Breaking News

INTERNASIONAL Komisi Penerbangan AS Yakin Tidak Ada Masalah Dengan Boeing Max 8 13 Mar 2019 16:04

Article image
Pesawat Boeing 737 MAX. (Foto: Newshub)
Komisi Penerbangan AS, Dan Elwell mengatakan bahwa hasil kajian lembanganya tidak menunjukkan ada masalah kemampuan sistematis maupun alasan agar pesawat tersebut dihentikan pengoperasiannya.

WASHINGTON, IndonesiaSatu.co -- Komisi penerbangan Amerika Serikat (AS) mengelurkan kebijakan yang mengejutkan sehubungan dengan pengoperasian pesawat-pesawat Boeing 737 MAX. Ketika banyak negara menghentikan beroperasinya pabrikan Boeing tersebut, AS malah sebaliknya menyatakan tidak akan melarangnya.

Pasca jatuhnya pesawat di Ethiopia yang menewaskan seluruh 157 untuk beroperasi, sejumlah negara termasuk Indonesia yang telah melarang pesawat Boeing Max 8 untuk terbang.

Strait Times, Rabu (13/3/2019) sebagaimana dikutip okezone.com menulis, pejabat Komisi Penerbangan AS, Dan Elwell mengatakan bahwa hasil kajian lembanganya “tidak menunjukkan ada masalah kemampuan sistematis maupun alasan agar pesawat tersebut dihentikan pengoperasiannya."

Badan pengatur keselamatan penerbangan Uni Eropa pada Selasa memerintahkan operasi seluruh penerbangan Boeing 737 MAX di negara-negara anggota kelompok kawasan itu dihentikan untuk sementara.

Inggris, Jerman dan Prancis adalah negara yang akhirnya melarang Boeing 737 MAX untuk terbang. Langkah itu diikuti oleh India hingga meningkatkan tekanan pada Amerika Serikat untuk mengambil keputusan yang sama.

Namun Boeing tetap sangat yakin atas kinerja 737 MAX dan menegaskan bahwa faktor keselamatan merupakan prioritas yang diusung perusahaan.

 

CEO Boeing Telepon Trump

CEO Boeing Dennis Muilenburg memastikan kepada Presiden Trump bahwa pesawat jenis 737 MAX 8 yang diproduksi perusahaan itu aman untuk terbang.

Boeing mengatakan Muilenburg berbicara dengan Trump melalui telepon hari Selasa (12/3/2019) tanpa memberi rincian lebih jauh.

Pesawat Ethiopian Airlines ET302 jenis Boeing 737 MAX 8 jatuh enam menit setelah lepas landas dari bandara internasional Bole di Addis Ababa hari Minggu (10/3), menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 157 orang.

Kecelakaan ini hanya berselang kurang dari lima bulan setelah pesawat jenis yang sama jatuh di Laut Jawa delapan menit setelah lepas landas dari bandara internasional Soekarno-Hatta, menewaskan 189 orang.

Beberapa negara, antara lain China, Indonesia, Ethiopia, Turki, Brazil, Korea Selatan dan seluruh negara di Uni Eropa telah melarang atau menangguhkan terbang seluruh pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan maskapai penerbangan mereka.

Namun, Amerika tetap mengoperasikan jenis pesawat ini, meskipun sebelumnya Presiden Trump telah mencuit bahwa pesawat penumpang modern itu telah menjadi “terlalu rumit.”

“Pesawat terbang kini menjadi terlalu rumit untuk terbang. Tidak lagi dibutuhkan pilot, melainkan hanya ilmuwan komputer dari MIT (Massachusetts Institute of Technology, red). Saya melihat hal ini terjadi pada banyak produk di sepanjang waktu. Selalu berupaya melangkah lebih baik tetapi tidak perlu, seringkali yang lebih tua dan sederhana justru lebih baik. Keputusan kedua adalah…” cuit Trump.

Ia melanjutkan dengan mengatakan “…dan kerumitan menimbulkan bahaya. Semua ini menimbulkan biaya yang besar tetapi hanya sedikit keuntungan. Saya tidak tahu bagaimana (sikap.red) Anda, tetapi saya tidak ingin Albert Einstein yang menjadi pilot saya. Saya ingin seorang penerbang profesional yang hebat yang dapat dengan mudah dan cepat mengendalikan pesawat!”

Tim penyelidik Indonesia mengatakan informasi dari rekaman data penerbangan pada pesawat Lion Air JT610 yang mengalami kecelakaan Oktober lalu menunjukkan sistem keselamatan otomatis berulangkali mendorong hidung pesawat ke bawah meskipun pilot berupaya keras mempertahankan kendali.

Tim penyelidik Ethiopia berharap rekaman data penerbangan akan memberi petunjuk tentang mengapa pesawat itu jatuh.

Boeing hari Selasa mengatakan tidak ada alasan untuk melarang terbang pesawat jenis 737 MAX 8.

“Keselamatan merupakan prioritas utama Boeing dan kami percaya penuh pada keamanan 737 MAX 8,” demikian pernyataan Boeing, dan menambahkan belum ada pedoman baru yang diterbitkan dan otorita penerbangan sipil Amerika pun belum merekomendasikan langkah apapun.

--- Simon Leya

Komentar