taman Nasional Komodo.

Untuk mengembangkan pariwisata di TN Komodo, lanjut Julianti pihaknya juga menggandeng Kementerian PUPR dalam merancang pengembangan sarana prasarana di Labuan Bajo.

"Nanti ke depan yang mau ke Komodo pake siatem daftar online. Jadi diatur jumlah pengunjung, tetapi ratenya dinaikan," katanya.

Pelatihan SDM

Sementara itu, Wilfrid Yons Ebit, Ketua Garda NTT dalam sambutannya sangat berharap pemerintah melalui kementrian terkait untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda NTT untuk belajar, mendapatkan bimbingan sehingga dapat menjadi pelaku pariwisata di NTT.

"Kami berharap tidak habis pembahasan mengenai pariwisata di NTT di seminar ini saja. Kami minta ada kelanjutannya. Jangan sampai kami hanya jadi penonton di NTT. Karena kami tidak tau apa itu pariwisata, apalagi premium. Maka berilah kami pelatihan baik untuk langsung menjadi pelaku pariwisata, atau setidaknya enterpreneur yang mendukung sektor pariwisata," pungkas Ebit.

--- Sandy Romualdus

Komentar