Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

GAYA HIDUP Konsumsi Kedelai Bisa Bantu Lawan Kanker Payudara 28 Nov 2017 11:53

Article image
Semua wanita atau semua penderita kanker payudara dapat menambahkan kedelai sebagai komponen dari diet yang sehat. (Foto: The Morung Express)
Perempuan yang mengkonsumsi paling banyak makanan yang mengandung kedelai memiliki kemungkinan 21 persen untuk hidup lebih panjang dibandingkan mereka yang mengkonsumsi sedikit kedelai.

SEBUAH penelitian di Amerika menunjukkan bahwa makan lebih banyak kedelai dapat memperpanjang peluang hidup lebih lama bagi para penderita kanker payudara. Memakan kedelai juga tidak berbahaya bagi pasien yang sedang diobati dengan hormon.

Padahal, penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa kedelai dapat membantu penyebaran tumor menyebar serta membuat perawatan berbasis hormon menjadi kurang efektif.
Untuk penelitian ini, peneliti mengkaji data dari 6.235 wanita di Amerika dan Kanada yang menderita kanker payudara. Setengah dari wanita tersebut diteliti selama setidaknya sembilan tahun.

Selama penelitian, perempuan yang mengkonsumsi paling banyak makanan yang mengandung kedelai memiliki kemungkinan 21 persen untuk hidup lebih panjang dibandingkan mereka yang mengkonsumsi sedikit kedelai.

"Semua wanita atau semua penderita kanker payudara dapat menambahkan kedelai sebagai komponen dari diet yang sehat," kata Dr Fang Fang Zhang, peneliti nutrisi dan ilmu kebijakan di Tufts University, Boston yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip kompas.com. 

Penelitian difokuskan pada isoflavon, senyawa dalam kedelai yang dapat ditemukan dalam makanan seperti tahu, miso, edamame dan susu kedelai. Isoflavon dalam keluarga senyawa tanaman dikenal sebagai phytoestrogen yang secara kimiawi dan struktural mirip dengan hormon seks wanita, estrogen.

Peneliti menemukan adanya hubungan yang kuat antara kedelai dan kelangsungan hidup wanita penderita kanker payudara yang tidak dapat diobati dengan hormon.

Namun, mereka tidak melihat hubungan antara konsumsi kedelai dan usia panjang untuk wanita penderita tumor yang bergantung pada estrogen atau wanita yang menerima terapi endokrin.

"Temuan kami menunjukkan konsumsi makanan kedelai tidak memiliki efek berbahaya bagi wanita yang diobati dengan terapi endokrin, tetapi manfaat mungkin terbatas pada wanita dengan reseptor hormon tumor negatif atau mereka yang tidak diobati dengan terapi endokrin," ujar Zhang.

Untuk penelitian ini, peneliti mengkaji data dari kuesioner diet wanita yang didiagnosa menderita kanker payudara dari tahun 1996 sampai 2011. Pada awalnya, usia para wanita itu rata-rata 52 tahun dan berpendidikan tinggi. 

Sekitar 47 persen dari mereka mengambil terapi hormon untuk tumor. Rata-rata, para wanita itu mengkonsumsi 1,8 miligram isoflavon setiap hari, yang kira-kira setara dengan satu ons keju kedelai dan jauh lebih sedikit dari porsi 3 ons tahu atau setengah porsi cangkir edamame. Selama penelitian, ada 1.224 perempuan yang meninggal.

Salah satu keterbatasan dari penelitian ini adalah bahwa wanita yang makan kedelai lebih banyak  cenderung lebih makmur serta memiliki gaya hidup sehat. Sehingga kondisi tersebut memungkinkan adanya faktor-faktor lain di luar makanan isoflavon yang berpengaruh pada usia panjang mereka. 

Para peneliti juga tidak memiliki data tentang jenis dan ukuran terapi hormon bagi wanita yang menerima perawatan ini, yang juga dapat mempengaruhi peluang kelangsungan hidup.

Namun, temuan ini mendukung penelitian sebelumnya di Asia yang menghubungkan asupan kedelai diet tinggi dengan risiko lebih rendah terkena kanker payudara.

"Hal ini tidak mengherankan bahwa kajian ini menunjukkan wanita di Amerika Utara juga mendapat manfaat dari asupan kedelai dengan kematian akibat kanker payudara berkurang saat pengobatan," kata Dr Omer Kucuk, seorang peneliti di Winship Cancer Institute,Emory University, Atlanta.

 

--- Elisabeth Sylvie

Komentar