Breaking News

INTERNASIONAL Ketua Persatuan Nasional Perempuan Tunisia: Aksi Pro-Poligami Adalah Sebuah Bentuk Kegilaan 01 Feb 2019 12:13

Article image
Sekelompok perempuan Tunisia melakukan aksi protes, menuntut agar poligami diizinkan di negara itu. (Foto: en.alghadeer.tv)
Peneliti Peradaban Islam, Sami Braham menulis bahwa wanita yang belum menikah, yang melewatkan kesempatan pernikahan percaya bahwa membuka pintu poligami akan memungkinkan mereka untuk menikah.

TUNIS, IndonesiaSatu.co – Umumnya perempuan tidak akan senang kalau dimadu. Tapi yang terjadi di Tunisia malah sebaliknya. Pasalnya, sekelompok perempuan Tunisia melakukan aksi protes, menuntut agar poligami diizinkan di negara itu. Padahal aturan di negara tersebut tidak menghendaki adanya poligami. Poligami di Tunisia merupakan kejahatan. Pelakunya dapat dikenai hukuman.

Namun, baru-baru ini sekelompok perempuan memulai kampanye di media sosial mendesak perempuan untuk bergabung dengan protes di depan parlemen. Mereka protes meminta izin agar pria diperbolehkan memiliki lebih dari satu istri, demikian dilaporkan the Middle East Monitor (MEMO) sebagaimana dikutip en.alghadeer.tv.

Presiden Forum Kebebasan dan Kewarganegaraan, Fathi Al-Zghal mengatakan, unjuk rasa itu berlangsung spontan dan datang dalam kerangka advokasi untuk menyelesaikan masalah di negara ini.

Menurut surat kabar Al Khaleej Online, Al Zghal mengatakan, ia tidak menyerukan demonstrasi namun mendukung gagasan itu karena ia yakin ada kebutuhan untuk menemukan solusi dilema kehidupan para jomlo.

Seperti dilansir The News Tribe, Al Zghal mengatakan, perempuan akan berpartisipasi dalam demonstrasi untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas kegagalan Tunisia untuk mengizinkan poligami. Dia menambahkan, protes itu tidak terkait dengan entitas politik dan tidak dipimpin oleh asosiasi apa pun.

Dalam konteks ini, Peneliti Peradaban Islam, Sami Braham menulis, "Wanita yang belum menikah, yang melewatkan kesempatan pernikahan percaya bahwa membuka pintu poligami akan memungkinkan mereka untuk menikah."

Namun dia menambahkan, menurut perkiraannya krisis akan diperburuk oleh laki-laki yang mencari perempuan yang lebih muda, kecuali mereka menerima pernikahan sebagai tindakan amal dan kebaikan.

 

Sebuah bentuk kegilaan

Sementara itu, Radhia Djerbi, Ketua Persatuan Nasional Perempuan Tunisia kepada Al-Khaleej Online mengatakan bahwa demonstrasi pro-poligami adalah “sebuah bentuk kegilaan, sebuah fenomena patologis”, yang “mengindikasikan kurangnya kesadaran dari mereka yang menuntutnya”.

Dia juga menekankan bahwa aksi protes “tidak akan berdampak pada gaya hidup masyarakat Tunisia atau prestasi kaum perempuan Tunisia”, sembari menjelaskan bahwa artikel tentang Kode Status Pribadi yang berkaitan dengan poligami disahkan oleh Konstitusi Tunisia dan “tidak dapat diamendemen melalui aksi protes”.

 

--- Simon Leya

Komentar