Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

RESENSI Membaca ‘Rupi Kaur” dalam Tubuh Pacar Gelap Puisi 26 Sep 2016 19:30

Article image
Buku Pacar Gelap Puisi, karya Bara Pattyradja. (Foto: Ist)
Hal paling menarik yang menjadi nilai lebih dari buku ini, ketika menyinggung soal eksistensi perempuan di desa dengan latar budaya yang kuat seperti tercermin dalam tiga puisi “Barek, Siti, Tuto”.

Oleh Santi Sima Gama 

---

Judul Buku: Pacar gelap Puisi

Pengarang: Bara Pattyradja

Penerbit: Cenale Nusantara

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Tebal Buku: 126 Halaman

---

Puisi merupakan medium pendek ekspresi yang bebas. Cukup banyak penyair Indonesia yang populer dengan karya-karya besar dan nama mereka tidak asing lagi di telinga para penikmat puisi. Sekilas melirik ke belahan timur Indonesia, di sana telah lahir penyair-penyair muda dengan gaya bahasa yang khas.

Satu di antara sekian banyak penyair adalah Bara Pattyradja Penyair muda ini telah menerbitkan lagi karya terbaru, buku puisi ke-4 berjudul Pacar Gelap Puisi”. Dalam buku ini tergores 38 puisi dengan diksi yang lugas dan sublim. Sebagai pembuka awal buku ini diberi pengantar oleh pengamat sastra yang berdomisili di Mumbai. Dalam kacamata sebagai pengamat, puisi dilukiskan sebagai interupsi ingatan akan dimensi gelap eksistensi manusia.

Puisi pertama berjudul “Pacar Gelap Puisi” dipilih sebagai judul utama buku. Bara jujur menggambarkan semua peristiwa hidup dengan kekuatan emosi bahasa, bentuk protes terhadap sebuah relasi yang penuh konflik batin. Namun, ia mendapat ketenangan jiwa ketika menuangkan perasaan dalam lembaran-lembaran puisi dengan kebeningan kata.

Bara bisa memainkan peran yang berbeda pada satu pribadi. 38 puisi diwarnainya dengan kritik-kritik yang elegan menghantam nurani siapa pun yang membacanya. Gambaran tentang kehidupan seorang penyair bisa kita temukan dalam lintasan puisi di buku ini.

Salah satu hal menarik yang menjadi nilai lebih dari buku ini adalah kepekaan jiwa Bara untuk menyinggung soal eksistensi perempuan di desa dengan latar budaya yang kuat, seperti tercermin dalam tiga puisi “Barek, Siti, Tuto”.

Inilah sisi lain dari olah batin seorang pria yang tidak sekadar menulis puisi dengan untaian kata indah tak bernyawa.

Dalam buku puisi ini, setiap kisah mewakili kaum perempuan yang pasrah menerima nasibnya sebagai second sex tanpa keluhan. Tidak semua penyair pria yang mampu memposisikan diri mereka sebagai kaum hawa yang tertindas. Pada umumnya penulis dan penyair perempuan yang lebih tajam bersuara untuk peduli pada sesama kaumnya. Di sinilah, saya melihat ada sosok “Rupi Kaur” penyair perempuan asal India-Kanada sedang bersuara membaca syair-syair puitik tentang kekerasan, pelecehan dan feminisme. Sebagai perempuan saya sering mengatakan, “Woman only has nice feeling of pure humanity”, tapi ungkapan ini saya mentahkan setelah membaca puisi-puisi Bara yang terungkap dalam tiga wajah perempuan “Barek, Siti, Tuto”. Sosok-sosok perempuan berjiwa tangguh ditempa oleh kerasnya kehidupan tergambar dalam beberapa puisi dalam buku ini.

Membaca tak sekadar membaca dua karya penyair dengan latar budaya beda, antara Rupi Kaur dan Bara Pattyradja memiliki satu pandangan soal perempuan. Meski diksi mereka berbeda namun tersirat pesan sama dan mendalam bagi kaum perempuan tidak hanya di India, tidak hanya di Indonesia, tetapi dalam jangkauan yang lebih luas di setiap sudut bumi. Jika Rupi Kaur tegak berdiri menentang kekerasan terhadap perempuan, Bara Pattyradja menunduk tumpahkan semua hasrat prihatin terhadap kaum perempuan di desanya. Isu-isu feminisme masih menjadi isu menarik, karena tidak hanya membicarakan soal perempuan tetapi ada dua wajah manusia “laki-laki dan perempuan” setara sebagai makhluk Tuhan yang berakal budi. Buku “Pacar Gelap Puisi” juga merupakan simbol karya yang menyentil ketidakadilan para kaum elite berdasi tidak memiliki sikap egaliter. Bahwa hidup tidak lagi memiliki nilai, ketika manusia lupa ia hanya titipan Tuhan.

 

*) Kontributor IndonesiaSatu.co Yogyakarta, Pegiat Literasi - Sanata Dharma Yogyakarta

 

Komentar