Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TRADISI Korobudu, Globalisasi, dan Ketahanan Budaya 16 Oct 2016 15:16

Article image
Oto, salah satu jenis permainan di Detukeli, Kabupaten Ende, NTT (Foto: Megantara Afifa)
Setiap kita sebagai penerus warisan dan tradisi leluhur mempunyai kewajiban moral untuk melestarikan budaya masing-masing.

Oleh Redem Kono

Salah satu di antara pelbagai pengalaman menarik bagi penulis ketika mengenyam pendidikan di STFK Ledalero, adalah kunjungan mahasiswa pada tanggal 6-11 April 2010 di Wolomuku, Kecamatan Detukeli–Kabupaten Ende. Di tempat itu, saya mendengarkan kisah tentang Ngaga Range dan masyarakat Korobudu. Kisah ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi yang serius tentang kebudayaan lokal di tengah himpitan arus global.

Korobudu

Sabtu, 10 April 2010, dalam sebuah perbincangan sore di Korobudu, Bapak Martinus Minggu (“orang tua” selama live in) mengajak saya dan Werly Teluma (teman se-live in), untuk mengunjungi sebuah tempat bernama Kampung Lama. Dalam nada penasaran, kami bertiga bergegas meniti jalan setapak ke kampung itu. Sesekali, kami harus menuruni lembah curam dan menyeruak di antara semak-semak rimbun. Kami butuh kurang lebih 30 menit untuk mencapai tempat tersebut.

Kampung Lama adalah sebuah bekas kampung tradisional yang sudah lama ditinggal penduduknya. Di sana-sini bekas reruntuhan rumah dan batu bersusun masih tampak jelas meski sudah ditumbuhi oleh semak belukar dan ilalang. Makam-makam nenek moyang tanpa nama telah dibangun di atas reruntuhan. Dan, di tengah-tengah perkampungan tersebut, terpancang sebuah tiang beton beratapkan seng agar terlindung dari hujan dan panas. Di atas tiang itu, tersimpan dalam peti, tulang-tulang tubuh pahlawan suku kebanggaan Korobudu; Ngaga Range.

Dalam keheningan tempat itu, atas permintaan Werly, mulailah Bapak Martinus bercerita dalam balutan nada emosional. Ia menceritakan bahwa sebenarnya Kampung Lama itu bernama asli; Korobudu. Saya pun baru tahu bahwa  masyarakat Korobudu, tempat kami ber-live in (jaraknya kurang lebih 8 kilometer dari Desa Wolomuku), adalah pindahan dari kampung itu. Kampung Lama (Korobudu lama), sejak dahulu kala adalah kampung tradisional dengan sistem kekeluargaan yang akrab, gotong royong dan harmonis. Tambahan lagi, nilai kerja keras sungguh terjaga dalam bingkai keteladanan Ngaga Range ketika berjuang demi keamanan dan kesejahteraan suku zaman dahulu kala. Hal itulah yang menciptakan rasa betah dan kecintaan  kepada  Korobudu (lama) secara turun-temurun.

Sayangnya, kearifan lokal  itu mulai terusik dengan hadirnya kemajuan-kemajuan sebagai akibat dari (hadirnya) globalisasi. Kampung Korobudu (lama) jauh dari sarana dan prasarana teknologi memadai, kesulitan transportasi, keterpisahan dari masyarakat kebanyakan, dan kerumitan komunikasi konstruktif dengan pemerintah menjadi penggangu keharmonisan tersebut. Apalagi, janji pembuatan jalan Wolomuku-Korobudu (lama) hanya sebatas wacana dan utopia belaka. Masyarakat Korobudu (lama) kian merasa terisolasi (terkungkung) dari kemajuan zaman. Imbasnya, sejak 1992, terjadi arus perpindahan penduduk ke dataran Wolomuku demi ‘pemenuhan tuntutan peradaban.’

Pada awalnya, bapak Martinus dan beberapa warga menolak untuk pindah. Mereka bersikeras mendiami Korobudu (lama) sebagai wujud kecintaan terhadap nenek moyang dan kebudayaan mereka. Namun, karena jumlah mereka kian menipis (tinggal 5 keluarga), mereka bersepakat -dengan berat hati dan sedih- untuk meninggalkan Korobudu (lama). Sebagai gantinya, sebuah kampung baru didirikan antara Korobudu (lama) dengan perumahan penduduk lainnya. Kampung lima keluarga ini juga dinamai Korobudu.

