Breaking News
  • Kemkominfo tunggu Telegram sampai bulan depan
  • KPK ajukan banding terhadap vonis Irman & Sugiharto
  • KPK pantau penanganan kasus korupsi di Malut
  • PKB dan NU siap ke Palestina
  • Presiden akan hadiri Pekan Nasional Perubahan Iklim

OPINI Kita Perlu Terus Berbenah (Catatan Tercecer Pasca ETMC 2017) 12 Aug 2017 12:05

Article image
Para pemain PSN Ngada dan Perse Ende berfoto bersama sebelum pertandingan final ETMC 2017. (Foto: Reinard L. Meo)
Sepakbola pun merupakan wahana antar kita untuk berbagi kegembiraan, semangat, harapan, sportivitas, persaudaraan dan energi positif lainnya.

Oleh Valens Daki-Soo

 

JUMAT pagi kemarin (11/8/2017) sebelum ke Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi yang juga Ketua Umum PSSI sempat berkontak dengan saya. Setelah bincang sejenak soal lain, Pak Edy bertanya, "Ada apa dengan sepakbola di kampungnya, Bung?"

Rupanya "insiden (stadion) Marilonga" telah sampai di telinga Ketum PSSI. 

Sudah sangat banyak catatan kritis-korektif, ada juga yang emosional-agresif (dari para pencinta PSN Ngada) maupun defensif-kontra (dari kubu pro Perse Ende), terkait laga final El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 di Ende yang kontroversial dan jadi noda hitam dalam sejarah persepakbolaan NTT itu. 

Ringkas kata, itu sungguh buruk dan jadi pelajaran mahal ke depan. Tidak cukup hanya dengan marah dan mencerca siapapun, mesti ada evaluasi serius dan langkah lanjutnya agar sepakbola NTT kembali positif dan semakin berkembang.

***

Sepakbola bukanlah sekadar hiburan bagi kita sebagai "homo ludens" (makhluk yang suka bermain). Bagi para pemain, sepakbola bisa menjadi "hidup" dan masa depan mereka. Bagi para usahawan, sepakbola dapat digarap sebagai bisnis. Untuk para pedagang kecil, berbagai 'event' sepakbola adalah peluang untuk memetik rejeki. Sepakbola pun merupakan wahana antar kita untuk berbagi kegembiraan, semangat, harapan, sportivitas, persaudaraan dan energi positif lainnya.

Seorang pakar sepakbola Mauricio Murad dalam tulisannya berjudul “Football and Society in Brazil” (2005) menulis dengan tegas: Football has magic power to change the society! Pasalnya, sepakbola memiliki kekuatan fisik dan simbolik untuk mengubah individu ataupun masyarakat di dalamnya.

Murad meneliti tentang sepakbola di Brazil, negeri penguasa sepakbola dunia karena telah menjuarai event Piala Dunia sebanyak lima kali. Sepakbola telah mengubah dan menjadi unsur dominan dari kebudayaan Brazil. Rakyat Brazil yang saat itu dijajah oleh Portugal menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai hiburan di kala susah, tetapi ekpresi simbolik melawan penjajah. Sepakbola menjadi wahana emansipasi untuk keluar dari penjajahan, lalu merengkuh kemerdekaan.

Pasca kemerdekaan Brazil, demikian Murad, sepakbola diyakini memiliki kekuatan magis untuk mengubah kehidupan ekonomi orang. Talenta-talenta jenial Brazil seperti Pele, Adriano, Ronaldo, Ronaldinho, dan Neymar dilahirkan dari sepakbola jalanan di Brazil. Dilahirkan dalam keluarga miskin, para jenius itu menyalurkan ketakberdayaan mereka dalam bentuk latihan keras disertai komitmen untuk mengubah hidup. Hasilnya saja bisa kita lihat, Neymar da Silva Jr baru-baru ini mencatat rekor pembelian termahal dunia mengalahkan Cristiano Ronaldo!

