Breaking News

INTERNASIONAL Krisis Listrik Terus Melanda Venezuela, Warga Terpaksa Minum Air Kotor 12 Mar 2019 15:44

Article image
Warga Venezuela terpaksa mengambil air minum dari drainase kotor di tepi sungai Guaire. (Foto: spiegel.de)
Pemimpin oposisi Juan Guaido: Korupsi dan salah kelola pemerintahan Maduro merupakan akar dari krisis ekonomi dan politik yang makin mengerikan ini.

CARACAS, IndonesiaSatu.co -- Krisis kemanusiaan di Venezuela semakin parah menyusul putusnya aliran listrik yang telah memasuki hari keenam.

Seperti dilansir Spiegel Online, Selasa (12/3/2019), warga Venezuela yang semakin frustrasi karena krisis ekonomi dan padamnya listrik terpaksa mengambil air dari sungai yang tercemar dan pipa-pipa drainase kotor.

Meski diperingatkan oleh petugas kesehatan, warga tetap mengisi botol-botol air ari pipa drainase yang mengalir ke sungai Guaire. Air dari pipa-pipa drainase itu mestinya hanya boleh digunakan untuk keperluan kamar mandi atau membersihkan lantai.

Selain itu, kualitas makanan di rumah-rumah maupun di restoran dan pertokoan tidak bisa pertahankan karena ketiadaan listrik.

Sedangkan tim medis berupaya memindahkan pasien yang perlu dioperasi ke rumah-rumah sakit yang memiliki generator listrik agar dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Krisis listrik juga menimbulkan masalah komunikasi dan penjarahan yang semakin merajalela di Caracas dan kota-kota lainnya.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro tetap menuding Amerika Serikat (AS) dan kubu oposisi sebagai pelaku sabotase listrik melalui serangan siber yang melumpuhkan pembangkit listrik tenaga air di negara itu.

Tudingan Maduro dibantah pemimpin oposisi Juan Guaido. Ia mengatakan, korupsi dan salah kelola pemerintahan oleh Maduro merupakan akar dari rentetan krisis ekonomi dan politik saat ini.

Guaido mengatakan, minimnya investasi untuk pengelolaan infrastruktur telah menyebabkan sejumlah besar pakar di bidang kelistrikan meninggalkan negaranya dan menyebabkan kekacauan dan kehancuran Venezuela.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menolak keras tudingan Maduro. Ia justru mengecam Maduro yang semakin menutup diri terhadap bencana kemanusiaan di negaranya.

Pompeo mengatakan, Maduro mengirim 50.000 barel minyak ke Kuba setiap hari untuk membantu menopang “perekonomian tirani sosialis Kuba, sementara Maduro membutuhkan kepakaran dan tekanan Kuba untuk melanggengkan kekuasaannya”.

--- Rikard Mosa Dhae