Breaking News

KEUANGAN KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Juli 2019 Aman Terkendali 31 Jul 2019 11:55

Article image
Konferensi pers KSSK bulan Juli 2019 di Jakarta, Selasa (30/7). (Foto: ist)
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, perkembangan positif di sektor riil turut menyebabkan optimisme pasca pemilu.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada rapat berkala Jumat (26/7) menyimpulkan Stabilitas Sistem Keuangan triwulan II 2019 terjaga dengan baik. Hal ini berdasarkan hasil pemantauan lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan, dan penjaminan simpanan.

Dalam rapat yang diadakan di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), KSSK memandang stabilitas sistem keuangan domestik tetap baik, ditopang industri perbankan yang tetap sehat dan pasar keuangan domestik yang kondusif.

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor utama,"beber Menteri Keuangan Ri Sri Mulyani dalam konferensi pers yang diadakan di Gedung Bank Indonesia (BI), Selasa, (30/7/2019).

Pertama, lanjut Sri Mulyani, menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu respon sejumlah bank sentral di negara maju dan negara berkembang yang melonggarkan kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS yang diprediksi akan menurunkan suku bunga kebijakan moneter. Perkembangan tersebut mendorong aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kedua, faktor imbal hasil investasi portofolio di aset keuangan domestik yang lebih menarik.

Ketiga, membaiknya persepsi terhadap prospek ekonomi Indonesia, seiring peningkatan sovereign rating Indonesia oleh Standard and Poor’s (S&P). Kondisi tersebut turut memperkuat Rupiah serta meningkatkan kinerja pasar obligasi negara dan pasar saham.

Sri MUlyani menambahkan, terjaganya stabilitas sistem keuangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan positif di sektor riil yang kian berkembang pasca pemilihan umum April lalu.

"Kendati demikian, KSSK mencatat beberapa potensi risiko dari eksternal dan domestik yang harus diwaspadai,"lanjut Ani, sapaan Akrab Menkeu.

Dari eksternal, salah satunya adalah berlanjutnya ketegangan hubungan dagang AS–Tiongkok yang berpotensi melebar ke negara yang menjadi hub bagi ekspor Tiongkok ke AS. Faktor ini terus menekan volume perdagangan dunia serta memperlambat prospek pertumbuhan ekonomi global. Ekonomi global yang melemah pada gilirannya makin menekan harga komoditas, termasuk harga minyak.

Dari dalam negeri, KSSK melihat bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah mempertahankan momentum pertumbuhan serta memperbaiki current account deficit (CAD) di tengah melemahnya perekonomian global.

Merespon hal tersebut, KSSK terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional yang berkelanjutan.

"Koordinasi kebijakan tersebut juga diharapkan dapat mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA),"ujar dia.

--- Sandy Romualdus

Komentar