 Ketahanan Budaya

 Kisah haru masyarakat Korobudu di atas menjadi representasi realitas aktual bahwa banyak budaya tradisional NTT terpaksa dan dipaksa ‘kalah’ oleh tuntutan globalisasi. Dampak globalisasi menggerusi warisan budaya yang susah payah dilestarikan waktu ke waktu. Benar kata Jean Baudrillard, globalisasi menyebarkan virus kekerasan seperti memaksakan komformisme budaya dalam implikasinya. Globalisasi tak terbantahkan berwajah dua; di satu pihak ia membuka keterisolasian budaya, melampaui batas-batas budaya demi terwujudnya dialog budaya. Di lain pihak, globalisasi berpotensi menghancurkan kebudayaan dan kearifan lokal sebuah suku. Singkatnya, globalisasi mengancam ketahanan budaya (cultural resilience) sebuah masyarakat tradisional.

 Imposisi budaya dan memudarnya nilai-norma budaya oleh globalisasi secara eksplisit disoroti oleh Prof.Dr. Fuad Hassan dalam bukunya, Studium Generale (2001). Prof. Fuad mengatakan bahwa secara substansial kebudayaan mengandung dua (2) daya sekaligus; satu daya dengan kecenderungan preservatif dan lainnya lagi dengan kecenderungan progresif. Daya preservatif merupakan kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai moral budaya sendiri dalam perjumpaan antar budaya. Termasuk di sini, ketahanan budaya. Sebaliknya, daya progresif berisikan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dialog budaya. Daya ini berpotensi menimbulkan pemujaan dan ketertarikan buta terhadap budaya lain (terutama globalisasi) tanpa membangun ketahanan budaya sendiri.

Dalam terang pemikiran di atas, masyarakat Korobudu boleh jadi telah tenggelam dalam implementasi dan implikasi dari daya progresifnya dalam menghadapi globalisasi. Kecenderungan progresivitas ini menjadi dominan sehingga terjadi arus perpindahan ke daerah lain. Namun, masyarakat Korobudu (yang pindah maupun tidak) tidak boleh sekali-kali dituduh sebagai kausatif primer tunggal tergerusnya budaya mereka. Hemat penulis, salah satu faktor utama lunturnya ketahanan budaya itu adalah ketidaksiapan mereka untuk menerima globalisasi dan dampaknya. Dan, kenyataan menurunnya budaya tersebut hampir ditemukan dalam setiap suku.

Tambahan lagi, paksaan komformisme budaya ini mengingatkan kita bahwa pemerintah belum menunjukkan realibilitasnya sebagai benteng utama ketahanan budaya masyarakat yang legal. Masyarakat belum diberikan ‘bekal secukupnya’ tentang apa dan bagaimana menghadapi globalisasi itu. Tidak heran jika keterkejutan budaya (shock culture) begitu menggurita dalam wujud kekalahan dan keterkaparan budaya dari amukan globalisasi. Buntut dari kekalahan ini, menciptakan generasi penerus yang malu berpakaian daerah, lebih suka make up ria di salon dari pada belajar tenun ikat, doyan goyang ala barat daripada tarian–tarian tradisional, atau lebih memilih main band dari pada kursus sasando. Inikah kenyataan yang harus dibanggakan?!

Tak dinyana bahwa ancaman terhadap ketahanan budaya tersebut, otomatis menciptakan pereduksian terhadap kearifan lokal dan identitas suku kita. Bagi penulis, setelah mendengar kisah nan emosional Bapak Martinus, di benak  muncul beberapa pertanyaan nakal; mungkinkah nilai-nilai  kepahlawanan Ngaga Range terus dihidupi oleh generasi penerus di Korobudu? Lestarikah nilai dan norma genuine sebagai acuan normatif dalam kata, pikiran serta tindakan dalam suku ini? Masih hormat dan ingatkah generasi penerus kepada leluhur mereka di Korobudu? Benarkah identitas kesukuan penduduk Korobudu akan hilang? Dan, bukankah realitas ini juga suatu representasi sekaligus pratanda bahwa pada suatu saat nilai-nilai kearifan lokal hanya tinggal nama?

