Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

TAJUK Solidaritas di Zaman Post-Truth 06 Nov 2017 08:26

Article image
Solidaritas penting diwujudkan dalam hidup bersama. (Foto: Ist)
Solidaritas menggunakan kekuatan naratif-persuasif, bukan teoretis-argumentatif. Solidaritas bukan teori, tapi aksi nyata membantu orang lain lepas dari kesulitannya.

RASA solider penting diwujudkan dalam hidup bersama, bahkan solidaritas dapat menciptakan sebuah komuntas hidup bersama yang demokratis. Di tengah fakta multikultural, berkembangnya era post-truth yang ditandai leburnya fakta objektif (objective facts) dan kabar tipuan (fake news/), ujaran kebencian dan penguatan identitas komunal, atau menguatnya ideologi ideologis yang mengklaim absolutas, ataupun melemahnya nilai-nilai moralitas tradisional, solidaritas yang didasari motif etis menghindari kekejaman dapat menjadi satu alternatif-solutif membangun hidup bersama.

Solidaritas berkaitan dengan rasa, kepekaan yang spontan. Manusia menciptakan solidaritas dalam komunitas historis. Solidaritas diciptakan melalui praktik sosial, bukan penemuan saintifik. Dalam hidup bersama, rasa solider meluas kepada sesama anggota komunitas sebagai “kita” (us) yang dapat menjadi pelaku penderitaan ataupun korban penderitaan.

Imajinasi dan kepekaan terhadap potensi dan aktualitas penderitaan orang lain sebagai “kita” menciptakan solidaritas. Solidaritas akan menggerakkan anggota komunitas untuk mengatasi penderitaan.

Manusia tidak dapat mewujudkan solidaritas jika tetap bersikukuh mendasarkan diri dalam cara berpikir kognitif-rasional. Tidak ada justifikasi universal-ahistoris-rasional transkomunitas yang dapat menjadi patokan bersama. Solidaritas tidak berurusan dengan pencarian tentang sifat dasar atau hakikat pengertian normatif seperti “Kebenaran”, “Kebaikan”, ataupun “Rasionalitas.”

Solidaritas menggunakan kekuatan naratif-persuasif, bukan teoretis-argumentatif. Dalam hidup bersama, manusia selalu diingatkan akan sifat kebetulan dari bahasa, kediriannya, ataupun pendapatnya sendiri. Solidaritas bukan teori, tapi aksi nyata membantu orang lain lepas dari kesulitannya. 

Manusia menyadari sifat kebetulan dari pendapat, tindakan dan sikapnya dalam komunitas sehingga tidak dapat mengklaim satu kebenaran mutlak. Ia selalu diwanti-wanti awasan etis untuk tidak bersikap kejam terhadap orang lain.

Ingatkan Hati Anda untuk tetap bersolider dengan yang lain. 

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar