Breaking News

SOSOK Marsma Embu Agapitus: Cipta Lagu Adalah Aktualisasi Seni dan Olah Intelektual 22 Feb 2020 10:58

Article image
Marsekal Pertama (Marsma) TNI Drs Embu Agapitus, M.Si (Han). (Foto: ZonaBandung.com)
Lagu-lagu ciptaan Embu Agapitus syarat dengan pesan moral, selain berisi ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

MENGHASILKAN sebuah karya seni, seperti mencipta lagu bukan pekerjaan yang mudah. Karena untuk menghasilkan sebuah karya seni berkualitas, bakat saja tidak cukup. Seniman adalah perpaduan antara bakat dan ketekunan. Lebih tidak mudah lagi bila berkesenian (menciptakan lagu) merupakan salah satu aktivitas tambahan di luar tugasnya sebagai seorang prajurit TNI.

Demikian diungkapkan Marsekal Pertama (Marsma) TNI Drs Embu Agapitus, M.Si (Han) yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II Bandung kepada IndonesiaSatu.co baru-baru ini. Tidak tanggung-tanggung, pria asal Ladolima, Nagekeo kelahiran Enda-Flores ini telah menghasilkan lebih dari 40 lagu dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.

Tidak seperti kebanyakan orang yang berkesenian untuk “cari makan” dan mengejar polularitas. Marsma Embu Agapitus mendedikasikan seluruh karyanya bagi nusa dan bangsa.

“Bagi saya, menciptakan lagu merupakan aktualisasi seni dan sekaligus olah intelektual,” ujar Marsma Embu Agapitus dengan agak filosofis.

Selain diperdengarkan di berbagai event, lagu-lagu ciptaan Marma Embu Agapitus sudah bisa diakses lewat Youtube. Lagu-lagu ciptaan Embu Agapitus syarat dengan pesan moral, selain berisi ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Embu Agapitus juga menghasilkan banyak lagu bertema promosi wisata, khususnya pariwisata NTT. Beberapa judul lagu yang mengambil setting lingkungan hidup dan promosi wisata antara lain : Bena Village, Preserve Komodo, Persada NTT, Desa Nusantara, Global Warming, Go Green, Ebulobo, Flores Nusa Bunga, Eksotis Pulau Sumba.

Menurut suami dari Selfiana Gratia Nuwa Veto, selain menghibur masyarakat luas, karya seni seperti lagu juga menjadi media yang menyentuh nilai-nilai universal karena dapat merambah seluruh cita rasa diri setiap manusia di mana pun berada.

Ditambahkan perwira tinggi penerima Tanda Kehormatan Veteran RI & Veteran Operasi Pemeliharaan Dunia serta beberapa Bintang Jasa dan berbagai tanda kehormatan ini, Indonesia memiliki banyak keberagaman. Bahkan ia menyebut NTT merupakan Indonesia mini karena memiliki banyak kekhasan.

Lagu Inerie seperti ditulis nttsatu.com, adalah karya Embu Agapitus yang menarasikan tentang keagungan Gunung Inerie di Pulau Flores. Lagu itu sungguh memberi kesan magis. Ia juga menulis sebuah lagu khusus tentang alma maternya SMA Syuradikara, Ende berjudul IAS Nusantara. Di kota tempat Bung Karno melahirkan lima sila Pancasila itu memberi banyak inspirasi baginya.

Ia juga menulis sebuah lagu berjudul Si Pulau Paus, Lembata. Lelaki berkulit hitam manis ini melukiskan secara gambalang tentang kontur tanah berbatu dan berbukit, namun memiliki banyak objek wisata. Satu di antaranya, yakni Lamalera. Sebuah desa kecil di selatan Lembata yang sudah ratusan tahun terus merawat tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional.

 

“Sang Ibu TNI”

Embu Agapitus juga menulis sebuah lagu berjudul Sang Ibu TNI. Lagu ini sudah menjadi konsumsi publik, telah beredar luas di Youtube. Pesan dari lagu ini yakni agar para istri TNI terus setia mendampingi dan memberikan spirit kepada suami dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Bulan lalu Marsekal Embu Agapitus juga telah merilis (launching) sebuah lagu berjudul Dusun Bambu dan dalam waktu dekat akan segera memperkenalkan kepada publik sebuah lagu berjudul Pelangi Nusantara.

Marsma Embu Agapitus pernah menjadi Komandan Batalion 465 Paskhas Pangkalan Udara Halim Perdanakusama, Jakarta; Komandan Satuan Protokol Detasemen Markas (Denma) Mabes TNI; Wakil Komandan Denma Mabes TNI, Asisten Personel Korps Pasukan Khas, Kasubdit Binkemilsik Mabesau.

Embu Agapitus pernah menjabat Direktur Latihan PMPP TNI; Komandan Latihan Kontingen Garuda untuk misi Operasi Pemeliharaan Perdamaian Dunia; Kasubdit Asia Pasifik Direktorat Analisa Strategis Ditjen Strahan; Kasubdit Amerika, Eropa, dan Afrika Direktorat Analisa Strategis Ditjen Strahan; Kabid Kerjasama Bainstranas Kemhan RI dan Sekretaris Badan Instalasi Strategis Nasional Kemhan RI.

 

Citarumku Harum”

Selama menjabat sebagai Kasgartap II/Bandung, Embu Agapitus telah mempesembahkan hadiah teringah bagi Tanah Pasundan dengan merilis lagu berjudul Citarumku Harum.

"Dari 40 lagu tersebut, satu judul yang saya persembahkan untuk Tanah Pasundan berjudul Citarumku Harum. Menulis liriknya, saya lakukan di ruangan saya dan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam," katanya kepada Tribun News.

Munculnya inspirasi menciptakan lagu tersebut, dikarenakan  ia melihat perubahan yang dibagi menjadi tiga fase terhadap Sungai Citarum. Fase pertama terkait keindahan dan kekayaan dari Sungai Citarum. Fase kedua, kerusakan Sungai Citarum, dan fase ketiga tentang restorasi Sungai Citarum agar kembali harum seperti sedia kala.

Lagu tersebut melibatkan artis, personel TNI dan Polri.

Ia mengaku, bahwa tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk menciptakan lagu. Alasannya, ia menginginkan lagu-lagu ciptaannya berkualitas dan dipoles oleh musisi, penyanyi yang andal serta profesional.

"Orientasi saya bukan untuk mencari keuntungan, tapi membantu agar masyarakat sadar terhadap kerusakan alam dan bisa membantu pemerintah merevitalisasi dan merestorasi Sungai Citarum serta ekosistemnya," katanya.

Baginya, masyarakat Pasundan itu unik dan penuh kepedulian. Melalui lagu Citarumku Harum, ia berharap masyarakat lebih peduli terhadap Citarum.

--- Simon Leya

Komentar