Breaking News

INTERNASIONAL Warga Tolak Kunjungan Presiden Trump ke Lokasi Penembakan Massal 08 Aug 2019 15:41

Article image
Para demonstran menolak kedatangan Presiden Trump di El Paso, Texas. (Foto: Jose Luis Gonzalez/ REUTERS)
Kubu Partai Demokrat mengecam berbagai pernyataan Trump yang ditengarai memicu kebencian dan sejumlah tindakan rasis serta menjadi pemicu aksi penembakan massal di AS pada akhir pekan lalu.

EL PASO/DAYTON, IndonesiaSatu.coKunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di dua lokasi penembakan massal, El Paso dan Dayton, Rabu (7/8/2019) waktu setempat, diwarnai aksi penolakan warga.

Seperti dilansir Deutsche Presse-Agentur (DPA), Kamis (8/8/2019), para pengunjuk rasa di dua kota tersebut menolak kehadiran Trump dan membawa berbagai poster yang antara lain menuding Trump pro-rasisme.

Trump mengunjungi sebuah rumah sakit di kota Dayton, Ohio, bersama ibu negara Melania Trump. Pada kesempatan itu ia bertatap muka dengan para korban luka, keluarga korban, dan sejumlah tim evakuasi.

Seperti diberitakan, insiden penembakan massal pada Minggu dini hari di Dayton menewaskan sembilan orang dan melukai belasan orang lainnya.

Wali Kota Dayton Nan Whaley, dari Partai Demokrat, mengatakan, Trump tidak mengunjungi lokasi penembakan untuk menghindari aksi kekerasan para demonstran.

Setelah Dayton, Trump dan rombongan mengunjungi El Paso, Texas, di perbatasan AS-Meksiko untuk menemui para korban luka dan keluarga korban yang tewas dalam peristiwa penembakan massal pertama pada akhir lalu yang menelan korban jiwa 22 orang.

Kunjungan Trump berlangsung dalam pengawalan ketat. Acara tatap muka dengan para korban, keluarga, dan tim evakuasi maupun jajaran keamanan dilakukan dalam ruang tertutup.

Sementara itu, para politisi AS menuntut pemerintah agar menetapkan kebijakan ketat mengenai pemeriksaan latar belakang para pembeli senjata dan larangan terhadap jual beli senjata berat atau tempur.

Kubu Partai Demokrat mengecam berbagai pernyataan Trump yang memicu kebencian dan tindakan rasis, yang di antaranya menjadi pemicu aksi penembakan massal di AS pada akhir pekan lalu.

--- Rikard Mosa Dhae