Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

SOSOK Lebih Dekat Mengenal Angelo Wake Kako 05 May 2018 23:33

Article image
Angelo Wake Kako, bakal calon anggota DPD RI dapil NTT (Foto: Dok. Pribadi)
“Sebagai anak muda NTT, saya merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam tata kelola pemerintahan sebagai jembatan penghubung antara kepentingan daerah NTT di tingkat pusat," kata Angelo.

PROFIL, IndonesiaSatu.co-- Angelius Wake Kako, lahir di sebuah kampung kecil bernama Woloora, Nangaba, Kecamatan Ende, kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pria yang akrab disapa Angelo ini sudah mulai menunjukkan kemampuan ‘inteligensi alamiah’ sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Katolik Woloara pada usia 5 tahun. Torehan prestasi berhasil diraih putera bungsu dari 9 bersaudara ini sejak kelas dua SD. Angelo selalu menempati rangking teratas hingga menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Dasar pada tahun 2001.

Buah hati dari Bapak Aloysius Waka dan Ibu Katarina Seku ini sejak kecil telah dididik dengan jiwa pekerja keras. Saat mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Maumere, kabupaten Sikka, Angelo menyisahkan waktu sekolahnya dengan menjajakan koran (surat kabar), setiap petang sepulang sekolah.

Demi niat melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Ende, Angelo bahkan rela berjibaku dengan waktu sekolah dan kesibukan harian sebagai kondektur angkutan kota. Jiwa muda pantang menyerah, terus terasah dalam diri putera kelahiran 22 Januari 1990 ini hingga akhirnya menamatkan pendidikan di bangku SMA.

Mengasah cita-cita menjadi perwira Polisi harus pupus meski sudah lolos seleksi hingga ke ‘kota karang’, Kupang. Gagal jadi perwira Polisi, mengurung niat setahun untuk melanjutkan studi ke tingkat Perguruan Tinggi. Angelo tak patah semangat.

Menjadi buruh

Bertarung dengan musim, Angelo berani mengambil resiko dengan menjadi buruh komoditi (jambu mente) di Maumere. Sepanjang pantai Utara Maumere-Ende dari Wailiti hingga Watuapi di Nagekeo, wajah para petani mente sudah begitu akrab dijumpai. Angelo tak pernah malu hati menjemput hasil komoditi. Kebiasaan itu berbanding miris dengan anak-anak segenerasinya pada waktu itu.

Hasil jerih lelah setahun menguatkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan, meski terus berjibaku dengan waktu. Pengalaman dan pengorbanan menjadi buruh dirasakannya sebagai ‘guru’ pelecut yang tak pernah dilupakannya. Jerih lelahnya setahun hanya cukup untuk mengkredit satu unit sepeda motor. Angelo menangkap peluang usaha melalui jasa angkutan ojek. Seiring waktu, sambil menekuni usaha ojek, tahun 2008 Angelo melamar menjadi Mahasiswa Universitas Flores (Unflor) Ende.

Menjadi mahasiswa tak lantas membuat Angelo jumawa. Adrenalin usaha terus memacu dirinya untuk tidak menjadi mahasiswa pasif yang hanya bergulat dengan rutinitas kampus dan diktat kuliah. Mengenal organisasi ekstra kampus, Angelo lalu memilih bergabung dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ende. Gairah usaha yang terus mencambuk dirinya sejak kecil, membuat Angelo mulai disiplin mengatur waktu. Rutinitas perkuliahan tidak membatasi aktivitasnya menjadi ‘tukang ojek’, kegiatan PMKRI, juga distributor barang-barang rohani dari Penerbit Nusa Indah Ende.

Mengambil jurusan Matematika di Unflor Ende, Angelo yang begitu aktif dengan aktivitas intra maupun ekstra kampus, akhirnya dipercayakan menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Matematika, lalu Ketua Presiden Mahasiswa (Presma) dan juga Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unflor Ende.

Usai dikukuhkan menjadi Sarjana muda tahun 2012, Angelo justru diberi kepercayaan menjadi Dosen muda Matematika di almamater yang telah membesarkannya, Unflor Ende. Persis pada situasi yang sama, Angelo juga memikul tanggungjawab sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende. Setahun pengabdiannya menjadi Dosen muda dan Ketua Presidium PMKRI, menjadi spirit baru bagi Angelo untuk mengenyam pengalaman di Ibukota Negara (Jakarta) sebagai Pengurus Pusat PMKRI sejak 2 Januari 2014. Prinsip yang selalu menjadi litani hidupnya di Ibukota yakni bahwa 'penderitaan akan melahirkan jiwa kepemimpinan yang bersandarkan pada nilai.' Ia percaya bahwa perjalanan hidupnya merupakan campur tangan Ilahi meski ditempa oleh badai kesulitan dan aneka tantangan.

Loyalitas

Komitmen dan loyalitasnya terhadap organisasi (PMKRI), terus menuntunnya pada relasi pergaulan yang semakin luas baik dengan sesama aktivis Cipayung, para alumni maupun berbagai pihak.

Ditengah kesibukan mengurus organisasi, Angelo mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana di Universitas Indonesia (UI). Sebagai anak kampung dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, dirinya merasa pesimis akan lulus seleksi di Universitas ternama di Indonesia itu. Namun berkat keyakinan dan doanya, pada bulan Juni 2014, dirinya diterima sebagai mahasiswa Pascasarjana UI, Jurusan Kajian Ketahanan Nasional.

Namun, di tengah kegembiraan itu, dirinya harus diperhadapkan dengan tuntutan biaya kuliah yang tidak sedikit untuk awal masuk yakni 21 juta rupiah. Harapan untuk bisa mendapatkan beasiswa akhirnya pupus. Pasalnya, penyedia beasiswa yakni kemenpora RI belum menyalurkan bantuan beasiswa untuk semester ganjil, tahun ajaran 2014-2015 hingga ada keputusan lebih lanjut. Hal itu dikarenakan masa transisi pemimpin nasional dari era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Joko Widodo (Jokowi).

Di tengah ketidakpastian soal beasiswa, Angelo mengajukan surat penundaan perkuliahan ke semester berikut. Ia kemudian mendaftar ke Salah satu kampus swasta di Jakarta, yakni Universitas Nasional (Unas) mengambil jurusan Ilmu Politik sambil mengikuti kelas extension di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara, Jakarta. Angelo juga memberikan bimbingan belajar dari rumah ke rumah untuk mengatasi tuntutan biaya hidup di Ibukota.

Setelah satu semester berjalan, Kemenpora RI lalu mengumumkan bahwa proram beasiswa di UI kembali dilanjutkan, termasuk dirinya. Lantas, Angelo pun memilih melanjutkan perkuliahan pascasarjananya di UI, kampus yang sudah dibidiknya sejak masih di kampung halamannya di Ende.

Berkat ketekunan dan semangat juangnya, salah satu Alumni PMKRI Cabang Palembang yang juga pengusaha sukses di Jakarta, menawarkan jasanya untuk membuka bimbingan belajar di tempatnya. Angelo pun dibimbing untuk mulai berpikir menjadi pengusaha. Berkat bantuan tersebut, Angelo lalu mendirikan Usaha Bimbingan Belajar “Lentera Sorang Sahabat” yang bertempat di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setahun menjalani usaha tersebut, tibalah saatnya menggelar Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI di Cibubur, Jakarta Timur. Niat hati untuk membenah organisasi yang sangat dicintainya tersebut mendorong penulis Buku “Bersatu, Lawan, Menang; Jalan Pembebasan Indonesia” ini memutuskan untuk maju menjadi kandidat Ketua PP PMKRI periode 2016-2018. Angelo pun terpilih menahkodai perhimpunan tingkat nasional.

Dua tahun menahkodai organisasi, Angelo berhasil mencuri perhatian publik dan tercatat sebagai salah satu Ketua paling fenomenal yang berhasil membawa PMKRI menjadi salah satu organisasi yang diperhitungkan di level nasional. Tidak jarang persoalan HAM di Papua disoroti, seruan kritis terhadap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, intens membangun konsolidasi lintas-organisasi, turut mengawal situasi kebangsaan di tengah ancaman radikalisme dan intoleran, serta menunjukkan kontribusi riil bersama mahasiswa Katolik Dunia (IMCS) dalam misi kemanusiaan di Flores. Salah satu aksi yang cukup menyita perhatian publik yakni melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab ke Polda Metro Jaya Jakarta pada tanggal 26 Desember 2016, persis di saat panggung nasional sedang dikuasai oleh FPI lewat aksi-aksi selama hampir setahun. 

Baginya, tidak boleh ada kelompok di Indonesia yang seenaknya menjatuhkan, menghina dan merendahkan apa yang menjadi keyakinan kelompok lain, sekecil apapun kelompok tersebut. Laporan terhadap Rizieq Shihab kala itu, merupakan sebuah bentuk interupsi terhadap pemerintah agar segera hadir di tengah situasi kebangsaan yang begitu carut-marut.

Mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Presidium, Angelo terus mengukir sejarah dengan menghadirkan mahasiswa Katolik se-dunia yang tergabung dalam International Movement of Catholic Students (IMCS) melalui berbagai kegiatan sosial-kemanusiaan seperti pembangunan Mushola di Desa Manulondo, Ndona; renovasi SMK Santo Vincensius milik Keuskupan Agung Ende, di Ndona, sumbangan pipa air di Detusoko Barat dan Nita, Kabupaten Sikka, serta berbagai kegiatan sosial lainnya. Angelo sungguh menyadari pentingnya membangun dan memanfaatkan jejaring untuk perbaikan taraf kehidupan masyarakat. Baginya, berbuat untuk masyarakat tidak mesti menduduki jabatan publik, namun hal-hal kecil bisa dilakukan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Tantangan pemuda indonesia di bidang kewirausahaan mendorong dirinya bersama teman-temannya sesama Ketua Umum organisasi mahasiswa tingkat nasional untuk berdiskusi dan memikirkan tentang peluang berwirasaha. Berkat bantuan berbagai senior dan para pengusaha muda indonesia seperti Maruarar Sirait, Bahlil Lahadalia, hingga Erik Tohir, para pimpinan organisasi mahasiswa tingkat nasional tersebut akhirnya mendirikan perusahan dengan nama PT Sabang Merauke Berdikari, yang bergerak di bidang perdagangan. Bagi Mereka, itulah wujud kontribusi bagi kemajuan bangsa dengan mengembangkan kewirausahaan.

Di akhir kepengurusan sebagai Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI, tak sedikit yang berdecak kagum; Angelo menggandeng Presiden Jokowi ke Palembang sebagai Presiden pertama yang membuka kegiatan ormas Katolik; Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI se-Indonesia. Seiring tanggung jawab membesarkan organisasi, Angelo juga sukses menyelesaikan Studi Pasca Sarjana Ilmu Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia (UI). Ucapan terima kasih kepada PMKRI dan semua pihak yang telah mendukungnya, tidak lupa Ia sampaikan sebelum mengakhiri kiprahnya di puncak estafet Perhimpunan tingkat Nasional.

Kini,  Angelo dan teman-temannya, mantan ketua umum di beberapa organisasi mahasiswa, mulai menekuni usaha dan kembali mendirikan Perusahaan yang bergerak di bidang General Kontraktor dengan nama PT Sahabat Semesta Sejati. Angelo sendiri, berkat ketekunan dan kompetensi yang dimiliki, diberi kepercayaan oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Bapak Oesman Sapta Odang atau yang akrab dikenal OSO untuk menjadi staf ahli Ketua DPD RI saat ini.

--- Guche Montero

Komentar