Breaking News

INTERNASIONAL Krisis Myanmar, Paus Fransiskus: Rumah Ibadah Berfungsi Sebagai Tempat Perlindungan Netral 21 Jun 2021 09:30

Article image
Paus Fransiskus menyampaikan pidatonya saat mendaraskan doa Angelus dari jendela kediamannya yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus, di Vatikan, Minggu, 20 Juni 2021. (Foro: AP)
Paus menambahkan dia bergabung dengan seruan gereja untuk koridor kemanusiaan untuk memungkinkan jalan yang aman bagi mereka yang melarikan diri.

VATICAN, IndonesiaSatu.co -- Paus Fransiskus pada Minggu mengecam penderitaan para pengungsi di Myanmar dan memohon agar rumah ibadah dihormati sebagai tempat netral untuk berlindung.

Dia mengatakan kepada publik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus Minggu siang bahwa dia menyatukan seruannya dengan suara para uskup negara Asia yang menyerukan koridor kemanusiaan.

Paus Fransiskus menyesalkan bahwa ribuan orang terlantar di Myanmar “sekarat kelaparan.” Kekerasan, termasuk perusakan desa, telah menjadi endemik sejak tentara merebut kekuasaan pada Februari, menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.

Gerakan pembangkangan sipil tanpa kekerasan menantang aturan militer, tetapi upaya junta untuk menekannya dengan kekuatan mematikan telah memicu perlawanan.

Paus Fransiskus mencatat bahwa para uskup Katolik Myanmar pekan lalu meluncurkan seruan, “menyerukan perhatian seluruh dunia, pengalaman yang menyayat hati dari ribuan orang di negara itu yang terlantar dan sekarat karena kelaparan.”

Paus menambahkan dia bergabung dengan seruan gereja untuk koridor kemanusiaan untuk memungkinkan jalan yang aman bagi mereka yang melarikan diri.

Menggemakan suara para uskup, Paus Fransiskus juga bersikeras bahwa “gereja, pagoda, biara, masjid, kuil, sama seperti sekolah dan rumah sakit, dihormati sebagai tempat perlindungan yang netral.”

Paus kemudian berdoa untuk perdamaian di Myanmar sebelum mencatat bahwa hari Minggu adalah Hari Pengungsi Sedunia, sebuah inisiatif yang dipromosikan oleh PBB.

“Mari kita buka hati kita untuk para pengungsi,” kata paus.

“Mari jadikan kita kesedihan dan kegembiraan mereka, mari belajar dari ketangguhan mereka yang berani,” kata Fransiskus.

Dengan begitu, katanya, “bersama-sama, kita akan menumbuhkan komunitas yang lebih manusiawi, satu keluarga besar.”

--- Simon Leya

Komentar