Breaking News

TAJUK Kita dan Sejarah 23 Jun 2019 20:36

Article image
Kita bisa memilih untuk berpasrah atau memilih untuk menuliskan sejarah hidup kita sendiri. Mungkin melawan penentuan waktu, melawan kenyataan yang sementara dialami, hingga akhirnya ke perputaran kehidupan.

SEJARAH datang dan pergi. Sementara ada yang ingin mengingkari, ada pula yang ingin melanjutkannya. Ada yang ingin menghapus sejarah. Ada yang ingin mengabadikannya. Setiap kita punya sejarah.

Namun, tak kurang pula ada orang yang hendak melampaui sejarah: mengalahkan waktu, dan meramal sejarahnya sendiri. Mengatakan akan menjadi begini dan begitu, berada di sana dan di sini, bersama siapa dan apa.

Mungkin penyair Chairil Anwar mewakili: Aku mau hidup seribu tahun lagi'' tulisnya dalam sajak ''Aku''. Chairil Anwar ingin mengalahkan waktu, membuat hidupnya akan abadi. Tetapi kita tahu akhirnya: Chairil Anwar wafat pada usia yang ke-26 tahun.

Dalam waktu ada impian dan kenyataan. Ada impian yang menemukan kenyataan. Ada kenyataan yang akhirnya menjadi impian. Berganti-ganti dan tidak dapat direngkuh, di genggam pasti. Hidup kita merupakan "momen tidak terprediksi" (unpredictable moment of life), yang tidak dapat ditentukan arahnya.

Ada yang ingin menjadi pengusaha, kenyataan menjadi guru. Ada yang ingin menjadi tukang kayu, tetapi berakhir menjadi Presiden. Ada yang ingin menikah dengan orang yang sudah diyakininya, tetapi menggandeng orang lain ke pelaminan. Dan lain-lain.

Dapatkah kita, mengalahkan waktu, dan menulis sejarah kita sendiri? Kita teringat pengalaman Martin Heidegger. Menurutnya, manusia terlempar saja ke dunia ketika ia lahir, ia tidak berdaya, tak mampu menentukan dirinya untuk dilahirkan. Manusia tidak berdaya, hingga akhirnya hanya mengarah kematian. Berpasrah dalam kekalahan atas kehidupan yang tidak dapat dikuasai.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang mengabadikan sejarah. Setiap hari bersibuk menemukan apa saja yang diyakininya untuk menuliskan sejarahnya. Mulai dari pencapaian prestasi akademik, regenerasi keturunan, pencapaian karier hingga selfie di dunia maya.

Mengapa? Kata Walter Benyamin, karena sejarah banyak dikuasai oleh para pemenang, mereka yang lebih mendapatkan akses untuk menulis sejarah, dan gaung tulisannya disebarkan lagi ke manapun. Para pemenang mendapatkan akses kepada kekuasaan, sehingga menguasai wacana, mengusai lebih banyak kesempatan untuk menggaungkannya.

Kita bisa memilih untuk berpasrah atau memilih untuk menuliskan sejarah hidup kita sendiri. Mungkin melawan penentuan waktu, melawan kenyataan yang sementara dialami, hingga akhirnya ke perputaran kehidupan: antara air mata-tawa ria, antara kedatangan-kepergian, kemenangan-kekalahan, kegagalan-keberhasilan.

Dan kehidupan akan lebih mengasyikkan.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar