Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

OPINI Mafia Politik 31 Jan 2018 16:08

Article image
Ilustrasi persaingan politik. (Foto: Daily Times)
“Mafia” menjadi gerakan masif dalam membangun strategi politik yang bisa mematahkan lawan.

Oleh Valery Kopong

 

Ketika berlibur ke kampung halamanku Gelong-Adonara Timur pada Desember 2017, penulis  berkesempatan ngobrol dengan orang-orang kampung tentang figur-figur yang menjadi Cagub dan Cawagub dalam konstelasi Pilkada bahkan obrolan kami mengemuka secara nasional. Orang-orang kampung dengan nalar politik yang sederhana membangun kesadaran dengan memperkirakan calon kuat Presiden pada tahun 2019 nanti.  Obrolan kami seputar pentas politik nasional dan titik pijak pada Pilkada yang akan berlangsung dengan melihat rekam jejak dan kalkulasi peta kekuatan berdasarkan aspek primordial yang melekat pada pasangan calon yang diusung oleh partai. Diskusi tentang politik ini sempat terhenti ketika salah seorang yang tergabung dalam obrolan itu mendadak bertanya padaku. Apa itu politik? Pertanyaan tentang arti politik menjadi penting terutama untuk warga kampung yang kurang paham tentang arti sesungguhnya dari politik. 

Memang pertanyaan tuyul ini menjadi penting karena setiap orang dan khususnya politisi harus mengerti dan memahami tentang esensi dasar tentang politik. Politik menurut orang-orang kampung yang selama ini dipahami sebagai “seni menipu” masyarakat dan pelakunya adalah para politisi. Apa yang dipahami secara salah tentang politik dalam skala kampung, bertitik tolak dari pengalaman orang-orang kampung yang rajin dikunjungi pada saat menjelang Pilkada maupun Pilpres. Para politisi selalu menjagokan diri dan figur yang mau dicalonkan walaupun pada kenyataannya jauh dari harapan masyarakat. Sikap bombastis yang mengumbar secara berlebihan dan bahkan terjadi proses penipuan secara terbuka untuk menjulang suara pada menjelang Pilkada maupun Pilpres, pada akhirnya mengerucut pada pemahaman yang salah tentang esensi dari politik itu sendiri.

Apa makna sebenarnya dari politik? Secara sederhana, politik adalah seni untuk menata keseimbangan hidup bersama. Ketika melihat makna dasar arti politik yang menata keseimbangan hidup bersama,  ada hal yang memiriskan nurani anak bangsa ini karena dalam berpolitik tidak terjadi lagi keseimbangan bahkan situasi masyarakat tercabik-cabik karena perhelatan Pilkada maupun Pilpres.  Situasi menjadi ambigu karena masyarakat terpolarisasi sesaat di musim Pemilu. Ada tarik menarik kepentingan dalam masyarakat dan masyakarat sendiri menjadi korban dari perhelatan itu dan menjadi penonton adalah kaum elite politik.  Masyarakat terpolarisasi sesaat karena menjadi bagian dalam mendukung calon tertentu. Banyak pengamat memprediksi bahwa dalam tahun politik ini bisa terjadi konflik horizontal yang mengarah pada perpecahan. Jika terjadi perpecahan karena disebabkan oleh pilihan politik yang berbeda maka esensi dasar politik yang mau menata keseimbangan bersama belum menemukan titik keberhasilan.

Kita bisa saksikan sendiri bahwa sebelum pertarungan politik terjadi, sudah mulai memanas dengan munculnya pelbagai isu yang menyerang calon tertentu.  Kita bisa lihat beberapa wilayah di Indonesia yang baru pada pendaftaran ke KPUD setempat, sudah tertimpah dengan pelbagai isu politik yang tak sedap. Isu amoral dan kesalahan seorang calon pada masa lampau dibongkar kembali untuk disajikan pada ruang publik dengan satu tujuan utama adalah menumbangkan lawan sebelum dan saat bertarung. Memang, berpolitik a la Indonesia umumnya, sudah masuk ke wilayah abu-abu dan sulit ditebak oleh lawan. Atau meminjam bahasa Ben Anderson: musuh bangsa Indonesia adalah “mafia.” Ben Anderson melihat bahwa seluruh lini kehidupan bangsa ini sudah dirasuki oleh mafia dan dengan demikian kita sulit untuk membangun peradaban politik yang bersih dan lebih elegan. Demi mengejari kursi kekuasaan ada “mafia” yang bekerja secara investigatif untuk mencari dosa-dosa masa lampau dari lawan politik. “Mafia” menjadi gerakan masif dalam membangun strategi politik yang bisa mematahkan lawan.  Mafia sepertinya menjadi agenda terselubung pada politisi yang ingin menghancurkan lawan politik. Di sini kita bisa membaca kegamangan dalam memahami esensi politik sebenarnya.

Beberapa hari terakhir ini isu amoral sudah menimpah salah satu pasangan cagub dan cawagub. Isu yang dihembuskan oleh para politisi dengan memanfaatkan orang lain sebagai penyebar isu, menjadikan mafia politik ini semakin menjijikan dan masyarakat semakin muak dengan tingkah laku para politisi. Mestinya para pendukung maupun partai pengusung harus mengedepankan program-program yang berpihak pada rakyat karena hanya dengan program  unggul yang ditawarkan kepada masyarakat, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pada akhirnya memberikan pilihan yang tepat. 

Kenyataan berbicara lain, bahwa yang dikedepankan oleh para politisi dan calon pemimpin lebih banyak merancang isu murahan sebagai strategi untuk menjatuhan lawan dan bukannya merancang program yang bisa ditawarkan kepada masyarakat. Wilayah-wilayah di Indonesia  yang jauh dari nuansa sejahtera mestinya memberikan inspirasi bagi para politisi untuk menggali informasi yang akan dikemas menjadi sebuah program. Bagaimana pengembangan tol laut antarpulau di Indonesia yang belum maksimal berjalan, bagaimana mengembangkan rumput laut, bagaimana mengelola garam dan masih banyak potensi lain yang perlu digarap sebagai program yang diusung pada pertarungan Pilgub maupun Pilkada di wilayah di seluruh Indonesia.

Semua figur sudah diperlihatkan dihadapan publik. Masyarakat diminta untuk menjejali rekam jejak para figur yang akan bertarung. Barisan para cagub dan cawagub pada masing-masing provinsi maupun kabupaten, mudah-mudahan tidak seperti barisan kafilah padang pasir yang nampak begitu dahaga dan berburu sumber air. Politik praktis dalam skala lokal maupun nasional  masih memperlihatkan hausnya para calon akan kursi kekuasaan yang direbutnya. Publik  menanti dengan cemas. Siapa sesungguhnya pemimpin baru untuk  Anda di masing-masing wilayah di Indonesia? Hanya suaramu yang bisa menentukan.

 

Penulis, Pemerhati Masalah Sosial-Politik

 

Komentar