Breaking News

REFLEKSI Kita Mesti Punya Determinasi Diri 22 Feb 2021 08:47

Article image
Ilustrasi determinasi diri. (Foto: ThoughtCo)
Hanya orang yang punya determinasi diri mampu menentukan dan mencoraki kehidupannya sendiri dengan kebaikan, kekuatan, keyakinan, semangat dan harapan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

SERING orang bertanya, "Bung VDS, bagaimana caranya di usia yang tidak muda lagi Bung tetap tampak energik, bersemangat?"

Sesungguhnya saya tidak peduli apakah benar saya energik, tetapi memang saya "rasakan" semangat saya tidak berubah sejak masa muda belia. Saya memandang dunia dengan ceria di wajah, senyum di bibir, gembira di hati, bahagia di jiwa.

Lebih jauh, saya menjalani hidup ini dengan keyakinan yang teramat kuat bahwa Tuhan mencintai saya dalam segala kondisi, tanpa syarat. Dia mengasihi saya dengan cinta tak bersyarat (unconditional love). Jika menyadari ini, bagaimana mungkin saya menapaki kehidupan dengan jiwa merana dan sikap pesimis?

Keyakinan yang kuat disertai nalar jernih dan pertimbangan rasional menjadikan kita memiliki apa yang disebut "determinasi diri". Saya mendefinisikan sendiri determinasi diri sebagai disposisi mental, sikap batin dan cara hidup yang bersumbu pada iman yang kukuh kepada Tuhan, kepercayaan diri yang kuat, dan kemampuan menentukan atau memutuskan apa yang baik bagi kehidupan pribadi.

Pribadi yang kuat memancarkan gelegar semangat dari dalam jiwa yang mampu mempengaruhi lingkungannya secara positif. Pribadi yang matang mampu terlibat dalam kehidupan sosial sembari menyumbang apa saja yang baik bahkan terbaik dari dirinya bagi sesama. Orientasi hidupnya adalah memberi dan berbagi kebaikan. Sekecil apapun Anda bisa ikut menganyam kehidupan bersama sebagai satu komunitas. Anda merasa terpanggil untuk memberi diri bagi kemajuan sesama.

Hanya orang yang punya determinasi diri mampu menentukan dan mencoraki kehidupannya sendiri dengan kebaikan, kekuatan, keyakinan, semangat dan harapan. Dia memastikan dirinya berjalan di jalan kebaikan, kebenaran dan kejujuran. Di manapun dia berada dan dengan cara apapun dia berkiprah, hidupnya selalu terarah kepada kebaikan. Dia tidak mudah luruh oleh godaan indrawi dan pantang menyerah karena duri-duri.

Determinasi diri menjadikan kita sanggup menghadapi badai sekencang apapun. Pegangan kita kukuh: aku mampu di dalam Dia (Tuhan) yang menguatkan aku, mengutip St. Paulus. Maka segala masalah atau kendala mampu kita atasi ataupun singkirkan. Lalu kita menjadi pribadi yang bebas dan gembira menenun kehidupan dengan benang sutra cinta dan kebaikan.

Istilah determinasi diri pertama kali diperkenalkan oleh Deci dan Ryan dalam buku mereka yang terbit tahun 1985, Self-Determination and Intrinsic Motivation in Human Behavior (Gabriel Lopez-Garrido, “Self-Determination”, dalam Simply Psychology, 4 Januari 2021)

Istilah determinasi diri mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengatur diri sendiri, membuat pilihan dengan percaya diri, dan berpikir mandiri (Deci, 1971).

Determinasi diri adalah teori makro tentang motivasi dan kepribadian manusia. Teori ini berhubungan dengan dua faktor besar: kecenderungan pertumbuhan yang melekat pada orang-orang dan kebutuhan psikologis bawaan dari individu yang sama.

Mengingat determinasi diri dapat membantu mencapai kemandirian, konsep ini memainkan peran penting tidak hanya dalam kesejahteraan individu, tetapi juga kesehatan psikologis mereka secara keseluruhan. Karena determiasi diri menempatkan individu di kursi pengemudi, membuat orang tersebut bertanggung jawab dan berpotensi bersalah atas apa pun yang terjadi.

Determinasi diri juga berdampak besar pada motivasi. Jika manusia percaya bahwa mereka dapat mengelola diri mereka sendiri dengan baik, mereka kemungkinan besar akan menemukan lebih banyak motivasi dalam tugas apa pun yang ingin mereka lakukan.

Asumsi pertama teori determinasi diri adalah bahwa kebutuhan akan pertumbuhan sebagai manusia mendorong perilaku. Orang-orang selalu secara aktif berusaha untuk tumbuh dan berkembang (Deci & Ryan, 1985). Memperoleh penguasaan atas tantangan (baik baru maupun lama) penting untuk mengembangkan rasa percaya diri atau, paling tidak, yang kohesif.

Motivasi otonom itu penting. Teori determinasi diri berfokus pada interaksi antara kekuatan ekstrinsik yang bekerja pada orang dan motif serta kebutuhan intrinsik manusia. Orang pada umumnya dapat dimotivasi oleh faktor luar seperti uang, pengakuan, dan ketenaran, dan jenis motivasi ini dikenal sebagai motivasi ekstrinsik. Namun, teori determinasi diri terutama berfokus pada sumber motivasi internal (dikenal sebagai motivasi intrinsik), seperti belajar untuk mendapatkan kemandirian dan ingin membuktikan diri.

Menurut Lepper, Greene, dan Nisbett (1973) jika perilaku itu murni ditentukan sendiri, ada kemungkinan yang sangat tinggi bahwa itu akan didorong secara intrinsik dan bahwa perilaku tersebut dilakukan bukan demi ganjaran atau hadiah, melainkan untuk kepuasan diri, minat, dan kesenangan atas perilaku itu sendiri.

Secara praktis, dalam kehidupan sehari-hari determinasi diri amat penting. Kita menentukan untuk menjadi apakah kita. Kita menggariskan keyakinan akan menjadi sukses dan bermanfaat. Kita disiplin dalam cara pikir dan pola tindak. Kita menetapkan diri sebagai pribadi yang kuat dan pantang menyerah. Kita mengarahkan kehidupan hanya kepada kebaikan dan kemaslahatan.

Misalnya, Anda ingin sehat, bertenaga, kuat dan bugar. Anda mesti mematok diri untuk berdisiplin dalam olah raga dan olah batin. Anda mesti menetapkan pola makan sehat sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Anda perlu mengurangi nasi dan membatasi daging sambil lebih banyak makan sayuran dan buah-buahan.

Contoh lainnya, Anda ingin hidup bebas dari kesulitan uang. Jika begitu, Anda mesti gemar menabung dan rajin berinvestasi. Anda wajib mengatur "cash flow" agar pengeluaran tidak lebih banyak daripada pendapatan. Ya, tidak lebih besar pasak daripada tiang. Jadi, Anda menjadi orang yang hemat tapi tidak pelit, tetap bisa menolong mereka yang kesusahan, misalnya anak yatim piatu atau fakir miskin.

Determinasi diri membuat kita berkepribadian kuat. Anda yang ingin menjadi pemimpin mesti punya determinasi diri. Mengendalikan dan menguasai segala hawa nafsu dan kecenderungan adalah salah satu ciri determinasi diri. Ya, identik dengan disiplin diri, agar Anda tidak mudah jatuh ke lubang ketamakan dan doyan korupsi.

Apakah saya yang menulis catatan ini sudah punya determinasi diri? Seperti Anda, saya sedang berjuang untuk terus menjadi lebih baik dan lebih kuat, juga dalam hal ini.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar