Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

PENDIDIKAN Kisruh Universitas PGRI NTT, Nasib Ribuan Mahasiswa Makin Tidak Jelas 08 Nov 2017 16:34

Article image
Forum Mahasiswa Universitas (FMU) PGRI NTT konferensi pers di Gedung Cawang Kencana, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (7/11). (Foto: Ist)
Sekitar 4.000 alumni kampus itu menjadi korban karena ijazah mereka dinyatakan tidak sah dan 800 mahasiwa yang tengah menempuh pendidikan saat ini juga belajar dalam ketidakpastian.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coKonflik internal di tubuh Universitas PGRI NTT yang melibatkan dua kubu yakni pihak rektorat dan yayasan, membuat nasib ribuan mahasiswa nya terkatung-katung.

Izin operasional kampus tersebut juga dicabut, sehingga kegiatan perkuliahan menjadi tidak jelas. Kedua pihak disebut saling mengklaim sebagai pihak yang benar dan sama-sama melakukan wisuda.

Sejumlah perwakilan mahasiswa pun datang ke Jakarta untuk mencari keadilan dan kejelasan nasib mereka dan teman-teman lain.

Koordinator Umum Forum Mahasiswa Universitas (FMU) PGRI NTT, Petrus Tansius Dedi mengatakan, kedua pihak sejak 2014 sama-sama memwisuda para mahasiswa dengan nama rektor yang berbeda. Mahasiswa pun dibuat bingung dan mayoritas terpaksa mengikuti dua wisuda yang digelar. Sementara, terdapat sekitar 800 mahasiswa yang memilih menunggu kejelasan terhadap sengketa itu.

"Mahasiswa yang telah diwisuda juga mempertanyakan keabsahan ijazah yang mereka dapatkan. Bahkan, alumni yang sedang mengikuti ujian kerja di Yogyakarta di Yogyakarta pulang lagi ke Kupang karena status mereka dinyatakan masih aktif sebagai mahasiswa di pangkalan data. Sejak itu alumni gelisah karena ijazah tidak berlaku," kata Petrus Tansius saat konferensi pers di Gedung Cawang Kencana, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (7/11/2017).

Dia mengatakan, sedikitnya terdapat 4 ribu alumni mahasiswa Universitas PGRI NTT selama kurun waktu 2014-2016 diragukan keabsahan ijazahnya karena sengketa kepemilikan antara pihak yayasan dan rektorat.

Padahal, katanya, mereka umumnya berasal dari keluarga kurang mampu. “Kami sudah menghabiskan banyak biaya untuk kuliah. Keluarga dan masyarakat kampung kami bangga kami bisa kuliah. Tapi nasib kami malah begini," katanya.

Petrus meminta pemerintah pusat maupun Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) agar berperan aktif memperjuangkan nasib para alumni maupun mahasiswa yang terkatung-katung hak ijazahnya.

"Kami datang ke Jakarta dengan modal pas-pasan untuk mencari keadilan dan memperjuangkan suara dari para mahasiswa aktif maupun alumni Universitas PGRI NTT yang ijazahnya diragukan," katanya.

Sengketa klaim kepemilikan Universitas PGRI NTT itu, katanya, terjadi antara kubu rektorat di bawah pimpinan Sulaiman Radja dan Samuel Haning. Kedua rektor sama-sama melakukan wisuda, yang ujungnya membuat mahasiswa menjadi korban.

"Kami berharap ada solusi dari pemerintah untuk memberikan jawaban yang konkrit terhadap 4 ribu alumni maupun 9 ribu mahasiswa lainnya yang belum diwisuda selama mengenyam pendidikan selama periode 2013-2016," katanya.

Seperti diberitakan, gugat-menggugat pihak yang bersengketa di PGRI NTT berujung pada dicabutnya Ijin Universitas yang berdiri dengan Sk Mendikbud: 89/D/O/1999. Kemudian Menristek Dikti mengeluarkan ijin baru dengan badan penyelenggara yang baru untuk kedua belah pihak yang sudah gagal dalam dalam melakukan pengelolaan Universitas PGRI, yakni Universitas Persatuan Guru 45 dan Universitas Aryasatya Deo Muri.

Setelah dikeluarkannya dua SK Menristek Dikti ini, muncul lagi pihak ketiga yaitu LSM, Lembaga Pemantau Pengawas Triaspolitika (LP2TRI) dibawah pimpinan Hendrikus Djawa, yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Tinggi PGRI NTT. Dia juga langsung mewisudakan 129 orang mahasiswa Universitas PGRI NTT tanpa ada aturan hukum yang jelas, dan mengklaim bahwa Universitas PGRI NTT masih aktif.

 

--- Very Herdiman

Komentar