Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

TALENTA Kisah Dramatis Canho Pasirua, Pianis Cilik Asal Ende Flores yang Mendunia 01 Jul 2016 01:19

Article image
Canho Pasirua ketika tampil dalam konser tunggal di Musro, Hotel Borobudur Jakarta. (Foto: Dewa Jeremias Jr)
Ini mukjizat untuk Canho, jawaban Tuhan bagi impian Canho sendiri dan doa kedua orang tuanya. Ibunya bercerita, dengan air mata mereka berdoa, dan Canho bilang dia akan sangat malu kalau tidak jadi ke California...

IBU Ermelinda Ndiki tidak mampu menahan air mata usai mendampingi putranya Canho Pasirua menggelar konser di Jakarta. Ermelinda mengaku tidak bisa tidur karena tidak percaya anaknya bisa tampil di Jakarta. “Senang sekali. Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada Opa Gories, Om Valens, Om Angelo dan semua pihak di Jakarta yang telah membantu Canho,” ujar Linda, sapaan Ermelinda.

Konser yang digelar di Musro Hotel Borobudur, Rabu (30/6), diselenggarakan VDS Entertainment & Event Organizer (VDS E&EO), salah satu unit bisnis PT Veritas Dharma Satya (PT VDS), dengan dukungan Artha Graha Peduli (AGP). Linda menuturkan, ayah Canho, Kris Jambru -- yang dari Ende mendoakan dan menanti kabar tentang putranya -- menangis ketika Linda meneleponnya dan berkisah tentang hasil konser tunggal di Jakarta.

Konser itu adalah usaha untuk menggalang dana bagi Canho. Selama ini orang tua Canho sudah berusaha ke sana ke mari untuk mencari sponsor namun nyaris tanpa hasil. Sumbangan yang ada jauh dari cukup untuk memenuhi persyaratan dari panitia ajang internasional tersebut serta untuk memenuhi kebutuhan Canho di California. Beberapa pihak yang selama ini sudah berjanji akan memberikan sumbangan malah tidak ada kabar lagi dan sulit dihubungi.

Selain kendala dana, urusan visa pun mengganjal langkah Canho. Bersama ibunya dia sudah dua kali datang ke Jakarta untuk mengurus visa namun gagal. Canho disergap rasa kecewa namun orang tuanya meneguhkan dia dan mengajaknya berdoa agar Tuhan membuka jalan.

Jalan kembali terbuka

Jalan bagi Canho kembali terbuka ketika putra Ende di Jakarta yang juga kerabat Canho, Angelo Wake Kako, mengutarakan masalah tersebut kepada Komisaris Utama PT VDS, Valens Daki-Soo. Valens secepatnya menghubungi beberapa pihak di Jakarta yang berhati dermawan, punya pengaruh dan kemampuan finansial untuk membantu Canho.

Alhasil, berkat koneksi dan uluran tangan mereka, visa untuk lima tahun bisa diurus dengan lancar. Sementara itu, dana yang terkumpul dalam konser melebihi kebutuhan Canho sesuai persyaratan panitia ajang lomba di AS. Lalu, bonus yang ini menjawab impian Canho: seorang pengusaha menghadiahkan sebuah grand piano seharga 240 juta, terlepas apapun hasil lomba.

Meski persiapan untuk konser cuma dua hari, undangan terbatas pun disebar hanya sehari menjelang acara, namun hadir beberapa pengusaha dan figur NTT di Jakarta. Di antaranya Komjen Pol (Purn) Gories Mere, anggota DPR RI Victor Laiskodat, tokoh media nasional Karni Ilyas dan Primus Dorimulu, pengusaha Jakarta Ardy Supriyadi dan Mandra P Shakti dari Bumi Biru Group, pengusaha asal Ende M Hanafi, Kepala Perwakilan NTT Berto Lalo, Dr Iryanto Djou, politisi muda Melki Lakalena, dan sejumlah simpatisan Canho. Acara berlangsung semarak dan dimeriahkan MGI Band yang diawaki beberapa pemusik senior. Musisi beken asal Manggarai Flores, Ivan Nestorman, juga tampil mewarnai acara.

Seorang tokoh yang begitu antusias mendukung acara ini -- mengungkapkan rasa bangga dan haru melihat anak Flores yang luar biasa bakatnya. Dia mengapresiasi usaha dan jerih lelah kedua orang tua Canho dalam mendidik anaknya, dan menjadi teladan bagi para orang tua umumnya. Menurut tokoh yang enggan disebutkan namanya tersebut, Flores atau NTT memiliki potensi besar dalam sumber daya manusia namun potensi saja tidak cukup. Harus diolah dan dikembangkan melalui usaha, pendidikan, dan perjuangan. Itulah yang dilakukan Canho.

M Hanafi menyesalkan tidak ada anggota DPR RI dari Dapil Flores yang hadir meski telah diundang panitia. Hal yang sama dilontarkan beberapa mahasiswa asal NTT yang hadir. "Kami memang gak punya uang untuk disumbangkan, tapi kami datang dengan semangat untuk mendukung Canho. Kok para wakil rakyat kita gak ikut datang memberi apresiasi untuk anak Flores yang berprestasi dan membawa nama bangsa ke dunia internasional," ujar Montes, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK).

Perjuangan Canho untuk menjadi pianis hebat ternyata tidak mudah. Ibunda Canho menuturkan, selain berlatih bersama sang ayah, Canho sebulan sekali dan pada hari libur pergi berlatih di Seminari Tinggi St Paulus Ledelero, Maumere. Di Ledalero Canho dilatih oleh guru musik profesional, Pastor Emanuel Weroh SVD.

Persiapan Canho untuk tampil di California sudah maksimal untuk tidak mengatakan sempurna. Kali ini Indonesia mengirim 10 wakil dari berbagai kategori seni dalam Kejuaraan Dunia Seni Pertunjukan atau “World Championship Perfoming Arts 2016” (WCOPA) 2016 di Long Beach-California USA pada 7-19 Juli 2016.

Di California, Canho akan memainkan beberapa komposisi dari 5 (lima) kategori, yakni pertama, kategori klasik: Fantasy Impromptu ciptaan F.F. Chopin. Kedua, kategori jazz: Arabesque ciptaan C Debusy. Ketiga, kategori kontemporer: The Entertainer ciptaan Scott Joplin. Keempat, kategori open instrument: Etude Revolutionary ciptaan F F Chopin. Kelima, kategori original: IE ende folksong.

Di Jakarta Canho memainkan beberapa komposisi, di antaranya Turkisch March ciptaan W.A. Mozart; Balada Pur Adelin ciptaan Richard Clayderman; Fur Elise ciptaan L.V. Beethoven; Fantasi Impromptu, the Entertainer, Etude Chanson ciptaan F.F. Chopin; Etude Revolutionary, Piano Sonata ciptaan W.A. Mozart. Selain komposisi klasik, Canho juga memainkan beberapa lagu daerah, di antaranya  Bale Nagi; O Ina Nona, Ie Wea; Bengu Rele Kaju; Aku Rentang Bao; Oras Loro Maniri; Bolelebo.

"Mukjizat" untuk Canho

Tentang suksesnya konser yang digelar tanpa persiapan cukup itu, Valens melukiskannya sebagai 'mukjizat untuk Canho'.

Menurut dia, ini jawaban Tuhan bagi impian Canho sendiri dan doa kedua orang tuanya. Ibunya bercerita, dengan air mata mereka berdoa, dan Canho bilang dia akan sangat malu kalau tidak jadi ke AS, karena semua temannya sudah tahu rencana itu.

"Ketika menggelar konser ini, saya pikir hanya tangan Tuhan yang bisa 'selamatkan' Canho. Kartu undangan untuk 50 orang disebar hanya sehari menjelang acara. Karena ragu apakah undangan itu tiba di tujuan, Rabu dinihari jam 03.00, saya duduk di tempat doa sambil kirim ulang undangan lewat WA (Whatsapp) dan SMS. Tiga puluh menit jelang acara belum ada yang datang, saya masuk ke mobil dan berdoa lagi, sangat berharap Tuhan tolong. Dan, Tuhan menjawabnya untuk Canho," kisah Valens, mantan asisten Duta Besar Kelilling RI Urusan Khusus (Timor Timur), staf khusus Wakil Kepala Staf Angkatan Darat yang juga pencinta musik.

Dalam sapaannya pada awal konser, Valens menyebut Canho sebagai persembahan Nusa Bunga (Flores) untuk Nusantara menuju pentas dunia. Canho adalah contoh dan bukti bahwa anak-anak Flores NTT mampu berprestasi tinggi jika tak lelah menempa diri.

Valens Daki-Soo sendiri berasal dari Nagekeo Flores. Empat tahun lalu dia mendirikan PT VDS yang terdiri dari divisi Training & Consulting, Human Resources Management, Publishing, Security Services, dan Entertainment & Event Organizer.

Menurutnya, Canho adalah salah satu contoh dari bakat terpendam atau tersembunyi anak Flores-NTT yang kian merekah di tengah jagat keindonesiaan. Canho adalah salah satu bukti besarnya bakat tunas-tunas muda negeri ini dari NTT. "Hari ini Canho muncul, dan semoga akan muncul lebih banyak tunas muda, tak hanya di bidang musik, tetapi juga di bidang-bidang lain,” imbuh Valens.

Canho yang bernama lengkap Yohanes De Capestrano Jambru Pasirua lahir di Ende, Flores, 2 November 2004. Awal belajar musik sejak umur 3 tahun (2007) di bawah bimbingan sang ayah sendiri. Pada usia 4 tahun, Canho mengikuti kursus musik di Affrettando Music Course-Ende (2009). Kursus yang sama dilakoni juga di tahun 2010 dan 2012. Saat usia 10 tahun, Canho menggelar Konser Solo Piano di Ende 7 November 2014, di Maumere 19 Desember pada tahun yang sama, dan Mbay pada 14 Februari 2015.

Akhir Desember 2015, Canho mengikuti audisi kejuaraan dunia seni pertunjukan (vocaldance, instrumental music, modeling, acting, dll) yang digelar WCOPA Indonesia.

Pada 24 Februari 2016, WCOPA Indonesia menyatakan Canho lolos audisi untuk musik instrumental (piano) dan berhak mengikuti World Championship of Performing Arts 2016 di Long Beach, California, USA, 9-19 Juli 2016.

 

--- Simon Leya

Komentar