Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

REFLEKSI Kungfu, Agama, Daya Tangkal 19 Jun 2017 17:06

Article image
Sang master Kungfu legendaries Bruce Lee. (Foto: Business Line)
Dengan belajar beladiri rasa percaya diri Anda meningkat dan secara psikospiritual kepribadian Anda memancarkan aura 'pemenang'. Akibatnya Anda disegani siapapun 'lawan potensial'.

Oleh Valens Daki-Soo

 

SESEORANG pernah bertanya kepadaku, "Anda begitu serius berlatih kungfu. Apakah Anda pakai itu untuk berkelahi atau bertarung?"

Kujawab dengan tertawa:

Beladiri bukan untuk berkelahi melainkan untuk mengolah diri. Kalau hanya untuk berkelahi, tak perlu belajar kungfu. 

Namun, dengan belajar beladiri rasa percaya diri Anda meningkat dan secara psikospiritual kepribadian Anda memancarkan aura 'pemenang'. Akibatnya Anda disegani siapapun 'lawan potensial'.

Justru Anda 'unggul', ketika orang segan bertarung dengan Anda karena disergap pancaran aura itu. Anda menjadi pemenang tanpa perlu menghamburkan energi.

Kisah hidup Bruce Lee menegaskan bahwa mendalami ilmu beladiri Kungfu tidak semata agar orang mahir bertarung fisik. Sang master Kungfu legendaries ini konon selalu membawa sebuah buku catatan ke mana-mana, di mana ia menuangkan semua pemikiran penting yang terpikirkan olehnya dalam kesehariannya.

Dari catatan-catatan lepas yang berhasil dikumpulkan, kita dapat memahami pemikiran Bruce Lee tentang bagaimana mengelola dan memperkuat tubuh dan jiwanya. Bruce Lee menulis tentang tekad dan emosi; tentang akal, imajinasi, dan ingatan; dan tentang alam bawah sadar dan nurani.

Menurut Bruce Lee, kekuatan tekad adalah pengadilan tertinggi atas semua bagian lainnya dalam pikiran. Setiap hari Bruce Lee melatih bagaimana membentuk kebiasaan yang dirancang untuk mewujudkan tekadnya menjadi tindakan nyata paling tidak satu kali dalam sehari.

Tentang emosi, Bruce Lee menulis, “Menyadari bahwa aku memiliki emosi positif dan negatif, aku akan membentuk kebiasaan sehari-hari yang akan mendorong perkembangan emosi positifku dan membantuku untuk mengubah emosi negatif menjadi suatu bentuk tindakan yang berguna.”

Bruce Lee belajar tentang akal karena dia sadar bahwa emosi positif dan negatifnya bisa berbahaya jika tak dituntun ke akhir yang diinginkan.

“Aku akan menyerahkan semua keinginan, target, dan tujuanku ke penalaranku, dan aku akan dituntun olehnya dalam mengungkapkan emosiku.”

Bruce Lee menulis tentang hati nurani. Bruce Lee sadar bahwa emosinya sering bergelora dan menjadi keliru, dan penalarannya seringkali tak disertai kehangatan perasaan yang penting untuk membuatnya mampu menyatukan keadilan dan belas kasih dalam pandangannya.

“Aku akan mendorong hati nuraniku untuk membimbingku mengetahui mana yang benar dan salah. Tapi aku tak akan pernah mengesampingkan putusan yang dibuatnya, tak peduli harga yang harus dibayar.”

Seperti seorang filosof atau teolog, Bruce Lee menulis tentang bagaimana memahami hidup.

Kamu tidak akan pernah mendapatkan lebih dari yang kamu harapkan dari hidup. Fokuskan pikiranmu pada apa yang kamu inginkan dan apa yang tidak kamu inginkan. Amati apa yang sedang terjadi dalam dirimu dengan tenang. Tidak ada yang bisa melukaimu, kecuali kamu yang memperbolehkannya terjadi. Di dalam dirimu, pada level psikologis, jangan jadi siapa-siapa.

Jadi, kungfu bagi Anda adalah "deterrent power" (daya tangkal) seperti jet tempur Sukhoi Su-35 yang gahar atau kapal selam Kilo Class yang ganas itu terhadap armada musuh.

Demikian pula, nilai-nilai etis-moral, religius, budaya dan sebagainya. 

Kehadiran agama tidak otomatis menghilangkan kejahatan, tetapi nilai-nilai ajarannya (seharusnya) bisa menjadi "deterrent factor" terhadap segala niat dan tindak kejahatan.

Jadi, jangan justru jadikan institusi (ke)agama(an) dan budaya apapun menjadi sebab dan ladang bagi kejahatan, termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar