Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

SOSOK Marselina Walu, Kisah Petani Kopi Bajawa hingga Bertemu Presiden Jokowi 08 Oct 2017 14:48

Article image
Ibu Marselina Walu, samping kanan Presiden Jokowi. (Foto: ist)
"Mewakili para petani kopi, saya akhirnya dapat melewati proses seleksi yang sangat ketat baik dari tingkat Kabupaten, Provinsi NTT hingga akhirnya bisa bertemu Presiden di Istana Bogor…”

BAJAWA, IndonesiaSatu.co – Tidak semua kita berkesmpatan untuk bersua muka dengan orang nomor satu di Indonesia. Apalagi dengan profesi sebagai petani di Flores, mimpi untuk bertemu presiden mungkin sesuatu yang mustahil. Namun tidak bagi Marselina Walu, petani kopi asal Bajawa, Flores, NTT ini yang berkesempatan berjumpa dan ‘ngopi sore’ bersama Presiden Jokowi di Istana Bogor , Jawa Barat belum lamai ini.

Kepada IndonesiaSatu.co, Sabtu (7/10/17), Marselina menegaskan profesinya sebagai petani kopi yang telah digelutinya sejak lama. Namun baru di tahun 2013 Marselina bergabung dengan komunitas kopi melalui sekolah lapangan rantai kopi.

“Dengan tekad kuat ingin mengembangkan kopi, saya juga bergabung dengan organisasi pegiat kopi yaitu Perhimpunan Masyarakat Watuata (Permata) kecamatan Bajawa, kabupaten Ngada. Sejak tahun 2014, pengembangan dan pemberdayaan petani kopi digagas melalui koperasi perempuan yang khusus bergerak sebagai produsen kopi yakni Koperasi Produsen Kagho Masa. Kami bergerak dari proses budidaya, panen, pengolahan pasca panen hingga tahap pemasaran, " ungkap Marselina Walu yang juga ketua koperasi ini.

Dia menuturkan bahwa sebagai upaya mempromosikan dan memperkenalkan kopi Bajawa selain di daerah Bajawa, Flores dan NTT, pihaknya terus bersinergi dan membangun koneksi (networking) yakni bermitra dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Veco Indonesia dan LSM lokal, LAPMAS Ngada.

"Koperasi Produsen Kagho Masa merupakan salah satu dari lima koperasi pegiat kopi yang ada di Bajawa dalam wadah Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Arabika Flores Bajawa (MPIG AFB) yang sudah memiliki hak paten dan merek dagang. Koperasi ini meliputi lima desa kami yg ada di kecamatan Golewa. Sejauh ini sebanyak 73 anggota yang terlibat aktif," lanjut isteri dari (alm) Bapak Maksimus Watu ini.

Momen Bertemu Jokowi

Berkat tekad dan perjuangannya, ibu dari seorang putera ini tidak menyangka ketika mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan hari kopi internasional pada tanggal 1 Oktober lalu dalam kemasan acara: "ngobrolin kopi sambil ngopi sore bersama Presiden di Istana Bogor."

"Mewakili para petani kopi, saya akhirnya dapat melewati proses seleksi yang sangat ketat baik dari tingkat Kabupaten, Provinsi NTT hingga akhirnya bisa bertemu Presiden di Istana Bogor. Ini momen yang sangat membahagiakan dan membanggakan karena bisa mewakili petani kopi Flores pada khususnya dan NTT pada umumnya hingga ke event nasional. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan meski tanpa dukungan pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi," kesan ibu Marselina yang juga salah satu staf di Montain Top Coffee, salah satu trader terbesar soal kualitas Kopi Flores.

Petani Sekaligus Produsen

Berbekal keikutsertaan dan pengalamannya di berbagai event yang berkaitan dengan konsep kewirausahaan dan kemandirian, ibu Marselina yany merupakan satu-satunya pemegang Q Grader/ahli cita rasa kopi bersertifikat Internasional dari tingkat Petani mengharapkan agar para petani kopi sudah seharusnya ditempatkan sebagai produsen utama yang harus diberdayakan menjadi salah satu sokoguru perekonomian masyarakat.

"Sebagai petani kopi, sangat diharapkan agar pemerintah daerah baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi, dapat memberdayakan sektor unggulan masyarakat terutama Kopi Flores yang sudah menjadi salah satu mata pencaharian utama. Petani harus menjadikan kebunnya sebagai perusahaan sehingga dapat bertindak sebagai produsen, sistributor (pemasaran) hingga konsumen (penikmat) hasil karyanya sendiri. Pemerintah dan LSM perlu mendorong penguatan keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), koneksi (networking) serta investasi guna pemberdayaan dan kemandirian bagi para petani. Sangat jarang menjadi petani profesional. Sejauh ini hanya dikenal sebagai petani musiman yang menghasilkan komoditi baku tanpa pengolahan lanjutan bahkan hingga tahap pemasaran," lanjutnya.

"Petani adalah profesi mulia jika ditopang dengan keterampilan, pengetahuan dan sumber daya yang menunjang. Sebagai petani kopi, saya berharap agar cita rasa lokal kopi Flores harus menjadi ciri khas dan kebanggaan para petani Flores khusunya dan NTT bahkan Indonesia berkat dukungan semua pihak dalam mengangkat kopi sebagai komoditi unggulan dalam negeri," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar