Breaking News

BUDAYA LIPI Usulkan Kawasan Candi Borobudur jadi Cagar Biosfer Dunia 24 Nov 2018 10:54

Article image
Ilustrasi senja di Candi Borobudur.(Foto: Shutterstock)
“Keberadaan cagar biosfer bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara melestarikan keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi, dan kebudayaan,” jelas Purwanto,.

MAGELANG, IndonesiaSatu.co-- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengusulkan ke Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco) agar kawasan Candi Borobudur menjadi cagar biosfer dunia.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Man and Biosphere Program (MAB) Unesco Indonesia LIPI, Y Purwanto menjelaskan bahwa cagar biosfer merupakan kawasan ekosistem yang keberadaannya diakui dunia internasional, juga sebagai bagian dari program Man and Biosphere Unesco.

“Keberadaan cagar biosfer bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara melestarikan keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi, dan kebudayaan,” jelas Purwanto, dalam Diseminasi Hasil Kegiatan IBSAP Lokus Borobudur di Hotel Grand Artos Magelang, Jumat (23/11/18) sebagaimana dilansir Kompas.com.

Ia menerangkan bahwa saat ini, LIPI tengah melakukan kajian di kawasan Borobudur yang meliputi tiga kluster penting yakni Taman Nasional Gunung Merapi-Merbabu, karst Menoreh dan sekitarnya, dan Borobudur beserta kawasan pendukungnya.

"Jika nanti sudah disahkan sebagai Cagar Biosfer, tentu kita bisa mem-brandingnya ke tingkat dunia. Dampaknya bisa dilihat dari pelestarian keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi, budaya, dan pariwisata,” terangnya.

Purwanto memaparkan, sejauh ini sudah ada 14 cagar biosfer di Indonesia, namun tidak ada kawasan di Jawa Tengah yang masuk dalam daftar tersebut. Padahal, menurutnya provinsi ini memiliki potensi yang besar.

Dujelaskan, selain Borobudur, lokasi lain yang akan diusulkan adalah kawasan Karimunjawa yang meliputi seluruh wilayah Kabupaten Jepara. Kedua kawasan ini menjadi kandidat kuat karena masuk destinasi unggulan di Indonesia.

"Terlebih, keduanya sudah masuk dalam daftar Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN), sehingga menjadi prioritas untuk dikembangkan. Jadi kedua kawasan ini terus kami kaji dan akan diajukan ke Unesco untuk disahkan," imbuhnya.

Sementara Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Witjaksono menambahkan bahwa guna mewujudkan cita-cita itu pihaknya telah melakukan penelitian terkait keanekaragaman hayati yang ada di relief Candi Borobudur.

"Hasilnya, ada sekitar 80 jenis tanaman yang terukir di relief Candi Borobudur. Namun, hanya 13 jenis yang telah dibukukan dan bisa menjadi bahan pendidikan," ujar Witjaksono.

Adapun jenis tanaman yang terukir di relief Candi Borobudur di antaranya pisang, manggis, sukun, tebu, nangka, lotus, asam jawa, pulai, dan lainnya.

"Perlu adanya komitmen yang kuat dari pemerintah daerah setempat guna mewujudkan status cagar biosfer dunia untuk kawasan Candi Borobudur dan Karimunjawa. Demikian pula perlu dukungan sistem pengelolaan yang baik,” harapnya.

--- Guche Montero

Komentar