Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TRADISI Mahrus Amin Foundation Bangun Gerakan 2.5 Tunaikan Zakat 20 Jun 2016 09:57

Article image
Peluncuran Mahrus Amin Foundation, Sabtu (18/6). (Foto: ist)
“Alumni pesantren harus terus bergerak dan tidak berdiam diri. Alharokah barokah - bergerak adalah keberkahan…”

CIPUTAT, IndonesiaSatu.co -- Badan Zakat Nasional (Baznas, 2016) mencatat potensi dana zakat umat Islam (belum lagi infak, shadaqah dan wakaf) di Indonesia mencapai Rp 217 triliun setiap tahunnya. Artinya, potensi tersebut 10% melebihi APBN Indonesia per tahun.

Namun, angka tersebut belum dapat dicapai, sebabnya hanya 3 triliun atau baru sekitar 1,2% dari potensi besar itu terkumpulkan. Hal inilah mewarnai topik pembicaraan dalam acara Buka Puasa Bersama Alumni Darunnajah Jakarta, Sabtu (18/6) kemarin.

Acara yang dihadiri alumni pesantren dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian ini diawali dengan “Sharing Session” bersama Dr. Arief Mufraeni, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis termuda (kini berusia 41 tahun) dari  Universitas Negeri Islam (UIN) Jakarta. Arief jebolan Darunnajah dari angkatan 18. Secara ringkas, Arief mengungkap betapa besarnya potensi ekonomi umat, yang seharusnya menjadi dasar kemandirian dan kekuatan untuk pemberdayaan sosial dan pendidikan umat di saat ini.

Dalam acara ini diluncurkan Mahrus Amin Foundation, atau disingkat MAF. Lembaga ini lahir dari inspirasi dan motivasi sang pendiri, pengasuh dan pemimpin Pesantren Darunnajah Jakarta. Alumni Darunnajah yang telah bergerak dan berkarya di berbagai bidang di seluruh pelosok nusantara, bahkan dunia. “Walau usiaku habis, usia perjuanganku jangan sampai habis, teruskanlah!” demikian ujar KH. Mahrus Amin.

Dia menambahkan, alumni pesantren harus terus bergerak dan tidak berdiam diri. “Alharokah barokah - bergerak adalah keberkahan,” tegasnya.

Semangat KH Mahrus Amin dalam membangun dunia Pendidikan Islam di tanah air sangat layak diteladani. Saat terhampar tawaran karir yang menggiurkan dan bergengsi saat itu, seperti menjadi  dosen dan pegawai negeri, Mahrus Amin muda lebih memilih suatu jalan hidup pengabdian dan berjuang di bidang pendidikan. Beliau menantang garang matahari bermandi peluh membuka lahan, diawali segelintir santri sampai membina ribuan kader, membangun jaringan perjuangan.

Di usianya yang baru 21 tahun, KH Mahrus mendirikan balai pendidikan Darunnajah pada tahun 1961 (Sekarang menjadi sekolah An-Najah, Petukangan). “Barulah pada tahun 1974, cita-cita pertama dari para pendiri KH Abdul Manaf. Untuk (bentuk) pesantren itu tahun 1973,” ucapnya.

Diawali hanya dengan mendidik 3 orang santri  di lahan yang masih terbatas saat itu. Kyai kelahiran Cirebon pada 14 Februari 1940 ini mampu merintis, mengembangkan dan mempimpin (bersama dua generasi pimpinan pondok) untuk menjaga dan mengembangkan Darunnajah yang kini mengelola secara profesional lebih dari 1,6 triliun nilai aset wakaf yang tersebar di Indonesia

Pilihan hidup untuk pengabdian itulah nilai-nilai yg ditanamkan Sang Kyai kepada para santri. Prinsip dan idealisme beliau diharapkannya makin mendarah daging bagi santri dan alumni pesantren yg tersebar di pelosok negeri.

Gerakan oleh MAF ini lahir dilandasi semangat Sang Kyai dalam menjaga nilai-nilai dan karakter pesantren yang merupakan salah satu benteng umat dalam menjawab tantangan zaman. Cita-cita beliau mendirikan seribu pesantren di Indonesia adalah cita-cita dalam artian harfiah membangun sebanyak-banyaknya pesantren berkualitas tinggi di Indonesia. Dalam makna filosofis: menjaga dan menyebarkan nilai-nilai dan karakter pesantren.

Untuk itu, di bulan yang penuh berkah, MAF memobiliasi kepedulian untuk memperkuat kemandirian umat. Acara yang didukung oleh para pengusaha dan saudagar mitra MAF dan jaringan alumni pesantren semalam telah mengumpulkan dana dan sinergi.

KH Mahrus Amini sendiri mewakafkan 100 m2 tanah di depan Pesantren Darunnajah kepada MAF, dan 2000 m2 di Jombang, Tangerang Selatan, untuk pembangunan 15 rumah-toko dan area bisnis. Selanjutnya dilakukan penandatanganan Memorandum of Undersanding (MOU/Naskah Kesepahaman Kerjasama), yang ditandantangi langsung oleh KH. Mahrus Amin dengan 13 lembaga/perusahaan mitra MAF.

Bahkan di dalam sesi lelang tanah wakaf, para alumni secara kelompok (dari angkatan) maupun individu spontan merogoh kantong mereka, hingga secara spontan terkumpullah dana hingga Rp510.000.000.

Selain menyalurkan berbagai dana pemberdayaan sosial dan pendidikan melalui berbagai program dan kegiatannya, MAF secara khusus mengkampanyekan nilai-nilai hakiki pesantren, jiwa pengabdian, profesionalitas dan mandiri.

MAF juga tidak akan henti-hentinya berupaya menggerakkan generasi produktif-muda Indonesia saat ini: “Punya Banyak Income Itu Hak Anda; Peduli dan Banyak Bayar Zakat, Infak, Shadqah dan Wakaf Itu yang Utama”.

Pada sesi lelang pun dilakukan teleconference dengan alumni yang berhalangan hadir (dari Madinah, Saudi Arabia dan Kuala Lumpur, Malaysia dan rekaman VT dari beberapa lokasi - karena sedang berada di luar kota). Pesan kunci dari peluncuran MAF adalah “Gerakan 2.5”, yakni mendorong generasi produktif-kreatif menyisihkan 2,5% penghasilannya untuk zakat.

--- Sandy Romualdus

Komentar