Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

PERTAHANAN Koarmabar Perlu Perkuat Deteksi Dini Penyusupan Tiongkok 28 Apr 2017 09:34

Article image
Pengamat intelijen dan pertahanan Susaningtyas NH Kertopati menjadi pembicara pada acara Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar yang digelar di Komando Armada RI Kawasan Barat, Jakarta, Kamis (27/4). (Istimewa/Asni Ovier)
Koarmabar juga perlu memperkuat peralatan sonar portabel di beberapa celah sempit di perairan Anambas hingga Bangka-Belitung untuk mendeteksi penyusupan kapal-kapal selam Tiongkok.

Jakarta, IndonesiaSatu.co -- Pengamat intelijen dan pertahanan Susaningtyas NH Kertopati yang akrab disapa Nuning mengatakan, perlu ada transformasi intelijen angkatan laut (naval intelligence) yang terbatas pada dimensi pengamanan dan sektoral menjadi intelijen maritim yang mampu menyediakan informasi menyeluruh kepada pemangku kepentingan maritim nasional.

Untuk itu, diperlukan kerja sama taktis TNI Angkatan Laut, khususnya Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan pesawat tempur Komando Operasi TNI AU I pada patroli di perairan Natuna hingga zona ekonomi eksklusif (ZEE).

“Koarmabar perlu memperkuat deteksi dini dengan pesawat udara TNI AU dan drone serta penambahan radar-radar early warning dan radar-radar surveillance untuk mendeteksi kehadiran pesawat tempur Tiongkok dan kapal-kapal coast guard mereka di kawasan itu,” kata Nuning di sela-sela acara Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar yang digelar di Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Tampil sebagai pembicara, Nuning mengatakan, Koarmabar juga perlu memperkuat peralatan sonar portabel di beberapa celah sempit di perairan Anambas hingga Bangka-Belitung untuk mendeteksi penyusupan kapal-kapal selam Tiongkok.

“Jika upaya-upaya itu tidak dilakukan, maka manajemen risiko yang akan dihadapi Koarmabar sangat berat. Sebagai contoh, jika pesawat-pesawat tempur TNI AU dan sistem pertahanan udara kapal-kapal Koarmabar tidak disiapkan dengan baik, maka serangan udara Tiongkok tidak dapat dicegah,” jelas.

Mengantisipasi meletusnya konflik di Laut Cina Selatan (LCS), Koarmbar harus bisa menjalin kerja sama dengan angkatan laut negara-negara tetangga terutama ASEAN yang berkonflik dengan Tiongkok.

“Minimal, angkatan laut negara-negara tersebut dapat memberikan data intelijen pergerakan kekuatan Tiongkok, sehingga Koarmabar memiliki waktu yang memadai untuk persiapan aksi-aksi pelibatan. Untuk itu, perlu dilatih kerja sama taktis pertukaran data intelijen antara Koarmabar dengan angkatan laut negara-negara tersebut,” katanya.

Menurut Nuning, salah satu parameter yang menentukan kekuatan pertahanan maritim adalah kemampuan pendeteksian serta memberikan reaksi terhadap ancaman secara efektif dan efisien. Intelijen maritim harus menjadi first line of defense.

Nuning juga mengingatkan pentingnya Network Centric Warfare (NCW) sebagai sistem komando dan pengendalian yang fokus pada penggunaan teknologi informasi mutakhir dan berbasis komputer pada kapal, pesawat, pangkalan, dan satuan lainnya. Sistem itu terintegrasi dalam satu sistem komputer atau digital.

“NCW merupakan perwujudan single agency-multi task yang terintegrasi, efisien, dan terpadu untuk memudahkan koordinasi dalam pengumpulan data dan memudahkan respon terhadap ancaman. Dengan demikian, bisa menghindari adanya ego sektoral,” katanya.

Koarmabar perlu menambah jangkauan patroli udara maritim. Salah satunya dengan menggunakan drone yang dapat dikendalikan dari kapal-kapal perang.

--- Simon Leya

Komentar