Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

MODE Kerajinan Tenun Khas Daerah Kian Diminati 30 Jul 2016 15:29

Article image
Tenun khas daerah di Thamrin City. (Foto: Istimewa)
Aneka produk kerajinan tenun masih perlu terus dipromosikan ke pasar dalam negeri dan luar negeri agar semakin dikenal dan semakin memajukan industri kreatif yang berbasis di daerah-daerah di Indonesia.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Kerajinan tenun khas daerah yang ada di pusat belanja Thamrin City semakin diminati. Omzet yang diraih dari penjualan tenun khas daerah tersebut kian meningkat. Ada beberapa tenun khas daerah yang diburu konsumen, seperti daerah NTT, Papua, Bali, dan beberapa daerah lainnya.

General Manager Thamrin City Adi Adnyana mengatakan, pihaknya terus mendorong berkembangnya usaha-usaha kerajinan tenun khas daerah yang tumbuh subur di Indonesia. Pusat belanja yang terletak di dekat Bunderan Hotel Indonesia itu memang sejak awal memberikan keleluasaan dan kemudahan-kemudahan bagi para pengrajin tenun dari berbagai penjuru tanah air untuk menjual hasil-hasil kerajinan tenunnya.

"Sejak awal memang para pengrajin tenun dari berbagai daerah yang terkenal dengan kerajinan tenunnya kami undang untuk menghadirkan produk-produk khas kerajinan daerahnya di Thamrin City melalui kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk semakin dekat dengan pasar di Jakarta," ujar Adi Adnyana, di Jakarta, Sabtu (30/7).

Pada awalnya, kata Adi Adnyana, para pengrajin diundang melalui pemerintah daerah untuk mengikuti pameran-pameran di Thamrin City dan berlanjut dengan menjual barang di lapak dan toko tanpa dikenakan biaya sewa selama beberapa bulan.

"Kerjasama dengan para pengrajin sangat baik sehingga dalam tahun-tahun berikutnya Thamrin City sudah ramai oleh para pengrajin tenun yang menjual hasil tenunnya langsung kepada konsumen di Jakarta dan luar negeri," kata Adi.

Adi menilai, aneka produk kerajinan tenun masih perlu terus dipromosikan ke pasar dalam negeri dan luar negeri agar semakin dikenal dan semakin memajukan industri kreatif yang berbasis di daerah-daerah di Indonesia." Kerajinan tenun ini menjadi keunggulan Indonesia yang harus terus dipromosikan dan didukung perkembangan usahanya oleh semua pihak," katanya.  

Adi mengakui, potensi pasar tenun masih sangat terbuka dan pihaknya memberikan dukungan untuk semakin mengenalkan aneka produk tenun yang dijual di Thamrin City. "Sebagai bentuk dukungan kami akan terus memberikan kemudahan usaha dan promosi di Thamrin City sebagai sentra tenun yang bertaraf nasional yang menampung aneka kerajinan tenun Nusantara," katanya.

 

Omset Mencapi Rp 300 Juta per Bulan

Semakin maju dan berkembangnya usaha kerajinan tenun dirasakan Taufiq pemilik toko Gapuro di Lantai 1 Thamrin City yang menjual aneka produk kerajinan tenun Jepara dengan motif Nusantara. " Di sini kami menjual tenun dengan motif Papua, NTT, Bali, Batak, dan daerah lainnya," papar Taufiq yang merupakan generasi ketiga dari usaha kerajinan tenun keluarganya di Jepara.

"Kami membuat tenun Jepara dengan motif Nusantara seperti Papua, NTT, Bali, Batak, dan lainnya yang ternyata sangat disukai oleh turis-turis asing," ujarnya sambil menambahkan motif blangket saat ini paling laris terjual.

Ciri -ciri kerajinan tenun Jepara, lanjut Taufiq, yang didominasi oleh garis-garis lurus dan segitiga semakin menarik karena diperkaya motif Nusantara. "Kehadiran kerajinan tenun Jepara dengan motif Nusantara juga memperkaya produksi tenun Jepara," katanya.

Diakui Taufiq, usaha kerajinan tenun Jepara di Thamrin City yang dirintis sejak tahun 2012 makin memberikan keuntungan dan terus mendapatkan pesanan dari dalam dan luar negeri dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per potong kain. "Omset penjualan terus meningkat rata-rata bisa mencapai Rp 300 juta per bulan," ungkap Taufiq yg kini memiliki dua toko dan juga melayani penjualan secara online.

Berkembangnya penjualan aneka produk tenun di Thamrin City pun diakui Endang Astutik (49 tahun), pemilik toko Ratu Shima yang terletak di Lantai 1 Thamrin City. Usaha kerajinan tenun yang digelutinya menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang membantu menghasilkan produk kain tenun Jepara berkualitas. Di tokonya, Endang juga menjual aneka tenun Jepara dengan motif Nusantara.

"Kami menjual kain polosan, kain sarung, dan lainnya dengan harga Rp 20 ribu per meter hingga Rp 2 juta per satu stel kain dan sarung,” jelasnya.

Usahanya di Thamrin City dimulai tahun 2010 yang diawali dengan menyewa lapak dan akhirnya menyewa dua toko. "Kini omset kita rata-rata bisa mencapai Rp 150 juta per bulan," ujar Endang yang kini mempekerjakan 40 orang di desa Troso tempat produksi tenun Jepara itu.

Berkembangnya usaha kerajinan ini, diakui Endang, tidak lepas dari peran serta Thamrin City dalam mendukung usaha para pengrajin dengan berbagai aneka kegiatan dan promosi yang semakin memperkenalkan produk-produk tenun khas daerah di Indonesia khususnya Jepara. "Kita para pengrajin tenun sangat dibantu oleh Thamrin City yang memberikan kemudahan berusaha dan membuka akses pasar nasional dan internasional melalui aneka kegiatan promosi," katanya.

Usaha makin berkembang juga tampak di Toko Jula Huba di Lantai 1 Thamrin City khusus yang menjual aneka kerajinan tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak dua tahun lalu, toko Jula Huba ini hadir di Thamarin City dan kini sudah memiliki dua buah toko di Thamrin City.

"Berbagai kain tenun dari Flores, Sumba, Sabu, Rote, Alor, dan Timor dijual di sini dengan harga Rp 50.000 hinggga Rp 5.000.000," ujar Mince, pemilik Jula Huba.

Diakuinya, penjualan kain tenun dan baju tenun asal NTT mulai diminati pengunjung Thamrin City. Dia menjelaskan, pihaknya membina ratusan pengrajin tenun di seluruh daerah di NTT dengan melibatkan para perajin dalam pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keterampilan.

 

--- Very Herdiman

Komentar