Jalan keluar

Pesimisme ini bukan berarti sebagai sebuah pelecehan terhadap masyarakat Korobudu pada khususnya dan suku-suku kita pada umumnya. Pesimisme ini hendaknya diartikan dari kacamata positif sebagai ekspresi kecintaan dan kemauan untuk menciptakan reorientasi baru dan manjur dalam menghadapi globalisasi. Setiap kita sebagai penerus warisan dan tradisi leluhur mempunyai kewajiban moral untuk melestarikan budaya masing-masing. Ancaman  pengikisan kebudayaan itu universal mengingat universalisasi dan universalitas globalisasi. Ini tidak boleh dibiarkan! Sebab itu, ada beberapa pikiran sederhana sebagai jalan keluar untuk membangun (kembali) ketahanan budaya versus globalisasi.

Pertama, pemerinta dapat memberikan sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat (terutama kepada orang muda) tentang ancaman distortif globalisasi terhadap budaya mereka. Sosialisasi ini hendaknya juga memberikan solusi-solusi kunci (keynote solutions) dalam menghadapi ancaman tersebut. Nilai-nilai moral hendaknya tetap dilestarikan dalam kerangka pembangunan daerah. Selain itu, perlu ada penyediaan dana bagi studi dan pengkajian kebudayaan setiap suku untuk dilestarikan atau disimpan dalam dokumen-dokumen tertulis. Pemerintah pula harus membangun akses (misalnya jalan raya, listrik, dll) dan menjalin relasi mutualis dengan masyarakat terutama di pusat-pusat kebudayaan tradisional.

Kedua, setiap masyarakat adat (suku) hendaknya membangun kesadaran tentang penting dan luhurnya kearifan lokal dan identitas kesukuan mereka. Hidup dalam jaman globalisasi bukan berarti merelakan lunturnya kebudayaan sendiri. Globalisasi tidak bisa dihentikan karena mondialitasnya, tapi hanya bisa dihadapi dalam euforia ketahanan budaya yang mumpuni. Risalah ‘berpikir global, bertindak lokal’ harus menjadi bagian dari upaya melawan paksaan komformisme budaya yang ekstrem.

Ketiga, setiap agama harus memiliki keterpanggilan profetik dan pastoral untuk tak jemu-jemunya mengobarkan semangat umat untuk mencintai budaya sendiri, tanpa jatuh pada fanatisme budaya yang ekstrem. Nilai dan norma budaya suku adalah karunia Tuhan yang luhur sehingga harus dijaga ‘kemurniannya’ serta dilestarikan eksistensinya.

Alangkah indah dan manjurnya bila kearifan lokal (budaya) menjadi instrumen bagi agama dalam menjalankan kegiatan pastoralnya di tengah dunia. Dalam situasi ini, tepatlah kata Hans Kung, seorang teolog Katolik terkenal; “tak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama. Tak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama, tapi patut ditambahkan bahwa tidak ada dialog tanpa penelitian terhadap dasar-dasar kebudayaan.” Nilai dan norma moral dari budaya memang ampuh dan efektif dalam karya pewartaan agama-agama!

Kisah  masyarakat Korobudu hendaknya membuka kesadaran kita bahwa betapa berbahayanya ancaman distortif (bahkan destruktif) globalisasi bagi harmonisasi dan kelanggengan budaya kita. Karena itu, kita juga harus menjadikan kebudayaan sendiri sebagai kerangka acuan untuk menjadi tatanan normatif dalam hidup harian. Nilai-nilai moral bukanlah cerita usang masa lalu. Nilai itu hendaknya tetap dihidupi. Dengan demikian, ancaman kehilangan kekhasan dan ketahanan budaya, keterasingan dari budaya sendiri (cultural alienation) dan migrasi penduduk -seperti di Korobudu- dapat dihindarkan. Hal ini sangat mungkin kita lakukan karena sebagai bagian atau anggota suku tertentu, kita selalu memiliki keterikatan emosional dan bela rasa dengan warisan budaya  masing-masing. Solidaritas komunal itu hendaknya tidak terjebak dalam solidaritas primordial yang sempit tetapi menjadi wahana urgen bagi ketahanan budaya yang luhur.   

 Penulis adalah Wartawan IndonesiaSatu.co

Komentar