Namun, menurut Murad, sepakbola tidak hanya melukiskan realitas masyarakat, tetapi memiliki kekuatan mengubah masyarakat. Murad menghubungkan sepakbola dengan nasionalisme di Brazil. Sebagai negara terbesar di Amerika Selatan, kondisi politik, konstelasi ekonomi, ataupun kehidupan sosiologis masyarakat akan dilampaui dalam semangat bergoyang Samba, tarian yang memberi spirit bagi kesebelasan Brazil yang berlaga membela negaranya.

Sepakbola memiliki energi untuk menghibur, menyatukan, dan membangkitkan persaudaan sebagai sesama anak bangsa. Saya yakin perasaan yang sama kita alami ketika tim kesebelasan sepakbola kita melawan negara lain. Ada semburat semangat persatuan, persaudaraan, dan imajinasi tentang Indonesia sebagai bangsa ketika mendukung tim kesebelasan kita.

***

Jadi, kalau kita hanya -- atau lebih -- mementingkan urusan menang-kalah, kalau kita berprinsip "yang penting juara apapun caranya", kalau kita mengabaikan bahkan merusak persaudaraan karena sepakbola, berarti ada yang salah dalam cara pandang kita tentang sepakbola.

Tentu, saya tetap mengapresiasi usaha Pemkab Ende yang sejak awal menata diri agar menjadi tuan rumah yang baik dan "megah", dengan membangun stadion yang sangat bagus. Namun, "megah" saja tak cukup, harus juga "ramah". Artinya bisa menciptakan rasa aman bagi warga sendiri dan para tamunya. 

Sempat saya mengandaikan pasca kejadian, kalau saja tidak ada insiden itu, ETMC 2017 di Ende sangat keren dan sukses, kendatipun Perse tidak juara misalnya. Meski hanya lewat Youtube saya kagum saksikan kemegahan stadion, 'keanggunan' seremoni pembukaan, juga animo para penonton yang luar biasa.

Sayang sekali, kombinasi satu-dua atau beberapa faktor telah memicu terjadinya insiden tersebut.

Saya bukan pengamat -- juga bukan eks pemain -- sepakbola. Saya hanyalah anak bangsa yang bangga dan bahagia bila kader-kader hebat muncul di berbagai bidang termasuk sepakbola. Karenanya meski saya fans berat PSN Ngada sejak masa bocah, tetap saya pun berharap bibit-bibit terbaik sepakbola NTT bisa muncul dari Perse Ende, Persami Maumere dan lainnya.

Tak cukup kita bangun stadion megah. Itu memang perlu sebagai infrastruktur. Yang juga -- bahkan jauh lebih -- penting adalah bangun mental dan budaya sepakbola, yang di dalamnya termasuk unsur sikap menjunjung tinggi sportivitas, fair play dan apresiasi terhadap keunggulan lawan. Para pemain pun seyogianya tak hanya dilatih keterampilannya mengolah bola (technical skill), melainkan juga kepandaian mengelola emosi.

Sepakbola tidak hanya tentang infrastruktur. Sepakbola menyangkut suprastruktur, yakni terkait nilai. Sepakbola melekat dengan dengan nilai-nilai yang menyertainya: nilai sportivitas, kejujuran, militansi, kerja sama, dan kekeluargaan. Kita boleh berbeda dalam dukungan, tetapi kita disatukan dalam komitmen suprastruktur yang sama. Hal ini yang perlu menjadi catatan serius dalam pengembangan sepakbola NTT ke depannya.

Kemarin itu kita tak hanya merusak stadion Marilonga yang indah. 

Kita juga melukai wajah 'Kota Pancasila' yang ramah. 

Tapi janganlah berlama-lama larut dalam penyesalan ataupun amarah. 

Kita harus terus melangkah seraya tegas mengoreksi yang salah.

 

Penulis adalah penggemar sepakbola, penikmat psikologi, Pemilik & Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS Group), Pendiri & Pemred IndonesiaSatu.co/&source=gmail&ust=1502618421086000&usg=AFQjCNHew1WGwehjWSYkoH2I5I-SiUxyZg">IndonesiaSatu.co, kini aktif pula di Kantor Staf Khusus Presiden.

Komentar