Breaking News
  • Ledakan truk minyak di Pakistan tewaskan ratusan orang
  • Obama tinggalkan Bali menuju Yogyakarta
  • Pascalebaran harga cabai di Minahasa Rp120.000/kg
  • Presiden Jokowi terima GNPF-MUI di Istana Merdeka
  • Wapres dampingi Presiden Jokowi open house di Istana

REFLEKSI Menanam dan Memetik Kebaikan 23 Mar 2017 13:45

Article image
Semakin Anda memberi, semakin Anda diberi. (Foto: ist)
Apapun yang kita lakukan kepada sesama dan alam niscaya berbalik kepada kita. Bisa langsung saat yang sama, ataupun dalam wujud dan waktu yang berbeda.

Oleh Valens Daki-Soo

 

KISAH ini terjadi di Skotlandia. Alex sedang berjalan-jalan di pinggir danau. Tiba-tiba dia mendengar jeritan seorang pemuda yang sedang bergumul di tengah lumpur yang mengambang. Semakin kuat dia berusaha untuk keluar dari lumpur, semakin dalam tubuhnya tenggelam ke dasar danau. Dengan gagah-berani Alex yang adalah anak petani dan terbiasa bergulat melawan alam terjun ke danau untuk menyelamatkan pemuda tersebut. Alex terperangah ketika sampai di rumah pemuda tersebut. Ternyata pemuda itu adalah putra seorang bangsawan.

Beberapa saat kemudian, orang tua dari sang pemuda itu menghubungi Alex dan menawarkan sejumlah uang sebagai balas jasa. Alex menolak pemberian tersebut. Tapi ayah dari pemuda itu tetap berusaha mencari jalan untuk membantu Alex dengan cara memberikannya beasiswa. Alhasil, Alex berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga meraih gelar dokter.

Tidak hanya sampai di situ. Di saat yang hampir bersamaan pemuda bangsawan tadi ikut dalam dinas militer.  Di medan perang sang pemuda terkena luka parah yang menyebabkan dia mengalami demam tinggi karena infeksi. Kondisi pemuda bangsawan itu baru berangsur-angsur pulih setelah diberikan obat penisilin. Dan seperti kisah awal di danau, kali ini pemuda bangsawan untuk kedua kalinya diselamatkan orang yang sama, anak petani bernama lengkap Alexander Fleming, sang penemu penisilin. Sementara pemuda bangsawan kemudian menjadi Perdana Menteri Inggris yang legendaris, Winston Churchill.

Kisah Fleming dan Churchill ditulis Arthur Gladstone Keeney (1893-1955) dalam bukunya berjudul Dr. Lifesaver. Keeney adalah wartawan yang sehari-hari meliput di Kantor Informasi Perang di Florida dan Washington D.C selama Perang Dunia II. Lepas dari kontroversi soal otentisitas nilai historis dari cerita tersebut, kisah Fleming dan Churchill telah menginspirasi banyak orang di dunia.

Apapun yang kita lakukan kepada sesama dan alam niscaya berbalik kepada kita. Bisa langsung saat yang sama, ataupun dalam wujud dan waktu yang berbeda.

Ini bukan soal "Do ut des" (Latin: saya memberi supaya Anda balik memberi), tetapi ini hukum alam yang sepasti gravitasi. Artinya, pasti terjadi.

Anda ingin bukti? Setelah baca tulisan ini, cobalah duduk hening, cukup lima menit. Duduklah rileks. Kirimlah doa untuk seseorang. Bayangkan wajahnya dan mohonlah agar bahagia mengisi hatinya. Saat yang sama getaran doa (baca: cinta) Anda sampai kepadanya, dan hati Anda pun dilumuri rasa damai dan bahagia.

Orang yang suka menekan, menindas dan mengintimidasi sesama, pada waktunya menerima kembali apa yang dia suka lakukan. Sering malah dengan kadar yang lebih berat dan menyakitkan.

Misalnya, di Jakarta ini Anda merasa kuat dan hebat lalu cenderung merajalela. Balasannya bukan di Jakarta, tapi di lain tempat di mana Anda bukan apa-apa. Simaklah berita penolakan pimpinan FPI di Kalimantan, sampai tidak berani turun dari pesawat karena massa kontra FPI sudah menanti dekat tangga pesawat. Atau mobil simpatisan ormas tersebut digebuk massa di Bandung.

Contoh yang lebih 'enak': jika Anda bekerja tekun dan tulus, loyal dan jujur, berprestasi dan rendah hati, Anda pasti menuai simpati tanpa perlu jilat sana-sini. Hidupmu pun niscaya diguyur berlimpah rejeki.

Hati yang penuh kasih niscaya hanya memancarkan damai. Itulah (salah satu) tanda beriman dalam arti sejati. Itulah pula ciri pribadi yang yakin pada Daya Ilahi.

Inilah hukum emas kehidupan: semakin Anda memberi, semakin Anda diberi.

Perkataan yang Baik

Kebaikan antara lain ditabur melalui kata-kata, dan perkataan yang kuat dan panjang gemanya adalah dalam bentuk tulisan.

Itu sebabnya, seyogianya kita menulis dengan bijak dan sadar. Artinya, sebelum bertutur dan menulis kita seyogianya memikirkan dan mengandaikan dampaknya: positif atau negatif.

"Verba volant, scripta manent". Ungkapan Latin ini berarti, 'Kata-kata lisan pasti sirna. Kata-kata tertulis akan abadi'.

Andaikan setiap kita lebih banyak berbagi pikiran positif dan berita/info yang benar-faktual di medsos -- ketimbang umpatan, hujatan dan ujaran kebencian (hate speechs), itu dapat berkontribusi mencegah keruhnya situasi bangsa dan 'aura' kehidupan.

Bisa dipahami jika pemerintah berniat memblokade situs atau media daring/online yang punya 'hobi' menebar berita provokatif dan banyak bohongnya pula.

Namun, yang terpenting adalah kemampuan kita sendiri memfilter dan menentukan apa yang perlu kita baca dan mana yang mesti dibuang sebagai sampah.

"Kita adalah apa yang kita baca dan tulis."

Apa yang Anda baca turut menyumbang bagi formasi/pembentukan karakter dan mutu hidupmu. Apa yang Anda tulis bisa memantulkan kedalaman diri dan kualitas pribadimu.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

 

Komentar