Breaking News

NASIONAL Ketua MUI: Indonesia Beruntung Memiliki Presiden Jokowi 15 Mar 2018 06:32

Article image
Ketua MUI dan Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi, KH Ma'ruf Amin dan Presiden Joko Widodo. (Foto: Ist)
Ma’ruf Amin mencontohkan, permintaan umat Islam agar pembangunan ekonomi umat dilakukan dari bawah, diwujudkan dengan terbentuknya Bank Wakaf Mikro (BWM), Koperasi Mitra Santri Nasional, dan Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Indonesia beruntung memiliki Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Sebab, Jokowi mau bersilaturahmi dan mendengarkan keinginan para kiai, ulama, dan santri.

Apresiasi ini disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Rais Am PBNU KH Ma’ruf Amin di Ponpes An Nawawi, di Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (14/03/2018).

Ma’ruf Amin mencontohkan, permintaan umat Islam agar pembangunan ekonomi umat dilakukan dari bawah, diwujudkan dengan terbentuknya Bank Wakaf Mikro (BWM), Koperasi Mitra Santri Nasional, dan Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart, yang baru saja diresmikan oleh Jokowi.

"Saya bersyukur Presiden merespons aspirasi dan tuntutan umat. Oleh karena itu, MUI melakukan Kongres Umat Islam, menampung aspirasi, arus baru ekonomi Indonesia adalah pembangunan ekonomi dari bawah. Alhamdulillah Presiden merespons," kata ujar Ma’ruf Amin.

Pada kesempatan ini, Ma'ruf juga berharap agar pemerintah menjadikan wilayah Tanara sebagai lokasi wisata religi dunia. Sebab, dari tempat ini telah lahir banyak ulama berpengaruh yang merupakan murid Syekh Nawawi Al-Bantani, yang juga lahir di tempat ini.

Di antaranya KH Hasyim Asyari, Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah, Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura, Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram, dan KH. Thahir Jamaluddin, Singapura.

"Di Tanara ini, kami ingin daerah ini menjadi wisata religi. Pendidikan, adanya masjid yang umurnya ratusan tahun, dulu ada tokoh yang namanya Syekh Nawawi al-Bantani, muridnya, semua organisasi Islam di Indonesia adalah muridnya," ujarnya.

Dia juga meminta agar pondok pesantren tidak lagi dicap sebagai tempat yang radikal dan anarkistis.

"Sejarah mencatat, kiai, ulama, dan santri itu membela negara. Mana ada ajaran kita (Islam) yang menyuruh berbuat anarkis," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar