Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

SASTRA Mata Buku (Puisi) 23 Sep 2016 23:07

Article image
Ilustrasi mata buku. (Foto: Ist)
Tertawa sendiri ketika kau bercerita di telepon tentang senja emas.

Oleh Fridz Embu 

 

Berkunjung saat masih terlalu pagi

 

Halaman seratus

Sebelah gambar ibu

Paragraf kesepuluh

Kau menunggu

 

Aku terjebak

Antara perang dan petuah Abraham

Kau menunggu!

***

 

Tertawa sendiri ketika kau bercerita di telepon tentang senja emas

Karena dinding, lemari, perabotan

Ramai-ramai teriak, "Jangan!"

 

Jadi, jangan teriakan apa-apa

Apalagi "Jangan!"

Kemarin, cuma kusam jendela,

Hari ini, cuma barisan gerbang kaca lantai tiga

Kemudian, cuma hasil pencarian di papan touchscreen

Hanya cuma

 

Jangan teriakan "Jangan!"

Kerena jangan membuat kita menahan kantuk

Menahan kencing

Menahan tikam

Menahan mau

Jadi palsu

Membuat aku membenci puisi

Menahan wajahmu

 

Jangan "Jangan!"

Setelah semua makan bersama

Tak satu pun boleh diberi harga

Kau pun

Aku tak bisa, "Jangan kau!"

***

 

Secangkir coklat hangat

Dan sajak dari speaker

 

Tak boleh ada kamar selain kau

Ruang duduk kamarku cuma ilusi

Kumpulan gambar-gambar buram

 

Secangkir coklat hangat

Dan sajak yang tak ketemu

 

Seharusnya tak ada bacaan apapun

Kauaku tahu, membaca sama dengan hilang

Mencari sama saja lari

Menemukan itu juga tidak menemukan

Kau

Ku

Membaca

Lalu lenyap

Lalu rindu

Lalu kaget

***

 

Yang sepi di ruang parkir

Yang berjalan sendiri dari AC

Meradang di deretan rak

Yang pukau sudut taman

Ternyata wajah kita sendiri

***

 

Akhirnya,

Kita keluar dari gugup aksara

Sambil memeluk tangan yang lain

 

Saat itu, hari sedang cukup senja

 

Gramedia, (2016)

 

***

 

*) Penulis adalah alumni STFK Ledalero, Flores, dan kumpulan puisi pertama  telah terbit dengan judul '1 Hari Lelaki' (2016)

 

 

Komentar