Breaking News

POLITIK Membuka Tabir GARIS, Kelompok Pro ISIS Pada Aksi 22 Mei 23 May 2019 17:18

Article image
Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat kampanye di Cianjur. (Foto: pojoksatu.id)
Ketua umum GARIS Chep Hermawan beberapa tahun lalu pernah menyebut diri sebagai presiden ISIS Regional Indonesia. Dia juga pernah mengaku memberangkatkan 156 orang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

MABES Polri akhirnya mengungkap kelompok garis keras yang menunggangi aksi 21-22 Mei 2019 yang berakhir ricuh.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen M. Iqbal dalam konferensi pers di Menko Polhukam, Kamis (23/5/2019) menyebut Gerakan Reformasi Islam (GARIS) yang berafiliasi dengan organisasi teroris ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) adalah kelompok yang menunggangi aksi tersebut.

"Kami temukan 2 tersangka dari luar Jakarta yang terafiliasi dengan kelompok GARIS yang terafiliasi dengan kelompok- kelompok tertentu," ujar Iqbal.

Iqbal mengatakan, GARIS memang berniat berjihad pada aksi unjuk rasa 21-22 Mei.

"Sama-sama kita tahu bahwa kelompok GARIS ini pernah menyatakan, membuat statement sebagai pendukung ISIS Indonesia. Dan mereka sudah mengirimkan kadernya ke Suriah," tuturnya.

"Hal ini penting saya sampaikan kepada publik bahwa fix (valid) ada kelompok-kelompok penunggang kegiatan unjuk rasa ini dari berbagai kelompok," ujarnya.

Ketua umum GARIS Chep Hermawan beberapa tahun lalu pernah menyebut diri sebagai presiden ISIS Regional Indonesia. Dia juga pernah mengaku memberangkatkan 156 orang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Salah satu pentolan yang turut diberangkatkan ke Suriah adalah Bachrumsyah atau yang dikenal sebagai Abu Muhammad Al Indonesia. Bachrumsyah tercatat sebagai anak buah Santoso gembong teroris Poso yang mati tertembak 2016 lalu. Bachrumsyah yang disebut menjabat komandan pasukan, juga dikabarkan tewas di Suriah 2018 lalu.

 

GARIS dan Prabowo

Nama Chep Hermawan kembali mencuat lantaran mobilnya yang bernomor polisi  B 264 RIS digunakan Capres 02 Prabowo Subianto saat berkampanye di Cianjur beberapa waktu lalu.

Mohammad Mustain dalam artikelnya berjudul “Sinergi Prabowo dan Islam Garis Keras”, menulis, boleh saja jubir BPN Prabowo-Sandi menyebut urusan kendaraan itu urusan relawan di Cianjur. Artinya, soal pengadaan mobil itu bukan urusan Prabowo. 

“Pembelaan semacam itu bisa saja benar. Namun, persoalannya menjadi tidak sesederhana itu mengingat mobil yang akan dikendarai seorang capres tentu telah melalui serangkaian pengecekan. Bukan sekadar terkait kelaikan kendaraan, namun tentunya juga siapa pemilik mobil itu” (Kompasiana, 14 Maret 2019) . 

Chep Hermawan mengakui tugas menyediakan kendaraan untuk Prabowo dilakukannya sebagai bentuk dukungan kepada Prabowo. Dia menyebut dirinya tidak punya hubungan khusus dengan Prabowo. 

“Namun bahwa ormas GARIS dikenal sebagai kelompok Islam garis keras memang juga fakta yang sulit dihapus. Bahkan, empat anggota ormas ini pernah ditangkap Tim Densus 88 Antiteror karena berencana menyerang dua kantor polsek di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota dan Cianjur, Juli 2017 lalu. 

--- Simon Leya

Komentar