Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TOKOH Kiki Syahnakri, "Old Soldier" yang "Never Fades Away" 25 Apr 2017 13:26

Article image
Panglima Penguasa Darurat Militer Timtim Mayjen TNI Kiki Syahnakri dan Panglima Pasukan Interfet di Timtim Mayor Jenderal Peter Cosgrove di Dili, 1999. Cosgrove lalu menjadi Panglima AB Australia dan kini Gubernur Jenderal. (Foto: Ist)
Tak banyak orang tahu bahwa Kiki Syahnakri (saat itu menjabat Asisten Operasi/Asops KSAD berpangkat Mayjen) adalah perwira TNI yang punya peran krusial di balik layar jelang reformasi.

Oleh Valens Daki-Soo

 

LETNAN Jenderal TNI (Purn) Kiki Syahnakri baru saja merayakan HUT ke-70 pada 22 April 2017. Andaikan tidak berjumpa dengan Pak Kiki (yang saat itu baru saja naik pangkat dari Kolonel menjadi Brigjen), saya mungkin tidak akan pernah 'tercebur' bekerja di lingkungan militer. Kala itu saya masih Staf Duta Besar Keliling RI dengan 'Tugas Khusus' FX Lopes da Cruz.

Kiki yang lahir tahun 1947 menyandang nama Syahnakri, yang diberikan ayahnya, mendiang Mohammad Sidik. Syahnakri (ejaan lama: Sjahnakri) adalah singkatan dari "Sahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia".

Secara personal Kiki figur sederhana dan 'low profile', tidak suka menonjolkan diri. Di lingkungan militer dia dikenal sebagai 'perwira lapangan' yang punya reputasi tinggi dan prestasi yang prima. Namun, dalam pergaulan sehari-hari sikapnya amat tenang dan terkendali. Dalam ungkapan musisi patriotis Franky Sahilatua (alm), "Pak Kiki tentara sejati yang sukses jadi sipil, bahkan jiwanya sudah lebih sipil daripada kita yang sipil."

Kesan lain datang dari Pastor Bantuan Militer/TNI dan Polri (Pasbanmilpol) RD Rofinus Neto. Beberapa waktu silam, usai kami bersilaturahmi Lebaran ke kediaman Pak Kiki, Romo Ronny, sapaan RD Rofinus, yang juga dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) berkomentar, "Saya kagum dan respek pada keluarga Pancasila yang harmonis itu. Pak Kiki seorang Muslim yang taat, Bu Ratna seorang Kristen yang sungguh-sungguh. Mereka jadi teladan tentang persatuan dalam perbedaan."

Tidak banyak orang tahu bahwa Kiki Syahnakri (saat itu menjabat Asisten Operasi/Asops KSAD berpangkat Mayjen) adalah seorang perwira TNI yang punya peran di balik layar jelang reformasi. Peneliti LIPI Dr Hermawan Sulistyo dalam bukunya "Lawan!" menggambarkan peran Jenderal Kiki sebagai "jembatan penghubung" antara para pentolan aktivis/mahasiswa dengan kelompok perwira di Mabes AD yang mendukung perubahan.

Mereka adalah kalangan perwira muda TNI AD yang menilai politisasi TNI demi kekuasaan sudah harus dihentikan, karena selain tak selaras dengan spirit demokrasi dan supremasi sipil, juga mereduksi dan merusak profesionalisme militer TNI, khususnya Angkatan Darat.

Pengalaman tempur dan teritorial Jenderal Kiki dalam masa penugasannya yang panjang di Timor Timur (kini negara Timor Leste), akumulatif 12 tahun, amat meyakinkan. Putra Karawang yang mempersunting nona cantik berdarah Rote-Solo, Ratna Ningsih Syahnakri, ini tak hanya jago tempur tapi juga piawai merakit relasi. Fasih berbahasa Tetun (bahasa daerah rakyat Timtim) dan ikut makan sirih dengan warga lokal, serta selalu membela kepentingan rakyat hingga lebih dari sekali dia 'bentrok' dengan seorang kolonel kesayangan Cendana (bisa disimak dalam buku "Timor Timur The Untold Story" yang jadi bestseller Gramedia, 2013), Kolonel Kiki mendapat tempat di hati Uskup Belo dan dihormati para "musuh"nya seperti Xanana dan Taur Matan Ruak.

Saat menjabat Pangdam Udayana usai lepasnya Timtim, Kiki sempat "konflik" dengan Dubes Amerika Serikat untuk RI, Robert Gelbard. Dengan nada pongah Gelbard melancarkan serangan verbal terhadap Kiki via media. Gelbard gagal mengendalikan diri dan mengumbar kemarahan di media, sesuatu yang tak lazim dan tidak patut di dunia diplomatik.

Kemarahan Dubes AS itu merupakan sikap over-reaktif terhadap Jenderal Kiki yang bersikap tegas bahkan keras menyangkut beberapa hal yang dinilainya "gak benar" dari pihak pemerintahan transisi PBB di Timtim atau UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor). Kiki juga memprotes keras seringnya heli tempur AS melintasi perbatasan Timtim dan Timor Barat (RI). Pernyataan Jenderal Kiki yang bernada marah beredar di media massa, "Kalau berani, suruh marinir kalian (AS) masuk lewat darat dan hadapi para prajurit saya. Jangan cuma melintas di udara!"

Setelah hampir dua tahun menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) yakni orang kedua di tubuh TNI AD, Kiki Syahnakri mengisi masa pensiunnya antara lain dengan membaca dan menulis artikel di media massa, khususnya Kompas. Tiga bukunya diterbitkan Penerbit Buku Kompas (Kompas Gramedia Group/KKG). Beberapa teman sering salah mengira, seakan saya yang menulis. Sungguh salah. Saya hanya beberapa kali membantu beliau menulis, setelah itu beliau rajin dan produktif menulis sendiri.

Kini Kiki Syahnakri antara lain menjadi Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), organisasi yang ikut didirikannya. Melalui PPAD (dan Yayasan Jati Diri Bangsa) Pak Kiki seolah tak pernah habis energi untuk terus menyemai dan mendiseminasi rasa cinta dan peduli dalam berbagai elemen bangsa terhadap rakyat dan negeri ini.

Jenderal Douglas McArthur yang legendaris berujar, "Old soldiers never die, they just fade away." Ya, bahkan semangat mereka -- para purnawirawan nasionalis sejati -- dalam mengabdi dan berkarya tak pernah 'fade away'. Spirit dedikasi dan cinta kepada NKRI memang tak pernah mati hingga telinga mereka tak sanggup lagi mendengar bunyi tembakan salvo yang mengiringi pemakaman mereka...

Selamat Ulang Tahun, Jenderal.

 

Penulis adalah pemerhati Hankam, Pendiri dan Pemred IndonesiaSatu.co, Staf Khusus Letjen TNI Kiki Syahnakri saat menjabat (berturut-turut) Asops KSAD, Panglima Penguasa Darurat Militer Timtim, Pangdam IX/Udayana dan Wakasad.

Komentar