Breaking News

REFLEKSI Mari Jaga Indonesia Kita 05 Jun 2020 11:27

Article image
Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, agama dan golongan yang kesemuanya merupakan kekayaan tak ternilai. (Foto: Doripos)
Kita semua perlu menjaga, mengawal dan menerapkan spirit Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam bangsa yang serba aneka multi-aspek ini.

Oleh Valens Daki-Soo


APA yang terjadi di Amerika Serikat (AS) beberapa hari ini (gelombang demonstrasi anti rasialisme yang berujung kerusuhan meluas karena tindakan seorang polisi terhadap seorang warga Afro-Amerika/negro hingga dia tewas) sungguh memprihatinkan dan serentak memperlihatkan bahkan negara "neneknya demokrasi" itu belum selesai dengan urusan perbedaan dan keanekaan.

Kerusuhan bernuansa SARA di Negeri Paman Sam sebenarnya bukan cerita baru. Sejarah mencatat, perbedaan ras, ekonomi, dan pendidikan sangat mengakar di lembaga-lembaga AS. Meskipun Deklarasi Kemerdekaan menyatakan bahwa "semua manusia diciptakan setara," demokrasi Amerika secara historis — dan seringkali dengan kekerasan — mengecualikan kelompok-kelompok tertentu.

"Demokrasi berarti semua orang dapat berpartisipasi, itu berarti Anda berbagi kekuasaan dengan orang-orang yang tidak Anda kenal, tidak mengerti, bahkan mungkin tidak suka," kata kurator Museum Nasional Sejarah Amerika, Harry Rubenstein pada 2017 seperti dikutip Meilan Solly dalam artikelnya berjudul “158 Resources to Understand Racism in America” (SMITHSONIANMAG.COM (4/6/2020).

Contoh-contoh historis ketidaksetaraan antara lain pemilih Afrika-Amerika kehilangan haknya; marginalisasi tentara Afrika-Amerika yang bertempur dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II tetapi diperlakukan seperti warga negara kelas dua di rumah sendiri; inovator kulit hitam yang dilarang mengajukan paten atas penemuan mereka; eksploitasi oleh profesional medis kulit putih terhadap tubuh perempuan kulit hitam, pemisahan antara warga kulit putih dan hitam di angkutan umum, pemisahan kota-kota Amerika yang dimandatkan pemerintah; dan segregasi atau pemisahan di sekolah.

Beberapa kisah paling memilukan di bawah ini sudah cukup untuk menggambarkan efek halus rasisme struktural yang bahkan dialami oleh anak-ana.

Pada akhir 1970-an, ketika Lebert F. Lester II berusia 8 atau 9 tahun, ia mulai membangun istana pasir selama perjalanan ke pantai Connecticut. Seorang gadis muda kulit putih bergabung dengannya tetapi dengan cepat dibawa pergi oleh ayahnya. Lester mengingat, gadis itu kembali, hanya untuk bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tidak pergi saja ke dalam air dan membasuhnya?" Lester berkata., "Aku sangat bingung — aku baru tahu kemudian dia bermaksud kulitku."

Di sekolah, anak-anak kulit hitam menjadi sasaran penyerangan verbal dan fisik setiap hari. Sekitar waktu yang sama, fotografer John G. Zimmerman menangkap foto-foto politik rasial di selatan yang mencakup perbandingan keluarga kulit hitam yang menunggu dalam antrean panjang untuk inokulasi polio ketika anak-anak kulit putih menerima perawatan cepat.

Bolehkah saya bilang kita perlu belajar dari kejadian buruk itu? Bisakah saya minta kita bersyukur hidup di negeri yang damai meski kita harapkan dan perjuangkan agar kedamaian itu sungguh sejati, tidak semu? Dapatkah saya menghimbau kita semua perlu menjaga, mengawal dan menerapkan spirit Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam bangsa yang serba aneka multiaspek ini?

Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, agama dan golongan yang kesemuanya merupakan kekayaan tak ternilai.

Para ahli menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang paling majemuk di dunia, selain AS dan India.

Clifford James Geertz  mengatakan, bahwa sedemikian kompleksnya Indonesia, sehingga sulit melukiskan anatominya secara persis. Negeri ini bukan hanya multi-etnis (Jawa, Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), melainkan juga menjadi arena pengaruh multi-mental (India, Cina, Belanda, Portugis, Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen, Kapitalis, dan seterusnya).

Namun, di balik kekayaan dan kemajemukan tersebut tersimpan potensi konflik yang berujung pada perpecahan. Kondisi tersebut tentu bak bara dalam sekam yang mudah tersulut dan terbakar sewaktu-waktu.

Itu sebabnya saya sering menulis status di medsos, juga artikel di media mainstream, tentang keindonesiaan kita yang mesti kita jaga bersama. Betapa indah dan kayanya kita: bersatu dalam kebhinnekaan. Itu sebabnya kita patut bahagia punya Pancasila. Itu sebabnya saya beberapa kali menulis, menentang kotbah para ustadz yang insinuatif, mengadu-domba, meresahkan dan bisa memicu pertikaian.

Itulah sebabnya pula 1 Desember 2015 saya dan beberapa rekan mendirikan media online IndonesiaSatu.co, yang saya biayai dengan penghasilan sendiri. Itu semata-mata karena rasa cinta kepada NKRI. Itu semata-mata karena ingin turut-serta dalam upaya merawat keindonesiaan. Itu semata-mata karena terdorong untuk menjaga api semangat "Satu dalam Keanekaan", yang menjadi tagline IndonesiaSatu.co, tetap bernyala.

Setiap kita bisa dengan cara masing-masing menjaga, mengawal, merawat bangunan kebangsaan dan  kenegaraan Indonesia tercinta kita ini.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar