Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

REFLEKSI Menari, Olahraga dan Daya Hidup 20 Jan 2017 16:15

Article image
Menari dan olahraga kardio secara rutin berguna bagi aktivitas otak dan daya seksual. (Foto: Ist)
Orang yang rajin berolahraga, hobi menari, apalagi mengolah pernapasannya dan pandai mengendalikan stres cenderung memiliki kesehatan, kemampuan dan performa seksual yang prima.

Oleh Valens Daki-Soo

 

MENGAPA seseorang suka menari?

Pertama, mungkin karena hobi yang terberi atau "given" alias genetis atau turun-temurun. 

Kedua, dia paham bahwa aktivitas menari -- seperti juga olahraga kardio semacam berenang, jalan kaki atau 'jogging' -- punya manfaat jangka panjang: mampu mencegah terlalu cepatnya kaum lansia mengalami demensia (kepikunan) dan alzheimer.

Ini bukan kata saya tetapi pakar, tingkat kebugaran sangat memengaruhi kinerja memori dan aktivitas otak.

Menurut penelitian Scott Hayes, profesor di Boston University (AS), tak peduli berapapun usia Anda, jika melakukan olahraga kardio secara rutin aktivitas otak Anda akan jauh lebih bagus ketimbang orang yang jarang berolahraga. Oleh karenanya, Hayes menganjurkan siapapun untuk memulai program olahraga rutin. Menurut dia, manfaatnya tidak hanya bagus untuk kesehatan fisik, tetapi juga sangat membantu untuk meningkatkan memori dan fungsi otak. Itu sebabnya dia sangat merekomendasikan kegiatan menari dan jalan kaki.

Sebelum hasil penelitian itu dirilis Zeenews (16/1/2017), saya pernah membaca laporan serupa -- namun saya lupa sumber persisnya -- tentang betapa bermanfaat dan bernilainya gerak badan seperti menari dan olahraga.

Orang yang suka menari dan olahraga cenderung lebih sehat, berpandangan positif, optimis menatap hidup, yakin pada potensi dan kemampuannya, percaya diri, sekaligus juga lebih sportif dalam berinteraksi dan bahkan berkompetisi.

Bonus dari kesukaan Anda menari dan olahraga adalah awet muda.

Dalam konteks kekinian, tatkala makanan cepat saji sudah merebak jadi kebiasaan banyak orang, lingkungan sudah terpapar polusi tak terkendali, air tercemar dan tak lagi sebening zaman leluhur, berbagai makanan mengandung/bersifat karsinogen (menyebabkan kanker), badan dimanjakan mobil, lift dan eskalator, lalu stressor ada di mana-mana, kita harusnya lebih aktif berolahraga.

Dalam kondisi begini, kemudaan usia Anda tidak menjamin Anda pasti sehat dan punya hidup berkualitas. Jika Anda malas bergerak atau enggan berolahraga, menari pun mungkin Anda malu, risiko terkena gangguan kardiovaskuler mengintai Anda justru pada usia muda.

Pada masa kini, penyakit degeneratif bukan lagi 'milik' orang berusia tua. Sering kita dengar anak muda yang terkena penyakit diabetes, gangguan jantung, hipertensi dan sebagainya. Jika ditelisik, hal itu sangat mungkin terkait dengan gaya hidup, pola makan, dan kebiasaan berolahraga yang diabaikan.

Kebugaran dan Daya Seksual

Dapat dikatakan, kebiasaan menari dan berolahraga dapat memantulkan seberapa kencang "daya hidup" seseorang. Pribadi yang aktif berolahraga dan energik menari biasanya memiliki gairah dan daya hidup yang tinggi.

Dari sisi lain, daya seksual pun terkait langsung dengan kebugaran fisik maupun mental-psikologis. Jadi, karena masih muda usia tidak berarti Anda otomatis punya kemampuan seksual yang prima.

Orang yang rajin berolahraga, hobi menari, apalagi mengolah pernapasannya (senam pernapasan), menjauhi rokok dan alkohol, serta pandai mengendalikan stres cenderung memiliki kesehatan yang baik, juga kemampuan dan performa seksual yang prima, berapapun usianya.

Jadi, kalau seorang pria muda lebih suka tidur-tiduran, hobi minum alkohol hingga mabuk, tak mengonsumsi makanan bergizi karena lebih suka makanan instan, malas berolahraga pula, dapat dipastikan daya seksualnya rendah. 

Lebih daripada itu, secara hormonal-fisiologis kegiatan olahraga dan menari membuat kita cenderung merasa sehat dan bahagia. Kita merasa nyaman dengan diri sendiri, lalu menjadi orang yang mudah bersyukur. Bukankah Anda merasa sulit bersyukur kalau kepala Anda terasa berat ataupun terhuyung karena hipertensi?

Orang yang gemar berolahraga dan hobi menari juga punya persepsi diri yang lebih positif. Dia lebih mudah menerima diri, bahagia dengan dirinya dan karena itu lebih mudah membahagiakan orang lain. Bagaimana Anda bisa bahagiakan orang lain jika Anda sendiri tidak "merasa" bahagia?

"Merasa" sengaja saya beri tanda petik, karena bahagia itu harus "dirasakan", artinya menyangkut afeksi dan emosi. Stabilitas emosi juga bisa dijaga dan terbantu oleh aktivitas gerak badan. Tentu saja menjadi lebih oke jika kita pun rajin berdoa, bermeditasi atau kegiatan olah batin lainnya. Selamat berolahraga, dan jangan lagi malu atau ogah menari.

Menarilah dengan gembira.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, penggemar beladiri, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri & Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar