Breaking News

AGAMA Ketua MUI: Yahya Waloni Bukan Ustaz Berstandar MUI 30 Aug 2021 08:09

Article image
Yahya Waloni ketika dibekuk polisi di Cibubur dalam kasus penistaan agama. (Foto: CNN Indonesia)
Lebih baik jika masjid atau kelompok masyarakat mengundang penceramah yang menyejukkan hati, dan mampu menebar inspirasi kepada umat.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Setelah dinyatakan menjadi tersangka dalam kasus penistaan agama, nama Yahya Waloni ramai diperbicangkan di berbagai media. Satu hal yang dipersoalkan public adalah gelar Waloni ustaz.

Terkait dengan gelar ustaz yang disandang Waloni, Ketua Majelis Ulama Indonesia atau MUI. Cholil Nafis ikut angkat bicara

Pada program Apa Kabar Indonesia Malam yang tayang di tvOne, Cholil mengatakan bahwa Waloni tak bisa dikategorikan sebagai ‘ustaz’ lantaran ilmunya terbilang masih kurang. Dikatakan Ketua MUI, label ‘ustaz’ seharusnya tak diberikan ke sembarang orang.

Bahkan, kata dia, di Timur Tengah status tersebut hanya diberikan kepada penceramah yang telah menyelami ilmu agama secara akademik.

"Ini gampangnya saja orang disebut ustaz. Kalau di Timur Tengah, ustaznya sekelas profesor. Di sini, orang sering ke masjid lalu jadi takmir masjid, sudah jadi ustaz. Jadi, ya men-downgrade lah, memperendah istilah ustaz itu sendiri," kata Cholil seperti dilansir Suaramalang.id. Minggu (29/08/2021).

Ketika ditanya, apakah Yahya Waloni pantas disebut Ustaz, Cholil menjelaskan, MUI memiliki kriteria sendiri untuk memastikan penceramah layak disebut ustaz atau tidak. Namun, yang pasti, Yahya tidak masuk ke dalamnya.

“Kalau itu (Yahya Waloni) bukan ustaz berstandar MUI. Kalau di luar disebut ustaz sangat luas tentang terminologi ustaz," tegasnya.

Cholil juga menyarankan, ketimbang mengundang penceramah yang gemar memaki-maki agama lain, bakal lebih baik jika masjid atau kelompok masyarakat mengundang penceramah yang menyejukkan hati, dan mampu menebar inspirasi kepada umat.

“"Undanglah penceramah-penceramah yang memberikan inspirasi. Penceramah-penceramah yang memang mengerti agama. Bukan yang memprovokasi," kata Cholil.

MUI, kata dia, memiliki standar penceramah di Indonesia. Meskipun begitu, MUI tidak bisa melarang seseorang untuk bisa menjadi seorang penceramah atau dipanggil ustaz.

Di sisi lain, tidak ada aturan yang membuat MUI mesti melarang. Apalagi, aktivitas keagamaan di kehidupan masyarakat sehari-hari juga tak bisa dipantau hingga dilarang.

"Berbeda dengan negara sebelah seperti di Malaysia atau Brunei memang ada ketentuannya. Di kita tidak bisa melarang," tuturnya.

"Ini yang sering saya sampaikan bagi teman-teman yang baru jadi mualaf, sampaikan yang tahu, yang pasti benarnya. Yang kemudian, jangan menjelekkan agama yang pernah dipeluknya. Apalagi membenturkan agama yang baru yang diyakini dengan agama yang pernah dipeluknya itu," lanjutnya.

--- Simon Leya

Komentar