Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Masuk ke Ruang Hening 24 Jul 2018 09:39

Article image
Dalam keheningan, manusia menemukan dirinya yang otentik. (Foto: Ist)
Dalam refleksi dan kontemplasi yang hening, manusia akan melihat dirinya dengan jernih, kelemahannya, kelebihannya, kemajuannya, atau kemunduran dirinya.

SALAH SATU pemandangan umum yang sering kita lihat  di Jakarta adalah setiap orang dengan pelbagai kesibukannya. Direktur perusahaan sibuk mengurus bawahannya, seorang pemilik perusahaan tiap hari bertemu lebih dari satu mitra, seorang dosen membelah kota Jakarta mengajar dari pagi hingga malam, pedagang yang memasarkan jualannya di terik panas, atau seorang pengemudi transportasi online yang matanya tidak beranjak dari handphone.

Tanda kesibukan tersebut makin tampak kalau kita berada di terminal bus, stasiun kereta api, dan busway. Wajah-wajah pagi yang sibuk mencari jenis transportasi dan trayek yang tepat waktu. Tiba di tempat kerjanya telah bertumpuk sejumlah tugas yang harus dituntaskan sesuai alokasi waktu yang telah ditentukan. Waktu yang beranjak sering tidak disadari, hingga sore menjemput dalam mata-mata lelah di atas gerbong kereta, busway, motor, ataupun kendaraan pulang.

Irama keseharian ini selalu sama: tak ada jeda. Semua tampak tergesa-gesa, seperti selalu dikejar. Maka, manusia yang lelah akan mencari hiburan dengan melakukan rekreasi sebanyak mungkin: liburan, berbelanja, dan lain-lain. Rupa-rupanya tidak disadari bahwa hiburan yang dicari bersifat mekanistik, yang selalu dikemudikan oleh hasrat yang tidak pernah selesai.

Lalu, apa yang terjadi dengan fenomena ini? Banyak orang menyebutnya aktivisme. Kesibukan yang melampaui batas. Aktivisme, salah satunya, menyebabkan manusia melupakan salah satu kekhasan fundamental dari dirinya, yakni insan reflektif. Karena dikendalikan kesibukan, maka manusia tidak dapat melampaui realitas dirinya untuk masuk dalam ruang refleksi, ruang pemaknaan dirinya sebagai manusia otentik.

Manusia tanpa refleksi adalah manusia yang sering cepat terpengaruh realitas, cepat terombang-ambing, sehingga tidak menjadi manusia otentik. Tanpa masuk ke dalam pergumulan diri mencari makna melalui kontemplasi dan refleksi, manusia tidak dapat menemukan jati dirinya.  Bahkan ada yang terjebak dalam ruang idolatria, mengunggulkan diri orang lain, menyingkirkan diri sendiri.

Dalam refleksi dan kontemplasi yang hening, manusia akan melihat dirinya dengan jernih: Kelemahannya, kelebihannya, kemajuannya, atau kemunduran dirinya. Kata Conficius, mistikus: “Keheningan adalah sahabat sejati yang tidak akan pernah mengkhianati.”

Sebaiknya di tengah banyaknya kegiatan, ataupun kesibukan yang melanda, kita dapat berhenti sejenak, sisihkan waktu, masuk ke dalam ruang hening, dan temukan inti diri yang sejati.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar