Breaking News

NASIONAL Kerusuhan Papua, Presiden: Emosi Boleh, Memaafkan Lebih Baik 20 Aug 2019 05:50

Article image
Presiden Joko Widodo menggendong dua balita di Kampung Kayeh, Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis (12/4/2018). Balita berkaus kuning juga bernama Jokowi. (Foto: Tribun News)
Presiden Jokowi meminta masyarakat yakin bahwa pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan pace, mace mama-mama yang ada di Papua dan Papua Barat.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Di tengah situasi yang memanas, sebagaimana yang sedang terjadi di Manokwari, Papua Barat, para tokoh bangsa diharapkan kontribusinya untuk meredam situasi dan memberikkan komentar yang dapat menyejukkan suasana.

Hal ini yang dilakukan Presiden Joko Widodo yang menyerukan masyarakat Papua Barat untuk mengedepankan maaf, bukan emosi.

"Jadi, saudara-saudaraku, pace, mace, mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan," kata Jokowi di beranda kanan Istana Merdeka Jakarta, Senin (19/8/2019) petang.

Oleh sebab itu, lanjut Kepala Negara, sebagai saudara sebangsa dan se-Tanah Air, yang paling baik adalah saling memaafkan.

"Emosi itu boleh, tetapi, memaafkan itu lebih baik," kata Presiden seperti dilansir Antara (20/8/2019).

Menurut Presiden, sabar itu juga lebih baik.  Presiden Jokowi meminta masyarakat yakin bahwa pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan pace, mace mama-mama yang ada di Papua dan Papua Barat.

Sebelumnya, Ketua Masyarakat Adat Papua Lenis Kogoya mengatakan dirinya telah meminta seluruh kepala adat di Papua untuk ikut aktif meredam situasi di Manokwari, Papua Barat, agar tidak menyebar ke daerah lain.

"Saya sudah kasih tahu kepala adat provinsi, di tingkat kabupaten, sudah jalan hingga ke kampung-kampung, agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," kata Lenis dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19-8-2019).

Lenis yang juga merupakan Staf Khusus Presiden untuk Papua mengatakan dirinya juga telah berbicara dengan para tokoh agama untuk dapat ikut meredam situasi di Papua Barat.

Lenis meminta seluruh tokoh adat dan tokoh agama untuk menegaskan kepada masyarakat agar tidak ada yang membawa senjata tajam, dan tidak merusak fasilitas umum.

Dia juga meminta aparat keamanan tidak bersikap represif dalam menangani peristiwa di Papua Barat.

--- Simon Leya

Komentar