Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TAJUK Mandela dan Maaf dalam Politik 14 Aug 2017 09:15

Article image
Nelson Mandela ketika berada dalam penjara. (Foto: Ist)
Maaf tidak mengubah masa lalu. Maaf mengubah masa depan.

NELSON Mandela, ketika keluar dari  penjara setelah 27 tahun dijebloskan oleh lawan-lawan politiknya memilih sikap mencengangkan. Ketika ia bebas dan menjadi Presiden Afrika Selatan, hal pertama yang ia lakukan adalah memaafkan sipir yang selalu menyiksanya dalam penjara!

Mandela adalah teladan yang pernah hidup dalam sebuah kontestasi politik tentang integritas moral. Puluhan tahun berada dalam tahanan rezim yang menerapkan kebijakan pemisahan warna kulit, ia kemudian bebas dan terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di negerinya. Dengan sikap maaf, ia mampu menyatukan masyarakat Afrika Selatan yang berbeda warna kulit itu.

Hidup dalam keragaman warna kulit, bahasa, dan budaya menyadarkan Mandela bahwa sikap balas dendam dalam politik akan memecah belah bangsanya.  “Memaafkan memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu, namun akan melapangkan jalan kita di masa depan,” demikian kata Mandela.

Maaf tidak mengubah masa lalu. Maaf mengubah masa depan. Kita tahu setelahnya: pemerintahan setelah Mandela tidak hanya menghapus kebijakan pemisahan warna kulit, tetapi membawa Afrika Selatan sebagai sebuah Negara maju di benua Afrika, memberantas kemiskinan, serta rekonsiliasi rasial. Dalam sikap maaf ada undangan bersatu dalam kebersamaan, mengubah hidup dalam semangat kolegialitas, serta membawa hidup baru yang toleran serta saling menghormati.

Lagi kata Mandela: “Memaafkan adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada orang lain dan diri kita sendiri.” Dalam dan melalui pengampunan, kita menjadikan diri kita dan orang lain sebagai hadiah. Sebagai hadiah, kehadiran orang lain dalam politik selalu dihargai sebagai subjek yang perlu dihormati.

Namun memaafkan bukan berarti melupakan begitu saja (kejahatan). Tetap ada sikap kritis-korektif terhadap perbuatan jahat yang dilakukan. Memaafkan tanpa sikap kritis-korektif hanya tampak seperti meloloskan kejahatan.

Sebaiknya situasi politik Indonesia harus dikuasai teladan memaafkan Mandela. Boleh ada perdebatan, adu wacana sebaiknya tidak berujung pada sikap dendam. Junjungan kita pada Pancasila dan kebhinekaan kita hendaknya selalu mendorong pada sikap saling memaafkan.

Memaafkan memutuskan kelam masa lalu, membangun mentari yang cerah bagi hari ini dan esok.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar