Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

HUKUM Ketika Aris dan Erwanto laporkan Novel ke Polda Metro 08 Sep 2017 10:26

Article image
Direktur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Brigjen Pol Dr Aris Budiman. (Foto: Ist)
Aris menceritakan e-mail yang dikirimkan Novel kepadanya itu dibagikan juga kepada hampir 40 alamat e-mail. Termasuk di dalamnya lima pimpinan KPK, Sekjen, Deputi, Kepala Biro Hukum hingga Wadah Pegawai KPK.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coDirektur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Birgjen Pol Dr Aris Budiman dan Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Erwanto Kurniadi melaporkan penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Aris melapor karena mengaku isi e-mail Novel Baswedan sudah menjatuhkan kehormatannya sebagai seorang atasan. Dalam e-mail tersebut, Aris mengaku disebut tidak berintegritas oleh Novel.

Pengakuan ini disampaikan Aris  sebelum menjalani pemeriksaan di Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kamis, (7/9/2017) malam.

"Saya dibilang tidak berintegritas, kemudian direktur terburuk sepanjang sejarah KPK, kemudian melanggar dan sebagainya," ujar Aris

Lantaran dilecehkan oleh Novel, Aris pun melaporkan Novel dengan pasal pencemaran nama baik ke Polda Metro Jaya.

Aris menceritakan e-mail yang dikirimkan Novel kepadanya itu dibagikan juga kepada hampir 40 alamat e-mail. Termasuk di dalamnya lima pimpinan KPK, Sekjen, Deputi, Kepala Biro Hukum hingga Wadah Pegawai KPK.

"Setelah itu kan tidak ada yang menjamin gadget kita ini enggak menyebar ke mana-mana. Dan saya yakin sudah menyebar ke mana-mana, karena kolega saya Pak Dirtut (Direktur Penuntutan) mengatakan sudah beredar juga ke Kejaksaan Agung," ungkapnya.

Menurut Aris, e-mail yang dikirim oleh Novel kepadanya dan dibagikan ke seluruh pejabat di KPK membuatnya tersinggung. E-mail tersebut dia terima 14 Februari 2017 lalu.

Tak ingin permasalahan tersebut muncul ke permukaan, Aris hanya mengadukan isi e-mail tersebut kepada pimpinan KPK dan Pengawas Internal KPK. Namun rupanya, menurut Aris, Novel kian menjadi-jadi.

"Kemudian 14 Agustus muncul rekaman itu. Enam bulan waktunya (sejak 14 Februari), dalam proses enam bulan itu kan belum ada penyelesaian, kemudian dengan lontaran ujaran Novel yang seperti itu saya lihat ini tidak akan bagus," jelas Aris.

Aris mengaku, dirinya sudah ingin melaporkan Novel di saat awal-awal dirinya menerima e-mail tersebut. Namun rupanya Novel terkena musibah dengan diserang air keras oleh orang tak dikenal.

"Artinya gini, nanti itu baca (e-mail) menurut saya, buat orang yang normal membaca itu pasti tersinggung. Tetapi ya saya katakan, saya berupaya tenang, pas dipanggil pimpinan saya ucapkan seperti itu," kata dia.

Ditanya lebih lanjut apakah pelaporan terhadap Novel tersebut merupakan dorongan dari Pansus DPR, Aris dengan tegas mengatakan tidak. Menurut dia, permasalahan dirinya dengan Novel tak berkaitan dengan institusi.

"Ooo enggak. Itu betul-betul personal saya. Pimpinan Polri, pimpinan KPK tidak ada, ini personal saya. Jangan dibawa-bawa lembaga KPK, Polri dan Pansus," pungkasnya.

Setelah itu, giliran Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Kombes Erwanto Kurniadi melakukan pelaporan ke polisi dengan nomor laporan LP 4198/IX/PMJ. Laporan ini telah diterima Polda Metro Jaya.

Erwanto melakukan pelaporan terkait pemberitaan di Majalah Tempo. Dalam Majalah Tempo edisi 3 April sampai 9 April 2017 ada kalimat yang dianggap merendahkan polisi.

Novel dilaporkan karena melontarkan pernyataan bahwa penyidik KPK yang berasal dari Polri memiliki integritas rendah.

Diketahui, Erwanto pernah menjadi penyidik Polri yang ditugaskan di KPK. Hal tersebut dia ketahui setelah membaca pemberitaan di sebuah media massa yang memuat tulisan soal Novel yang keberatan jika Direktur Penyidikan KPK mengundang penyidik Polri untuk kembali bertugas di KPK.

"Novel terutama tak setuju terhadap rencana Aris (Direktur Penyidikan KPK) mengundang kembali penyidik Polri yang pernah bertugas di KPK karena menilai penyidik itu berintegritas rendah," demikian ungkap Erwanto.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, pernyataan yang ada di Majalah Tempo terkait Novel itu telah menyingung Erwanto.

"Sebagai seorang penyidik yang pernah bertugas di KPK, pelapor (Erwanto) merasa keberatan," ujar Argo. 

--- Redem Kono

Komentar