Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

REGIONAL Korban Tenggelamnya KM Arista di Perairan Makassar Menjadi 15 Orang 14 Jun 2018 17:01

Article image
Tim Gabungan saat melakukan Evakuasi di Perairan Makassar, Sulawesi Selatan (Foto: Ist)
Hingga hari ini, tim gabungan kembali mengerahkan dua kapal motor milik Basarnas untuk mencari 6 korban lainnya.

MAKASSAR, IndonesiaSatu.co-- Korban kecelakaan tenggelamnya kapal nelayan di perairan Makassar, Sulawesi Selatan terus bertambah. Dua korban yang ditemukan meninggal oleh tim evakuasi yakni Soraya (6 tahun) dan Indriani (7 tahun). Hingga Kamis (14/6/18), jumlah sementara korban yang meninggal akibat kecelakaan tersebut menjadi 15 orang.

"Jenazah korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Jalla Ammari TNI Angkatan Laut, kemudian dipindahkan ke RS Bayangkara," ujar Koordinator Rescuers SAR Gabungan, Nasaruddin.

Menurut informasi dari tim evakuasi, kedua jasad bocah tersebut tanpa sengaja ditemukan tim Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Pelabuhan Makassar pada Rabu (13/6/18) tengah malam saat instruksi penghentian sementara pencarian korban sudah dikeluarkan dan baru dilanjutkan keesokan harinya.

Namun pada saat tim hendak mengikat bangkai kapal agar tidak bergerak dan memudahkan pencarian, tim menemukan ada kaki di dalam kapal tersebut. Tim KPLP pun langsung mengevakuasi dengan mengangkat kedua jenazah anak tersebut.

"Keduanya terjepit pada daerah permesinan kapal tempat penampungan solar, sehingga kedua jasadnya ditemukan dalam kondisi kulit menghitam karena terkena solar. Sementara barang lain milik korban, seperti dua kacamata, tas masih baru hingga dompet korban yang masih selamat ditemukan, dan telah diamankan oleh tim KPLP untuk selanjutnya diserahkan ke posko utama,” terang Nasaruddin.

Hingga hari ini, tim gabungan kembali mengerahkan dua kapal motor milik Basarnas untuk mencari 6 korban lainnya. Dibantu dua kapal rakit bermotor, tim gabungan yang terdiri dari SAR Unhas, SAR UNM, BPBD Makassar, Damkar, Kepolisian, KPLP, PMI, Basarnas, TNI AL, dan tim penyelam menyisir lokasi titik tenggelamnya kapal dari dermaga Pelabuhan Rakyat Paotere.

Sebelumnya, berdasarkan kronologis kejadian, pada Rabu (13/6) sekitar pukul 12.45 WITA, perahu KM Arista tenggelam di perairan Makassar tepatnya di perairan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah Makassar.

Kapal yang dinakhodai Kila dengan puluhan penumpang itu bergerak dari Pelabuhan Paotere menuju Pulau Barrang Lompo, Kelurahan Barrang Lompo Makassar, Kecamatan Sangkarrang, Makassar. Namun di tengah pelayaran, kapal yang diduga melebihi kapasitas muatan dihempas ombak  sehingga nahkoda tidak mampu mengendalikan kapal dan akhirnya tenggelam dan karam.

Disebutkan, mayoritas korban yang meninggal dalam kecelakaan laut tersebut yakni lanjut usia (lansia) dan anak-anak karena tidak dilengkapi dengan jaket pengaman saat menumpang kapal.

Nahkoda Ditetapkan Tersangka

Nakhoda sekaligus pemilik kapal nelayan KM Arista, Kila akhirnya ditahan di Direktorat Polisi Air Polda Sulawesi Selatan dan ditetapkan sebagai tersangka.

"Kami sudah tetapkan nakhoda kapal sebagai tersangka. Sejak kemarin, nakhoda kapal diamankan di Polres KPPP Pelabuhan Makassar untuk menjalani pemeriksaan," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani, Kamis (14/6/18).

Menurut Dicky, proses hukum akan ditangani oleh Dit Polair Polda Sulawesi Selatan dan tersangka akan ditahan di sana. Dicky mengatakan, tersangka dikenakan Pasal 359 KUHP tentang kealpaan yang menyebabkan orang meninggal dunia.

"Tersangka memaksakan membawa penumpang melebihi kapasitas yakni lebih dari 40 orang, padahal kapalnya adalah kapal nelayan. Kami masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang masih dinyatakan hilang. Namun, belum diketahui pasti total penumpang dalam kapal tersebut. Ini bukan kapal penumpang, jadi tidak ada manifesnya. Jadi saat ditanya, tersangka hanya mengira-mengira (jumlah penumpang) saja, tersangka hanya mengejar uang saja, tidak memikirkan keselamatan orang lain, apalagi para penumpang juga tidak dilengkapi jaket pengaman saat berada di atas kapal," kata Dicky.

--- Guche Montero

Komentar