Breaking News

REGIONAL Lembaga Areopagus Indonesia Didirikan, Ini Profilnya 19 May 2017 07:35

Article image
Para inisiator dan peneliti Lembaga Areopagus Indonesia sesudah peluncuran hasil survei. (Foto: Ist)
Lembaga ini sangat terbuka untuk menjadi wahana perbincangan terkait kebijakan publik ataupun masyarakat berbasis rasionalitas dan penelitian ilmiah.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coSatu lagi lembaga yang bergerak di bidang kajian sosio-politik didirikan. Nama lembaga tersebut Lembaga Areopagus Indonesia. Kelahiran Areopagus Indonesia diharapkan menjadi wahana perbincangan terkait kebijakan publik ataupun masyarakat berbasis rasionalitas dan penelitian ilmiah.

Harapan ini disuarakan Direktur Areopagus Indonesia Yanto Fulgenz kepada IndonesiaSatu.co,  Kamis (19/5/2017).

“Kami memiliki Visi: menjadi lembaga penelitian, advokasi, dan analisis kebijakan sosial-politik serta lembaga pemberdayaan masyarakat yang kredibel, akuntabel, dan independen,” ujar Yanto yang kini juga aktif dalam penelitian-penelitian kebencanaan.

Yanto menceritakan awal muda kelahiran Lembaga Areopagus Indonesia yang dimulai dari perbincangan sederhana.

“Areopagus Indonesia bermula dari perbincangan kami di kamar kontrakan Pak Haris, Research Manager kami. Ada semacam, katakanlah, kegelisahan bahwa wacana akademis ataupun politik menjelang Pilgub NTT 2018 ini di Koran ataupun seminar cenderung menggunakan asumsi yang tidak ilmiah,” kisah Yanto.

Anggota diskusi pada saat itu sepakat, untuk tetap konsisten bersikap rasional dalam hajatan pilkada, masyarakat harus konsisten bersikap ilmiah. Karena itu diperlukan sebuah lembaga penelitian ilmiah.

“Maka, pada 27 April 2017 kami mula bertemu di Bakoel Coffe untuk menentukan  nama lembaga dan visi-misi lembaga ini. Setelah berdiskusi, kami pun menentukan nama lembaga ini: Areopagus Indonesia,” papar Yanto.

Adapun peneliti Lembaga Arepagus Indonesia Armand Suparman menceritakan makna “Areopagus Indonesia” sebagai nama penamaan lembaga tersebut.

“Areopagus,  itu nama tempat dalam zaman Yunani kuno. Kalau kita kembali ke masa Yunani kuno, Areopagus adalah tempat di mana wacana-wacana publik dihadirkan dan disepakati,” imbuh Armand.

Di Areopagus, semua orang datang dari berbagai latar belakang kebudayaan, keragaman, prestasi-prestise, ataupun keahlian akdemik memberi masukan  berharga terhadap kebijakan publik yang diambil, baik dalam bidang hukum ataupun bidang yang lain.

“Prinsip dasar khas Areopagus: setiap kebijakan publik harus melibatkan sebanyak mungkin partisipasi publik yang rasional-ilmiah,” tambah Armand yang kini aktif dalam penelitian tentang kajian otonomi daerah.

Direktur Advokasi Areopagus Indonesia Mus Jemarut mengatakan lembaga ini sangat terbuka untuk menjadi wahana perbincangan terkait kebijakan publik ataupun masyarakat berbasis rasionalitas dan penelitian ilmiah. 

“Karena itu, kami tidak hanya melakukan survey atau hanya terbatas lembaga survey,” tegasnya.

Menurut Mus, Areopagus Indonesia menyediakan kajian analisis sosial politik untuk menjadi bahan rekomendasi, membangun sistem aplikasi business process untuk pemerintahan dan aktor pembuat kebijakan lainnya, melakukan monitoring dan evaluasi kebijakan sosio-politik, dan melakukan monitoring opini publik secara berkala dengan menggunakan  survey offline dan online.

Pada Selasa (16/5/2017) malam, Areopagus Indonesia meluncurkan survei bertajuk “Mencari Pemimpin NTT 2018-2023: Kandidat Pemimpin NTT Pilihan Nitizen.” 

Adapun survei Areopagus Indonesia menemukan 13 kandidat Gubernur NTT paling  dominan di mata pemilih netizen yakni Boni Hargens, Benny K Harman, Raymundus Fernandes, Eston Foenay, Kristo Blasin, Ahok, Melky Lakalena, Andre Garu, Robert Marut, Marianus Sae, Valens Daki-Soo, Adinda Lebu Raya, Martin Dira Tome.

“Dari survei, 13 kandidat ini memiliki tingkat dominan di  atas dua persen. Dari 45 nama, muncul 13 tokoh ini,” tambah Yanto.

Survei menggunakan metode non probability sampling, khususnya teknik sampling aksidental. Desain survei adalah cross sectional study. Metode pengumpulan data adalah kuisioner disebarkan kepada netizen yang berasal dari NTT melalui media sosial. Kuisioner tidak hanya dibagikan kepada perorangan, tetapi juga group-group media sosial netizen warga NTT.

Sampel dalam survei yang dilakukan sejak 23 April-13 Mei ini berjumlah 436 responden.

---Very Herdiman

Komentar