Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TRADISI Ketua DPD RI Buka Konferensi Internasional Bhagavad Gita 26 Jun 2016 17:52

Article image
Pembukaan Konferensi Internasional Bhagavad Gita d Bali, Sabtu (25/6) malam. (Foto: Ist)
Dalam konferensi yang berlangsung lebih dari satu hari tersebut, akan menghadirkan sekitar 20 pembicara dari agama Hindu dari berbagai negara, para pakar dan ahli, serta praktisi.

DENPASAR, IndonesiaSatu.co -- Ketua DPD RI Irman Gusman membuka Konferensi Internasional Baghawad Gita yang digelar di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sabtu malam (25/6).

Konferensi kali ini diikuti oleh 17 negara yang datang dari berbagai belahan dunia. Selain dihadiri para sulinggih dari seluruh Bali, para pemuka agama Hindu dari berbagai negara di dunia tersebut, hadir juga Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama serta seluruh anggota Muspida lainnya.

Menurut Gusman, pesan besar yang berada di balik peringatan turunnya Nyanyian atau Kidung Agung Bhagawad Gita adalah bahwa umat Hindu perlu menjadi pelopor yang berdiri tegak di barisan depan untuk menegakkan dan menyebarkan kebenaran sambil mengikis pembenaran-pembenaran yang merupakan pemalsuan kebenaran yang timbul dalam berbagai sendi kehidupan  dan cenderung menghambat berbagai upaya untuk mencapai masyarakat yang berkeadilan.

"Di negara manapun, tentu bukan hal mudah untuk menegakkan kebenaran manakala pembenaran merajalela dan dianggap sebagai kebenaran. Tapi dengan ajaran Sri Bhagawan yang diyakini umat Hindu, saya yakin kontribusi umat Hindu dalam menegakkan kebenaran di dalam berbagai sendi kehidupan bangsa kita akan sangat berarti bagi upaya menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan beradab yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945," ujarnya disambut tepuk tangan meriah ribuan peserta yang hadir saat membuka konferensi.

Menurutnya, prinsip yang sama berlaku bagi semua negara. Umat Hindu di 17 negara yang terwakili dalam Konferensi Internasional ini dan juga di berbagai negara lain diharapkan dapat tampil ke depan sebagai pelopor penegak kebenaran sesuai ajaran Sri Krishna yang Nyanyian dialogisnya direnungkan hampir oleh semua bangsa hingga pada hari ini. "Biarlah Kidung Agung itu terus bergema di hati kita semua khususnya umat Hindu sebagai panduan kehidupan," ujarnya.

Ia menegaskan, ajaran Bagahvad Gita sangat relevan di Indonesia. Bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan bahasa, beragam adat-istiadat dan budaya, perlu tetap dibangun di atas landasan kebenaran sejati sebagaimana yang diamanatkan dalam Sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Kedua yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab serta juga ketiga sila lainnya.

Maka kebenaran merupakan nilai tertinggi yang harus tetap diwujudkan dan dipelihara sebab kebenaran adalah nilai yang diinginkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk diterapkan dalam kehidupan ini baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai bangsa serta dalam pergaulan antarbangsa.

"Itulah sebabnya maka saya berpendapat bahwa Konferensi 17 negara untuk memperingati turunnya Kidung Agung ini sangatlah relevan dengan kondisi kekinian kita serta kebutuhan masyarakat terus ke masa-masa yang akan datang. Biarlah peringatan tentang turunnya Kidung Agung ini menyadarkan kita semua tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam mengambil pelbagai keputusan sepanjang hidup ini agar kita tidak ragu lagi tetapi dapat melangkah pasti sesuai ajaran agama kita masing-masing sebagai bangsa yang pluralis dan harmonis di tengah tantangan kehidupan yang semakin besar," ujarnya.

Ketua Panitia Konferensi Internasional Bhagavad Gita Prabu Acharya Darmayasa menjelaskan, konferensi kali ini dihadir oleh para pemimpin agama Hindu dari 17 negara di dunia. "Karena ini konferensi yang pertama kali maka pesertanya harus kita batasi. Banyak negara yang mendaftar tetapi kita menolaknya karena berbagai keterbatasan yang ada," ujarnya.

Dalam konferensi yang berlangsung lebih dari satu hari tersebut, akan menghadirkan sekitar 20 pembicara dari agama Hindu dari berbagai negara, para pakar dan ahli, serta praktisi. Para pembicara itu akan memberikan pencerahan tentang bagaimana Bhagavad Gita itu dikontekstualkan dan menjadi pedoman dalam kehidupan ini.

--Arnold Janssen

Komentar