Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Korut Kembali Kembangkan Rudal Balistik Baru 31 Jul 2018 11:02

Article image
Jabat tangan mesra antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un pada moment pertemuan tingkat tinggi di Singapura (12/6/2018). (The New Daily)
Fasilitas Sanumdong dikenal sebagai lokasi yang telah memproduksi gelombang pertama rudal-rudal balistik Korut yang mampu menjangkau AS.

WASHINGTON, IndonesiaSatu.co -- Janji dan niat baik Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir dan rudal jarak jauh kini sedang dipertanyakan. Belum lewat dua bulan setelah pertemuan puncak antara keduanya di Singapura, 12 Juni 2018, beredar kabar kalau Korea Utara (Korut) sedang mengembangkan rudal balistik baru.

Laporan terkini mengenai aktivitas Korut didapat selagi sejumlah satelit mata-mata memantau fasilitas Sanumdong dekat Pyongyang.

Menurut beberapa pejabat AS kepada harian Washington Post sebagaimana dikutip BBC Indonesia (31/7/2018), satu atau dua rudal balistik terlihat sedang dibuat di lokasi itu.

Fasilitas Sanumdong dikenal sebagai lokasi yang telah memproduksi gelombang pertama rudal-rudal balistik Korut yang mampu menjangkau AS.

Seorang pejabat yang diwawancarai kantor berita Reuters mengatakan belum jelas seberapa jauh perkembangan proyek tersebut.

Bagaimanapun, menurut Reuters, citra satelit memperlihatkan sejumlah kendaraan hilir-mudik di tempat itu.

Laporan bahwa Korut amat mungkin melanjutkan program senjata nuklirnya bukan yang pertama mengemuka setelah pertemuan antara Trump dan Pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura, Juni lalu.

Pada akhir Juni, media AS merilis laporan berdasarkan bocoran intelijen berisi indikasi bahwa Korut masih menggencarkan proyek di lokasi pengayaan nuklir.

Kemudian, pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengungkapkan kepada para senator bahwa pabrik-pabrik Korut "masih memproduksi material fisil" yang digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Padahal, pada pertemuan di Singapura, Trump dan Kim menyatakan bertekad bekerja menuju denuklirisasi.

Bahkan, Trump menegaskan Korut "tak lagi menjadi ancaman nuklir".

 

--- Simon Leya

Komentar