Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Mantan Perdana Menteri Thailand Dipastikan Kabur ke London 09 Jan 2018 18:09

Article image
Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra. (Foto: DPA)
Hasil penyelidikan otoritas Thailand menyebutkan, tiga polisi diduga kuat membantu adik mantan perdana menteri Thailand paling populer Thaksin Shinawatra itu meloloskan diri ke luar negeri.

BANGKOK, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Thailand mengumumkan informasi mengenai keberadaan mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra yang berhasil lolos ke luar negeri sebelum dijatuhi vonis lima tahun penjara atas dakwaan tindak pidana korupsi. Seperti dikutip dari Spiegel Online, Selasa (9/1/2018), Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai menyebutkan, Yingluck dipastikan telah berada di London, Inggris.

Pramudwinai mengatakan, Yingluck sudah diketahui sejak Septembar tahun lalu, namun belum dapat dipastikan kapan ia dipulangkan ke Thailand.

Otoritas Thailand diberitakan tengah berupaya melakukan negosiasi dengan Inggris untuk memulangkan Yingluck. Upaya itu dapat berjalan sukses mengingat kedua negara memiliki perjanjian ekstradisi.

Belum lama ini, dua foto Yingluck bersama seorang perempuan tidak dikenal beredar di media sosial. Dua foto tersebut diambil ketika Yingluck tengah berada di luar pusat perbelanjaan Harrod's dan ketika sedang berbelanja di Westfield.

Hasil penyelidikan otoritas Thailand menyebutkan, tiga polisi diduga kuat membantu adik mantan perdana menteri paling populer Thaksin Shinawatra itu meloloskan diri ke luar negeri.

Yingluck divonis lima tahun penjara secara in absensia oleh Mahkamah Agung Thailand  pada September 2017. Majelis hakim menegaskan, Yingluck divonis bersalah karena mengabaikan peringatan atas dugaan korupsi dalam proyek subsidi beras. Ia juga dinilai lalai dalam tugas kenegaraan.

Dinasti Shinawatra sangat populer di kalangan rakyat sederhana di pedesaan. Basis pemilih loyal itulah yang membantu Thaksin serta Yingluck memenangkan pemilihan umum.

Akan tetapi, harga beras di atas harga normal dianggap hanya menyenangkan pendukung Shinawatra karena berdampak merugikan pemerintah Thailand jika diekspor. Kebijakan itu bermuara pada penimbunan beras dan mengaxaukan harga beras dunia. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Vietnam yang kini menempatkan diri sebagai eksportir beras nomor satu di dunia.

Sementara itu, Yingluck menyatakan dirinya tidak bersalah. Ia justru menuding lawan politiknya berada di balik tuduhan dan serangan terhadap dirinya.

--- Rikard Mosa Dhae